Dahsyatnya Kebiasaan Bagi Kehidupan Seseorang

Dahsyatnya Kebiasaan Bagi Kehidupan Seseorang

Dahsyatnya Kebiasaan. Orang yang biasa menyanyi, maka lama kelamaan akan menjadi jago menyanyi, orang yang biasa berlatih olah raga, maka akan hebat dalam berolah raga, orang yang terbiasa membongkar-bongkar mesin, maka akan menguasai seluk beluk permesinan, dan seterusnya. Bahkan ada orang yang sudah sangat tua masih bisa memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Ternyata, orang tua dimaksud sehari-hari suka menjahit dan karena itu harus memasukkan benang ke lubang jarum.

Demikian juga seorang petani di pegunungan, oleh karena sehari-hari menanam dan mengurus tanaman sayur, maka ia sangat mengerti tentang sayur. Berbagai jenis sayur deketahui dengan baik, bermacam-macam pupuk, saat harus menyiangi, memanen, bahkan harga sayur yang berubah-ubah setiap saat juga diketahui. Dia tidak pernah sekolah pertanian, sedangkan pengetahuannya tentang sayur diperoleh dari kebiasannya menanam sayur itu.


Sudah cukup lama dikeluhkan bahwa lulusan pendidikan di negeri kita ini belum bisa dibanggakan kualitasnya. Tidak sedikit sarjana pertanian yang tidak mengerti dan mampu bertani, sarjana peternakan tidak mahir berternak, sarjana hukum disebut tidak paham keadilan, sarjana pendidikan tidak mampu menjadi guru, sarjana ekonomi tetap miskin dan tidak memiliki pekerjaan, dan seterusnya. Kualitas hasil pendidikan yang redah itu mengakibatkan banyak sarjana menganggur, atau sementara orang menyebutnya pengangguran intelektual.

Kenyataan seperti itu bisa jadi disebabkan oleh pendekatan pembelajaran di sekolah yang kurang tepat. Para siswa tidak dibiasakan untuk melakukan sesuatu yang memang dibutuhkan dalam hidupnya kelak, melainkan hanya sekedar diajak memahami buku teks yang belum tentu sesuai dengan kenyataan di masyarakat. Dan, lebih celaka lagi, tatkala para siswa mempelajari buku dimaksud hanya sekedar diorientasikan agar mereka memahami dan menghayati isi buku yang dibaca itu, agar kelak bisa menjawab soal ujian yang akan diberikan.Mereka mengetahui bahwa seseorang dinyatakan lulus jika berhasil menghafal isi buku yang diharuskan dibaca itu.

Jika demikian itu yang terjadi maka pantas, setelah lulus dari berbagai jenjang pendidikan, seseorang tetap tidak kelihatan keahliannya kecuali gelar yang disandangnya. Pahal belajar apa saja terutama terkait dengan keahlian, maka yang diperlukan adalah pembiasaan. Seorang yang diharapkan menjadi ahli peternakan, maka seharusnya dibiasakan mengurusi ternak. Selain itu, agar-benar-benar menjadi ahli di bidangnya itu, maka disediakan laboratorium, perpustakaan, dan para pembimbing yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya.

Demikian juga seorang yang diharapkan menjadi ahli pertanian, perikanan, lukis, bisnis, dan lain-lain harus dibiasakan menggeluti di masing-masing bidang itu. Selain itu, belajar harus kepada ahlinya. Belajar pertanian misalnya, seharusnya kepada orang yang berkeahlian pertanian, dan bukan sekedar kepada orang yang telah banyak membaca buku-buku tentang pertanian. Memang, buku biasanya ditulis dari hasil pengamatan dan juga hasil uji coba di laboratorium. Akan tetapi tidak semua hasil kajian itu pasti sama dengan kenyataan di lapangan yang sebenarnya. Selain itu, pembiasaan kerja terkait tanam-menanan dalam waktu lama akan membentuk jiwa bertani yang hal itu sangat diperlukan bagi seorang yang disebut sebagai berkeahlian pertanian.

Sebenarnya sudah lama dirasakan bahwa hasil pendidikan di negeri ini tidak sesuai dengan kebutuhan di masyarakat. Akan tetapi, sesuatu yang dirasakan kurang menggembirakan tersebut ternyata belum diperoleh jalan keluarnya. Setiap tahun banyak lulusan dari lembaga pendidikan dan bahkan juga dari perguruan tinggi menganggur, tetapi juga belum ditemukan jalan keluar yang tepat. Akibatnya, pengangguran semakin besar jumlahnya. Ternyata pendidikan belum berhasil menjawab persoalan mendasar dan bahkan sebaliknya justru menjadi beban.

Perilaku orang dibentuk oleh pembiasaan. Seseorang yang biasanya menganggur maka akan menjadi enak ketika menganggur, terbiasa diberi akan menjadi suka ketika diberi, terbiasa mengeluh maka sehari-hari akan mengeluh. Sebaliknya, jika seseorang terbiasa bekerja maka akan menjadi tidak enak jika menganggur atau tidak bekerja. Jika seseorang terbiasa bangun pagi, maka akan menjadi tidak nyaman ketika bangun kesiangan. Oleh karena itu, pendidikan semestinya membangun kebiasaan itu. Pembiasaan itulah yang membentuk perilaku. Maka, para siswa seharusnya dibiasakan berpikir dan bekerja atau melakukan sesuatu sesuai dengan keahlian yang ingin dibentuk. Jika demikian itu yang dikehendaki, maka pendidikan yang selama ini dijalankan harus diformulasi kembali, disesuaikan dengan tuntutan zaman. Wallahu a’lam (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo; Pembiasaan Itu Dahsyad)

Disqus Comments