Inilah Contoh Buruk Para Pemimpin

Gajah Pemimpin

Diharapkan setiap pemimpin berperilaku terpuji. Harapan itu seharusnya dapat dipenuhi, oleh karena tugas penting para pemimpin adalah menjadi contoh. Seorang kepala sekolah diharapkan menjadi contoh bagi para guru, karyawan, dan siswanya. Pemimpin perusahaan diharapkan menjadi contoh bagi semua karyawannya. Demikian pula para pemimpin lainnya, misalnya pemimpin perguruan tinggi, perbankan, asuransi, kepala daerah, dan seterusnya. 

Untuk menjalani kehidupan, bagi siapapun selalu membutuhkan petunjuk, nasehat, arahan, dan lebih dari itu adalah tauladan atau contoh yang bisa dijadikan pedoman sehari-hari. Kebutuhan adanya tauladan, penasehat, dan semacamnya itu diharapkan, setidaknya dapat diperoleh dari para pemimpinnya masing-masing. Oleh karena itu, tugas pemimpin bukan hanya sekedar memerintah dan memberi arahan, tetapi lebih dari itu adalah menjadi contoh atau tauladan. 

Namun pada kenyataannya tidak banyak pemimpin yang benar-benar mampu menjadi tauladan. Itulah sebabnya, pada akhir-akhir ini banyak orang menyebut bahwa telah terjadi krisis ketauladanan. Semakin banyak para pemimpin di berbagai level dan jenis telah terjebak pada konflik, perebutan kepentingan, kekuasaan, dan bahkan juga melakukan penyimpangan uang negara atau korupsi. 

Orang tua dahulu sedemikian arif dalam menjalani kehidupan. Mereka sadar betul bahwa orang tua dan para pemimpin adalah selalu dicontoh oleh bawahannya, para anak-anaknya, generasi mudanya, dan seterusnya. Menyadari hal itu, orang tua dahulu tidak mau perilakunya, jika dianggap tidak pantas, diketahui oleh sembarang orang. Banyak hal oleh para pemimpin atau orang tua dahulu yang dianggap harus dirahasiakan.

Terasa sekali, para pemimpin dan atau orang tua di zaman dahulu merasa belum cukup sekedar berbekalkan pengetahuan, tetapi juga harus memiliki sifat bijak dan atau arif. Para pemimpin tidak boleh diketahui berbuat salah atau keliru, khawatir perilakunya akan ditiru oleh bawahannya. Kekeliruan para pemimpin atau orang tua pada zaman dahulu tidak boleh diketahui oleh banyak orang agar kepercayaan dan kewibawaannya tetap terjaga.

Sikap pemimpin atau orang tua tersebut kiranya tidak sulit dimengerti. Sebab, tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika di tengah masyarakat, lembaga atau instansi apa saja, sudah tidak ada pemimpin yang dipercaya, dihormati, dan diakui kewibawaannya. Masyarakat atau kelompok yang digambarkan demikian itulah kiranya yang mengalami krisis ketauladanan. Mereka tidak merasa ada orang yang dicontoh dan atau dituakan. Pedoman hidup mereka hanya sebatas peraturan, tata tertib, atau undang-undang. Padahal manusia tidak akan cukup diatur oleh hal-hal yang bersifat formal itu. 

Berbeda dengan keadaan zaman dahulu sebagaimana dikemukakan di muka, suasana pada saat sekarang sudah berbalik. Pemimpin dinyatakan salah di muka umum dianggap hal biasa, bahkan juga diadili, dan kemudian dimasukkan ke penjara. Anak-anak dan generasi muda, ketika di sekolah diajari tentang tata krama, sopan santun, keharusan menghormati guru, pemimpin, orang tua, dan lainnya. Namun di luar sekolah, mereka mendapatkan pelajaran yang amat berbeda dan bahkan bertolak belakang. Mereka ditunjukkan tentang orang tua dan para pemimpin melakukan hal-hal yang tidak terpuji, misalnya bertengkar, berebut, saling menghujat, menjatuhkan, dan semacamnya. 

Perilaku buruk para pemimpin tersebut tidak dirahasiakan, melainkan sebaliknya, justru disiarkan melalui berbagai media, baik televisi, media sosial, koran, video, dan lain-lain. Menyiarkan keburukan perilaku seseorang, tidak terkecuali para orang tua, guru, dan pemimpinnya dianggap tidak membahayakan terhadap pendidikan anak, bahkan anehnya dianggap membawa manfaat. Keadaan seperti digambarkan itu, jika dibandingkan dengan apa yang dipegangi oleh orang tua dahulu, sudah sangat bertolak belakang. Terasa sekali, sudah seperti hidup pada zaman jahiliyah. 

Orang tua atau pemimpin pada zaman dahulu, tatkala membicarakan sesuatu yang dianggap urgen atau penting, tetapi dirasa tidak perlu diketahui oleh orang lain dan apalagi anak-anak, maka dilakukan pada waktu atau tempat tertentu. Itulah sikap bijak atau arif yang selalu dijaga. Lewat cara itu, maka suasana saling percaya, saling menghormati, dan menghargai masih bisa dinikmati. 

Pada saat sekarang ini, siapapun sedemikian mudah menyaksikan para pemimpin bertengkar, berebut, saling menghujat, menjatuhkan, dan lain-lain yang lebih buruk dari itu. Mempertontonkan sesuatu yang sebenarnya tidak patut sudah dianggap sebagai hal biasa. Itulah contoh buruk dari para pemimpin yang sehari-hari secara bebas dan terbuka ditunjukkan kepada anak-anak dan generasi muda. Di tengah keadaan seperti itu, para guru diajak berbicara tentang pendidikan karakter. Penting, tetapi sulit digambarkan hasilnya. Wallahu a’lam. (Prof. Dr. H Imam Suprayogo)

Baca juga: Pemimpin buruk dipilih oleh masyarakat yang buruk

Disqus Comments