Fenomena Per-Banned-Tan Akun FB di Trenggalek


Kita mesti bersyukur, masih ada sedikit manusia yang memang dianugerahi hobi agak nyleneh nan aneh. Hobi nyleneh ini adalah hobi yang tidak bisa dijumpai pada manusia pada umumnya. Contoh yang paling ekstrim adalah hobi membunuh.

Sindrom psikopat yang dijlentrehkan dalam bentuk menghilangkan nyawa seseorang tanpa seizin Gusti Allah ini tergolong langka. Apabila menjadi hobi, maka sedikit banyak bisa membuat resah warga se-RT, bahkan sebangsa dan negara kalau sempat diliput tipi.

Jiwa psikopat dalam diri manusia terkadang memang menjurus pada hobi belaka, tidak sampai real terlaksana. Contohnya karena semata dendam, lalu orang tiba-tiba bertindak brutal pada orang lain. Anehnya, ada banyak orang yang menjadikan dendam sebagai rutinitas.

Dulu pakdhe Sumanto sempat jadi trending topik lantaran hobi memakan daging manusia (mungkin terinspirasi oleh iklan jeruk minum jeruk). Motifnya agak lucu, yaitu pengen jadi terkenal dan kaya raya. Hasilnya memang signifikan: sekejap langsung terkenal di Indonesia. Tapi untuk kaya nya enggak, boro boro kaya, eh si pak polisi langsung menargetkan si pakdhe jadi penghuni jeruji besi. Apes dah pak Manto. Meski begitu, minimal beliaunya jadi bisa makan gratis di kerangkeng dan itu bisa masuk kategori menjadi makmur.

Seiring perkembangan jaman, ditandai dengan kian ngetrendnya medsos sekarang ini, muncullah kasus setengah baru dalam dunia maya. Kasus facebook ini lumayan ngetren di kalangan jaringan pe-rinternetan: jamaah fasbukiyah. Selama ini di Trenggalek telah banyak muncul group-group bersliweran di setiap beranda facebook. Bagi saya, ini menjadi kebudayaan baru yang punya pengaruh besar bagi perkembangan dunia komunikasi, walaupun hanya dalam tataran dunia maya.

Dari group jual beli manuk tetangga (hehe) hingga group aliansi lintas usia: ibuk-ibuk jamaah yasin, grop facebook tentang pariwisata, berujung pada group pilkada. Group baned-baned-an, atau group yang dibuat lantaran mengalami ketidak-puasan kepada admin dikarenakan tidak becus mengelola group. Terkadang group dibentuk karena ingin membuat tandingan bagi group yang pernah disinggahinya. Itulah realitas dan perkembangan dunia facebook terkini yang tiap hari tak pernah sepi dari hal-hal mengejutkan.

Lalu apa hubungannya facebuk (baca dengan lafad jawa) dengan psipkopat seperti yang tak jabarkan di atas tadi? Kok sepertinya pembahasannya jauh panggang dari api, istilahnya nyleneh dan tidak masuk akal (menurut saya wajar saja). Kalau para pembaca yang budiman tidak meletakkan emosi dan sensitivitas (baca virus sensitivisme) maka tidak bisa menemukan makna yang termaktub dalam penjelasan saya kali ini (cie cie) masalahnya ini berkaitan dengan analoginya terbalik, orang yang mudah darah tinggi dan mudah terjangkit strok harus membaca tulisan ini ditemani pakar kejiwaan, hehehehe, serem.

Dinamika perseteruan difacebook seringkali dimulai dari ide dan pendapat yang tidak sama (sebenarnya wajar) saking banyaknya anggota dan jenis-jenis pemikiran yang ada di kepala masing-masing, ditambah dengan pengalaman dalam dunia nyata maupun dalam dunia rasan-rasan akhirnya menimbulkan silang sengakrut pemaknaan ide yang mungkin saja dikeluarkan dari mulut seseorang. Terlepas apakah ucapnnya itu memang ditujukan untuk memancing, atau sekadar mengabarkan sesuatu yang benar namun terkesan sepele. Yang jelas memang kerap sekali menimbulkan kontroversi hati; antara puas dan tidak puas; antara suka dan tidak suka.

Paling-paling bagi pengikut jamah komentariyah yang berdiri paling belakang lagi punya konsep “biarlah” hanya akan tersenyum sekaligus memutuskan jaringan internetnya saja. Menganggap semua itu tidak penting, atau bagi pengikut faham clack mark akan berpikir, “ah itu tidak ada untungnya buat saya, maka saya tidak usah ikut-ikut” dan urusan perkomentaan akan berhenti begitu saja. Akan mulai lagi ketika ada yang benar-benar njarag.

Lebih kejam lagi apabila seseorang yang tidak sepemaham tadi (beda perguruan) mempunyai hak akses terhadap group yang dijadikan debat sang sopir kuda (maksudnya kusir om, hehehe) maka kamu-kamu yang suka mengeluarkan ucapan gila harus bersiap pasang kuda-kuda, kencangkan ikat pinggang, singsingkan lengan dan berusaha seikhlas mungkin menyaksikan tulisan “maaf Anda tidak bisa berkomentar di status ini, kembali ke beranda” gak perlu di refresh kawan, kamu sudah berhasil di bunuh dari group jamah facebookiyah itu. Dan inilah yang akan saya bahas, permasalahan yang sangat pelik di dunia perfacebookan, permasalahan yang tidak kenal ampun, dialah yang bernama BANNED. Apakah ini bagian dari dendam tak ketulungan atau sekadar klangenan? Minta ampun, Gusti

Sedikit banyak ini saya ambil dari kisah melankolis pengalaman teman-teman dipojok kanan bawah (mesengger) waktu habis disiksa dengan peristiwa banned. Sebagian besar mengatakan kekecewaan kepada sang admin akan keputusan yang kurang mengguntungkan baginya. Namun yang membuat saya bingung adalah ketika dalam satu group facebook terdiri dari beberapa admin dari berbagai golongan dan suku maka siapa yang akan dijadikan tersangka. Menunjuk satu persatu adalah pebuatan yang sia-sia, ibarat mencari semut putih, diatas kain kafan dibawah penerangan lampu beribu-ribu watt? :D Artinya sangat sulit dan tidak mungkin.

Saya hanya bisa memberikan wejangan pada teman-teman yang curhat tersebut agar kuat imannya supaya tidak mencoba bunuh diri di bawah pohon bayem, akhirnya dengan mencoba penuh wibawa saya pun berkata “ambil hikmahnya bro, mungkin mereka belum memahami apa arti dari maksudmu” . Dengan mengatakan itu saja sudah bisa dipastikan adanya baclink dari si pencurhat dengan kalaimat mesranya, terimakasih atas suppornya. Alhamdulillah.

Tapi tidak berhenti disitu, saya malah merasa penasaran dengan kejadian banned per banned tan itu. Benarkah para admin itu tega melakukan pembunuhan karakter kepada orang yang ingin menyuarakan pemikirannya (facebook itu memang disedikan untuk dunia perpikiran, bukan dunia aksi) rasa penasaran itu sampai saat ini telah menginspirasi saya untuk mendapatkan banned sebanyak-banyaknya namun dengan cara gagah berani dan benar. Jadi, bukan dibanned hanya karena mengirimkan gambar parno (maaf pak parno, bukan bermaksud menyangkut pautkan) ke halaman group, itu remeh beeerooo.

Pokoknya saya harus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh teman sata tersebut. Terlihat dia begitu sangat menderita karena di-banned itu. Saya juga harus merasakannya (falsafah puasa kan untuk ikut merasakan bagaimana rasanya jadi orang lapar, rasa kemanusiaan itu harus ada pada kalian apabila menyatakan diri beragama Islam). Akhirnya upaya untuk masuk ke dalam group-group yang berpotensi mendatangkan debat sopir kuda (debat kusir maksudnya) saya lakukan, sementara biar seru saya layangkan lamaran kepada group-group yang ada di kabupaten kelahiran saya tercinta, Trenggalek tidak berteman hati. Ada group fenomenal seperti Cah Nggalek, dengan segudang potensi para anggotanya yang rata-rata sang vokalis maya. Akhirnya saya ikut di sana.

Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya lamaran saya diterima dengan mulus, tanpa interview dan tes psikologis rumit. Sekali masuk sungguh luarbiasa, perdebatan mengalir secara disenggaja, mulai dari masalah politik dan agama, namun yang perang konsep yang paling manjur adalah jika berkaitan dengan agama. Orang pondok, orang sekuler, orang liberal bahkan atheis sampak penganut kejawen hadir menyuarakan konsep gagasannya. Perhelatan dan perseteruan yang ditopang dari kecepatan berpikir dan kelincahan jari menjadi tolak ukur kehebatan berdebat. Dan pastinya sama-sama tidak tahu apakah satu sama lain googling atau murni dari pikiran.

Pernah disebut seorang di dalam group itu bahwa biang kedelai (bukan keladi lho..) dari semuanya adalah dari orang yang disebut-sebut Botak (saya belum tau apa maksudnya, dalam dunia pikir saya analogikakan seperti sawah yang diserbu hama tepat di tengahnya) penasaran akhirnya kembali menyelimuti relung jiwa, siapa sebenarnya orang tersebut. Dan itu dapat kutemukan setelah berselanjar mencari foto orang-orang didalam group itu, siapa yang fotonya botak (saya menemukan tapi tidak bisa saya bilang secara gamblang). Dan asyiknya memang benar adanya, si botak sungguh lihai memerankan tokoh sengkuni dalam pewayangan, umpan-umpan yang mengandung kosakata kontroversi memang lebih banyak dari pada sekedar status, “luuur, piye kabare, nek mahmu opo udan”. Alhasil status yang kontroversial itu mesti mengundang banyak komentar (kalau dalam ilmu perfasilitatoran, orang itu sudah menguasai konsep parsipatori). Komentarnya juga banyak, menurut hemat saya ada yang benar-benar menjurus kepada postingan namun juga banyak komentar yang hanya ikut-ikutan saja.

Ternyata benar apa yang dikatakan teman mesengger saya tadi, dari situlah sebenarnya banned bermula, karena di setiap pantauan yang saya lakukan, saya banyak menemukan nama yang di tag berubah warna menjadi abu-abu (tanda dibanned dari group) rata-rata yang berkontroversi dan bertepatan dengan admin yang ngakunya tertib dan sopan. Dalam ceritaku selanjutnya saya akan mengupas bagaimana saya memberikan advokasi kepada orang-orang yang dibanned.

Cah Nggalek mungkin saja adalah sebuah awal semangat pergerakan perang konsep (yang saya tau dan yang saya ikuti) itu bisa saya buktikan dengan hadirnya group yang bernama Cah Nggalek Bebas Banned atau disebut CNBB oleh anggotanya. Dengan segala semangat yang ditelurkan dalam pembentukan group itu yang berarti Group ini adalah group yang bebas mengeluarkan inspirasinya atau isi ndasnya, motonya cukup rumit tidak ada yang bisa memenjarakan ide (kata ini sedikit pembodohan, kalau dirunut dalam prespektif materialistis, yang bisa dipenjarakan hanyalah makluk yang bisa disentuh, lain lagi dalam prespektif mistik, katan jin juga bisa di penjarakan)

The Long a Go Times  tentang awal mula perbanned tan dikalangan jamaah facebokiya dari yang sample yang saya ambil ya seperti itu, kalau masu meluruskan silahkan (saya bukan orang yang suka apatis terhadap ide dan pendapat). Kalau memandang kasus perkembangan banned di masa sekarang ini sudah jauh agak melenceng dari masa-masa awal. Kalau dulu itu lebih dimaksudkan untuk menjaga perdamaian, namun saat ini sudah seperti hobi (sang admin tidak suka groupnya di luruskan), nyuwun sewu (kalau gak ada 2000) group-group yang diciptakan sekarang ini lebih banyak di kelola kaum muda pengangguran yang membutuhkan pasokan dana (termasuk saya ini yang kekurangan dana, hehehehe) jadinya group yang mungkin sampean masuki itu tanpa sepengetahuan kalian digunakan untuk persiapan mereka dalam mencari nafkah (teori ekonomi liberal).

Contoh kasus paling real, dulu group Kecamatan Watulimo Bersatu itu adalah group ajang sapa antar anggota yang ada didalamnya, namun sungguh ironis, ternyata sekarang sudagh berubah, dari naluri sosialisme menjadi naluri kanibalisme, jadi tidak seperti dulu lagi lo, para new comers sedang mengembangkan amunisi dalam perhelatan AG 1 (BUka PAha TIngi-tingi). Dengan dalih ekonomi kreatif maka semua penghuni group akan menjadi seneng, apalagi didatangi artis, apa ndak wao itu, jarang-jarang orang nggalek kedatangan artis. Hehehe.


Masak dari group yang dulunya humanis berubah menjadi group raja-tegais.
To be continues

Disqus Comments