Dari Bambu Runcing Sampai Bendera Merah Putih

Dari Bambu Runcing Sampai Bendera Merah Putih

Sebelum menaikkan bendera merah putih berkibar di angkasa, saya menikmati lakon film yang bertema kemerdekaan di salah satu Televisi. Film yang berjudul Darah Juang ini mengingatkan kembali pada para pahlawan kita, yang tempur di medan perang ketika itu. Para pejuang kemerdekaan dahulu mempertahankan kedudukan Indonesia dari para penjajah, dengan segenap tumpah darah Indonesia. Tanpa ada balasan, atau pencitraan. Balasan hanya untuk kemerdekaan segenap warga negara Indonesia dari serbuan kolonial Belanda.

Mereka berjuang demi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan atas nama rakyat Indonesia. Mereka mempertahankan kemerdekaan ini tidak dimodali dengan peralatan perang (alutsista) modern seperti sekarang ini. Namun tanpa kita sadari, Alutsista mereka ketika itu, tidak seperti sekarang ini. Alutsista mereka hanya sepotong bambu dari kebun belakang rumah.

Ya, bambu yang diruncingkan ujungnya. Oleh karena itu, terkenallah bambu runcing sebagai simbol perlawanan, keberanian dan kekuatan. Bambu runcing adalah sebuah senjata yang terbuat dari bahan baku bambu yang diruncingkan. Bambu runcing ini didesain khusus untuk melumpuhkan dan membunuh para penjajah. Senjata ini dahulu konon digunakan oleh bangsa Indonesia sebagai alat perlawanan melawan penjajahan kolonialis Belanda.

Salah satu tokohnya yaitu K.H. Subchi dari Parakan, Temanggung yang dikenal dengan gelar Jenderal Bambu Runcing. Ia merupakan salah satu pencetus bambu runcing sebagai alat alternatif melawan musuh. Ia juga sebagai penasehat BMT (Barisan Muslimin Temanggung) yang kemudian dikenal menjadi Barisan Bambu Runcing.

Senjata Bambu Runcing digunakan sebagai alat perjuangan, berangkat dari ketiadaan, kekurangan peralatan perang yang tersedia, sementara perjuangan harus dilanjutkan terutama setelah Indonesia merdeka. Musuh Indonesia setelah proklamasi menjadi sangat banyak dan dengan kekuatan besar, Jepang yang masih bercokol, Belanda yang ingin menguasai lagi dan Sekutu yang juga akan menjajah menggantikan Jepang dan Belanda. Maka praktis, keperluan persenjataan yang dibutuhkan. Bambu Runcing dan peralatan tradisional lain menjadi alternatif, murah dan bersifat massal. Kekuatan doa menjadi faktor utama kekuatan alat-alat tradisional tersebut.

Namun, sekarang, bagi mereka, para pemuda itu membawa bambu runcing atau pentungan untuk aksi yang tidak mencerminkan perjuangan. Mereka malah memusuhi saudaranya sendiri. Melafalkan "Allahu Akbar!" dengan mengacungkan tongkat dan bambu untuk merusak fasilitas warga sekitar. Menggunakan tongkat dan bambu untuk melegalkan aksi-aksi kebrutalan. Sangat ironis, kawan!

Padahal, kita tahu, ketika Bung Tomo berjuang di Surabaya bersama pemuda setempat, saya kira juga membawa bambu runcing. Ketika mempekikkan Sumpah Pemuda, dan berteriak Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka! Dengan lantang, para pejuang, termasuk para arek Suroboyo, yang tergabung dalam pemuda nusantara, membela negeri untuk melawan kaum kolonial Belanda.

Bambu runcing merupakan warisan leluhur, yang didesain khusus untuk melawan musuh. Bambu runcing juga alat identitas sebuah negara sebesar Indonesia ini, hanya Indonesia yang memiliki senjata ampuh dari bambu. Barangkali, negara-negara lain tidak menggunakan alat alternatif ini. Dengan bambu saja rakyat Indonesia mampu mempertahankan kedaulatan negara, apalagi dengan alat modern sekarang ini, tidak mustahil, Ganyang Malaysia.

Merdeka!
Sang saka merah putih telah berkibar di angkasa pura. Itu artinya, masyarakat Indonesia, bahkan warga negara Indonesia yang ada di penjuru dunia, juga merayakan ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Dirgarahayu Republik Indonesia, yang ke-70.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka! Dengan lantang, para pejuang, termasuk para arek Suroboyo, yang tergabung dalam pemuda nusantara, membela negeri untuk melawan kaum kolonial Belanda.

Bendera merah putih memiliki makna yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh warga negara Indonesia. Merah artinya berani, putih artinya suci. Bendera merupakan salah satu lambang negara yang menjadi identitas suatu bangsa. Dan untung bagi kita, yang memiliki dua warna bendera. Bagaimana jadinya, apabila bendera kita seperti Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, dan negara-negara lain. Ketika kita melaksanakan upacara bendera, bagaimana sang komandan upacara menyebutkan penghormatan kepada bendera negara? Sudah pasti akan belepotan, dan terlalu panjang. Pun menyita waktu. Dan, untungnya, kita memiliki dua warna bendera, yakni sang saka merah putih.

Misal, "kepada sang merah putih, hormat, graaaakkk!". Kalau bendera kita, Amerika, bagaimana komandan upacara? " Kepada sang merah, putih, biru, bintang-bintang, hormat, graaaakkkkk!". Sudah lama, belepotan lagi, wah gak deh! Oleh karena itu, bendera Indonesia memang bendera khususnya untuk NKRI, meski beberapa negara memiliki warna, yang menyerupai namun tak sama. Bendera Republik Indonesia mencerminkan kegagahan dan keberanian melawan penjajah. Untuk itu, sekali merdeka tetap merdeka! Merdeka!

Disqus Comments