Masyarakat Trenggalek Penghasil Ikan Yang Jarang Makan Ikan


Obyek apa yang paling menonjol ketika sobat mendengar kata Trenggalek, khususnya Pantai Prigi (Watulimo-Trenggalek). Sebagian orang yang pernag ke Trenggalek dengan mantab akan menjawab, obyek wisata, Ikan, Durian, Manggis. Untuk obyek wisata sendiri meliputi banyak tempat, seperti Pantai dan Gua (guo lowo), namun bagi para pelancong yang sudah singgah di patai prigi dan sekitanya lebih mengingat hasil ikan ketimbang hasil lainnya.

Memang benar kawan, Prigi sudah dinobatkan sebagai Pelabuhan Nusantara terbesar di Indonesia setelah Pelabuhan nusantara Cilacap, Prigi sudah mampu menghasilkan banyak produk ikan (hasil tangkapan ikan) sehingga ikut serta dalam memenuhi kebutuhan permintaan ikan di pasar. Dengan hasil tangkapan ikan yang lumayan banyak namun memunculkan fenomena yang justru janggal, saya sebut janggal karena dengan melogikakan banyaknya hasil tangkapan ikan namun masyarakat di trenggalek sendiri masih jarang makan ikan laut. 

Membicarakan Kecamatan yang ada di Kabupaten Trenggalek memang sungguh asyik, khususnya di kecamatan watulimo tempat dimana pantai prigi berada, perolehan hasil tangkapan ikan yang ada di kecamatan watulimo tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat yang ada di Kabupaten Trenggalek. kalau mas trigus amati, orang-orang trenggalek yang berada dikota lebih sering memakan  ikan air tawar dari pada makan ikan laut, bukan karena tidak terlalu berminat untuk mengkonsumsi ikan laut, namun karena penjualan ikan laut yang diperoleh dari pantai prigi tidak memenuhi pasar yang ada di kota trenggalek.

Nah  disinilah letak kejanggalannya, jika memperhatikan kandungan gizi ikan laut tentunya tidak ada yang menyangkal bahwa kandungan ikan laut sangat dibutuhkan otak untuk menutrisinya, jaadi jangan heran kalau ada orang Trenggalek yang sering makan ikan, tingkat kecerdasannya diatas rata-rata dibandingkan dengan orang-orang trenggalek yang jarang makan ikan (ini hanya asumsi saya kawan). Mengetahui betapa pentingnya kandungan ikan laut seharusnya kita sebagai masyarakat di Trenggalek akan lebih memilih mengkonsumsi ikan laut ketimbang ikan tawar, namun seperti yang saya bilang diatas bahwa pemasaran ikan segar dikabupaten trenggalek masih sangat terbatas.

Ikan-ikan yang dihasilkan oleh nelayan Prigi ketika sampai dipelabuhan ditampung oleh pembeli besar (cukong) yang selanjutnya sebagian ikan dipindang dan sebagian dibawa keluar daerah trenggalek (mungkin ke malang atau surabaya) sedangkan untuk kebutuhan di Kabupaten Trenggalek hanya dipenuhi oleh pembeli-pembeli kecil. jadi begini kawan, hasil tangkapan ikan laut biasanya di tampiung dalam kerenjang, katakanlah disetiap kapal nelayan mendapatkan 30 kerenjang (waktu musim ikan), pemasarannya, 25 kerenjang untuk pembeli besar, dan 25 kerenjang untuk pembeli kecil (lokal). bayangkanlah situasi seperti ini tidak akan pernah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat trenggalek, temuan saya ketika berkunjung kepasar, saya akan lebih banyak menemukan penjual ikan kering (asap) dari pada penjual ikan segar, selebihnya ikan tawarlah yang banyak memenuhi bak bak tempat ikan para penjual ikan.

Ada sesuatu yang tidak beres disini, kenapa masayarakat trenggalek sebagai penghasil ikan terbesar kedua malah sulit untuk mendapatkan ikan segar dipasar? Sobat tentunya kita masih dalam naungan pemerintah, upaya pemerintah untuk memasyarakatkan ikan segar kepada masyarakat masih sangat minim, contohnya, didalam ruang pertemuan rapat atau diskusi, orang orang akan lebih mudah menemukan daging ayam dari pada ikan laut, padahal jika dinilai dari sisi kesehatan, ikan laut masih menjuarai, saya jadi berpikir, keadaan seperti ini mungkin terbangun karena ada pemahaman bahwa mengkonsumsi ikan laut segar tergolong perbuatan tidak mewah (ini hanya asumsi) sehingga trend untuk menyuguhkan ikan segar mungkin masih dibilang kolot.

Kembali lagi kemasalah pemasaran ikan khususnya diKabupaten Trenggalek, Ikan relatif tidak mempunyai masa tahan lama, ikan segar akan cepat membusuk jika tidak diawetkan (dengan es atau pengasapan), harga ikan laut ketka sedang musim ikan tidak mempunyai value jual bagus, sebaliknya jika tidak sedang musim ikan, harga ikan relatif mahal. ini sangat mempengaruhi minat penjual ikan untuk menjual ikan secara berkualitas. akhirnya ikan segar semakin sulit untuk di pasarkan, beda lagi dengan pembeli besar (cukong) ikan masih bisa d iolah melalui perebusan (pindang) dengan cara ini ikan laut meskipun tidak bisa dikatakan segar tapi mempunyai masa tahan lama. 

Dari sini saya mempunyai ide bisnis khusus untuk memasarkan ikan segar, jika saya punya uang banyak, saya ingin menciptakan bisnis penjualan ikan segar dengan memakai sepeda motor yang diberi kulkas (hehehe, sedikit modif bisa kan), dengan 10 unit motor, kemungkinan sudah bisa mengkover kebutuhan ikan segar di satu kecamatan, hehehe, ini hanya angan-angan sobat.

Ingatlah Abraham Samada (mantan ketua KPK), Jusuf Kala (Wakil Presiden), Hermanto Dardak (Mantan Wamen PU asal Trenggalek), Hari Tanu (CEO MMC Group Leluhurnya asal Durenan-Trenggalek) dan Sukarno (Sang Proklamator) adalah orang-orang yang masa kecilnya lebih banyak memakan ikan laut segar ketimbang makan daging, sehingga mereka lebih cerdas dari orang orang yang tidak memakan ikan (ini juga kira-kira). Namun sudah bisa dipastikan bahwa Memakan ikan adalah cara mudah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa).


Disqus Comments