Kehadiran Pemimpin Bangsa Berjiwa Entrepreneur

Kehadiran Pemimpin Bangsa Berjiwa Entrepreneur

Semestinya bangsa ini bersyukur, memiliki presiden dan wakil presiden yang berlatar belakang entrepreneur. Presiden Joko Widodo atau Jokowi pernah menjadi pedagang meubel sukses. Mantan Gubernur DKI ini pernah berhasil memasarkan hasil kerajinan kayu hingga ke berbagai negara, dan sukses. Artinya, Pak Jokowi memiliki pengalaman kerja sebagai wirausaha.

Demikian pula wakil presiden, Yusuf Kalla. Siapapun tahu bahwa tokoh kelahiran Sulawesi Selatan itu adalah juga orang sukses dalam berwirausaha. Dia dikenal sebagai seorang saudagar papan atas di negeri ini. Oleh karena itu, bangsa ini bukan sedang dipimpin oleh tentara, bangsawan, atau birokrat, melainkan oleh orang yang berjiwa kewirausahaan. 

Sejak beberapa tahun yang lalu, semangat mengembangkan jiwa kewirausahaan di negeri ini sangat tinggi. Disebut-sebuit bahwa untuk memperbaiki perekonomian bangsa ini harus ditempuh melalui pengembangan kewirausahaan. Generasi muda harus didorong agar menjadi wirausahawan, dan bukan menjadi birokrat atau pegawai negeri. 

Disebutkan bahwa, perekonomian bangsa ini tidak cepat maju oleh karena prosesntase orang yang bekerja sebagai entrepreneur masih sangat rendah. Keadaan yang ada selama ini jika dibandingkan dengan jumlah wirausaha di beberapa negara maju, masih sangat kecil. Itulah sebabnya, gerakan membangun jiwa entrepreneurshif digalakkan di mana-mana. Melalui strategi itu diharapkan mampu mengatasi jumlah pengangguran yang semakin meningkat. 
Sejak beberapa tahun yang lalu, semangat mengembangkan jiwa kewirausahaan di negeri ini sangat tinggi.
BACA JUGA:  Resiko Berbohong Menurut Prof. Dr. H. Imam Suprayogo
Menjadi terasa aneh, bangsa yang dipimpin oleh orang yang berjiwa entrepreneur justru lebih terasa birokratis. Akibatnya, penyerapan anggaran pemerintah saja dirasakan menjadi lambat. Keadaan yang kurang menggembirakan itu bukan terjadi di satu atau dua kementerian, melainkan di berbagai kementerian yang ada. Diduga, penyebab keterlambatan itu adalah karena semua pejabat merasa takut dan harus berhati-hati dalam mencairkan anggaran. Sebab jika dianggap menyimpang atau menyalahi prosedur maka resikonya sedemikian berat, yaitu dianggap korupsi dan akhirnya dipenjara. 

Pengertian korupsi ternyata juga sedemikian luas. Penggunaan anggaran yang tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, maka dianggap melakukan kesalahan dan bisa dituntut di pengadilan. Sekalipun seorang pejabat tidak mengambil uang negara, akan tetapi jika apa yang dilakukan itu menyalahi prosedur dan ternyata menguntungkan orang lain atau lembaga, maka yang bersangkutan dianggap korupsi dan harus dipenjarakan.  

Sudah menjadi rumus bahwa, kehati-hatian yang berlebihan sekedar memenuhi prosedur, pasti mengakibatkan gerak tidak cepat, tidak lincah, tidak efisen, dan bahkan biayanya menjadi sangat mahal. Itulah di antara sebabnya, apa saja yang dilakukan oleh birokrasi pemerintah atau lazim disebut birokrasi mesin, selain mahal juga geraknya menjadi lambat. Orang cerdas biasanya tidak betah berada pada suasana birokrasi mesin seperti itu.

Sangat berbeda dengan tuntutan cara kerja birokrat, adalah cara entrepreneur. Para pengusaha atau kewirausahaan biasanya kaya strategi, siasat, dan atau terobosan. Dengan menempuh kebiasaan seperi itu, maka para entrepreneur menjadi lebih lincah, cepat, murah, dan akhirnya memperoleh keuntungan. Bermodalkan kelincahannya itu seorang entrepreneur, manakala ada peluang bisnis yang menguntungkan, maka tidak mengenal waktu dan keadaan, mereka segera manfaatkan peluang itu.

Hal tersebut tidak mungkin dilakukan oleh para birokrat pemerintah. Sekalipun ada peluang yang sebenarnya sangat menguntungkan, sebagai birokrat yang baik, maka harus melihat-lihat terlebih dahulu, yaitu apakah aturannya memungkinkan, waktunya cukup, dan masih harus mengadakan rapat berkali-kali. Akibatnya, momentumnya sudah lewat, sementara itu keputusannya belum berhasil dibuat. Sebagai akibat lainnya lagi, anggarannya menjadi hangus. Itulah gambaran cara kerja birokrasi pemerintah.

Terasa ironis, pemimpin bangsa yang berjiwa entrepreneur tetapi ternyata belum segera mengubah birokrasinya menjadi bernuansa entrepreneur. Padahal, agar pembangunan bisa berjalan cepat, birokrasi yang bersifat kaku, lamban, dan mahal itu seharusnya diubah menjadi entrepreneurship birokrasi. Umpama konsep dimaksudkan itu dikembangkan oleh pemimpin bangsa yang berjiwa entrepreneur sekarang ini, maka peluang maju negeri ini terbuka luas. Jargon yang dikemukakan presiden Jokowi sedemikian bagus, yaitu kerja, kerja dan kerja. Selain itu, beliau juga mengingatkan betapa pentingnya revolusi mental. 

Namun sayangnya, birokrasi pemerintahan yang dijalankan selama ini justru semakin ketat dan kaku, akibatnya para pejabat sulit bergerak karena ketakutan, sehingga mengakibatkan serapan anggaran pemerintah menjadi lamban. Anehnya lagi, ketakutan menggunakan anggaran itu juga terjadi di kalangan rektor perguruan tinggi negeri. Bisa dibayangkan, jika rektor saja sudah ketakutan, maka apalagi pemimpin instansi lainnya. Maka, apabila birokrasi mesin seperti ini tetap dipertahankan, maka bisa dipastikan kemajuan akan sangat sulit diraih, karena orang takut mengambil keputusan dan bergerak. Memang, terasa aneh, presiden dan wakil presiden berjiwa entrepreneur, tetapi birokrasinya kaku. Terasa sangat kontradiktif. Wallahu a’lam. (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo)

Disqus Comments