Bukan Hanya Manusia, Kucing Ternyata Bisa Melakukan Observasi

kusing melakukan observasi

Jangan mengira bahwa yang bisa melakukan observasi hanya mahasiswa dan juga para ilmuwan. Padahal ternyata, kucing saja juga mampu melakukannya. Siapa saja yang mau melihat, memperhatikan, dan bahkan menganilisis sesuatu maka akan menjadi cerdas, atau setidak-tidaknya akan memperoleh keuntungan dari kegiatannya itu.

Di rumah saya sekalipun tidak dirawat secara sungguh-sunguh, terdapat beberapa ekor kucing. Saya tidak tahu dari mana asal muasal kucing itu. Beberapa kali beranak hingga beberapa ekor, tetapi anehnya tidak lama kemudian, ——-entah kemana, anaknya pergi, sehingga populasi kucing di rumah tidak bertambah.

Saya tidak terlalu peduli dengan kucing, tetapi ada satu hal yang saya perhatikan, yaitu bahwa ternyata kucing mampu menggunakan pengalamannya. Bahkan, binatang itu ternyata juga mampu melakukan observasi sekalipun pada tingkat sederhana. Sekedar didorong untuk mendapatkan makanan, ternyata kucing berhasil melakukan sesuatu yang semestinya hanya bisa dilakukan oleh makhluk berakal, yaitu manusia. 

Dalam hal menangkap tikus, kucing memang memiliki kemampuan lebih. Tetapi ternyata kucing juga mengembangkan pengetahuannya lewat pengalaman dan juga observasi. Ketika kucing melakukan sesuatu yang tidak dibolehkan dan kemudian dihukum, ——-dipukul misalnya, maka pada saat mengulangsi perbuatannya itu tampak sangat berhati-hati, khawatir mendapat hukuman yang sama. 

Kucing yang ada di rumah, biasanya berdiam di dekat pintu keluar masuk bagian belakang rumah. Semula saya tidak mengira bahwa kucing itu peduli dengan apa yang terjadi pada lingkungannya. Namun setelah sekian lama, binatang yang kelihatan jinak itu, ternyata mampu membuka pintu yang sedang tertutup, asalkan tidak terkunci.

Kemampuan kucing membuka pintu dimaksud rupanya diperoleh dari hasil observasi yang sekian lama dilakukan. Rupanya, binatang yang seringkali berada di samping pintu itu sengaja sedang melakukan observasi tentang cara membuka pintu. Setelah sekian lama, usaha kucing itu berhasil, mampu membukanya.

Cerita dalam tulisan ini memang sederhana, yaitu hanya terkait dengan kehidupan kucing. Akan tetapi, menjadi tidak sederhana ketika dibandingkan dengan kehidupan manusia. Semua orang memiliki potensi kecerdasan yang luar biasa. Akan tetapi oleh karena kurang dikembangkan secara maksimal, maka potensi itu tidak banyak manfaatnya.   

Orang yang hidup miskin, adalah oleh karena mereka tidak mau menggunakan pengalaman dan juga tidak mau melakukan observasi, Akibatnya, sepanjang umurnya tetap miskin. Padahal, potensi untuk keluar dari keadaan yang tidak menyenangkan itu cukup terbuka luas. Banyak pelajaran yang menunjukkan bahwa, siapapun yang malas dan hanya bekerja apa adanya akan berakibat miskin. Tetapi itulah yang sehari-hari mereka lakukan. 

Kebiasaan malas menggunakan pengalaman dan juga melihat keadaan lingkungan juga terjadi di kalangan orang-orang terdidik sekalipun. Banyak orang sehari-hari melihat bahwa, belajar bahasa asing di sekolah-sekolah dan bahkan di kampus-kampus yang hanya dilakukan dengan cara-cara konvensional tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi ternyata, cara itu masih diulang-ulang pada setiap tahun. Contoh lain bahwa, model pendidikan yang selama ini dijalankan hanya menghasilkan pengangguran. Namun juga begitu, ternyata pendekatan itu masih terus diulang dan tidak berani melakukan perubahan. 

Tulisan ini bukan bermaksud membandingkan antara kucing dan manusia, dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa ternyata kucing lebih unggul. Bukan begitu maksudnya. Manusia masih tetap unggul sepanjang mereka menggunakan akal dan hatinya. Namun memang aneh, ternyata ada saja manusia yang tidak mau menggunakan pengalaman dan pengetahuannya. Ada saja yang terlalu malas, sehingga keadaannya dikalahkan oleh kucing, tidak saja dalam hal menangkap tikus, tetapi juga dalam menggunakan pengalaman dan bahkan kemampuan dalam melakukan observasi. Wallahu a’lam. (Prof. Dr. H Imam Suprayogo)

Disqus Comments