Islam Nusantara Dan Islam Berkemajuan

Islam Nusantara Dan Islam Berkemajuan

Islam Nusantara Dan Islam Berkemajuan. Dalam waktu yang nyaris bersamaan, kedua organisasi besar keagamaan, yaitu NU dan Muhammadiyah, pada awal Agustus 2015, menyelenggarakan muktamar. NU di Jombang, sementara itu Muhammadiyah di Makassar. Muktamar dengan mengambil waktu yang hampir bersamaan itu sebenarnya tidak pernah terjadi, kecuali pada tahun ini. 

Apakah oleh karena situasi politik atau apa lagi, ternyata gema pelaksanaan muktamar tersebut tidak terasa terlalu semarak. Gema kegiatan organisasi keagamaan tingkat nasional itu seolah-olah masih kalah dibanding wacana tentang hisab dan rukyah menjelang puasa dan idul fitri. Jika diprediksi akan terjadi perbedaan penentuan awal puasa dan atau idul fitri, maka jauh-iauh sebelumnya, ramai sekali orang memperbincangkannya. 

Ramainya perbincangan tentang perbedaan awal puasa dan hari raya itu, seolah-olah orang ingin berteriak sekeras-kerasnya bahwa hal itu sebenarnya sudah tidak perlu lagi. Bersatu jauh lebih baik dibanding harus memelihara perberbedaan. Islam menghendaki adanya persatuan. Tuhan mencintai umatnya yang suka bersatu dan saling menjalin kasih sayang. Jika perbedaan itu dimaksudkan melayani Tuhan, maka sebenarnya Tuhan sendiri juga tidak menyukai keadaan yang bercerai berai.

Pada muktamar NU dan Muhammadiyah yang waktunya hampir bersamaan itu, ternyata mengusung tema yang agak berbeda. NU mengusung tema Islam Nusantara sedangkan Muhammadiyah memilih tema Islam Berkemajuan. NU dengan menyebutkan Islam nusantara ingin menunjukkan wajah Islam yang menyukai kedamaian, penuh toleransi, menghargai dan menghormati orang lain, moderat, adaptif terhadap kultur masyarakat asalkan tidak bertentangan dengan syari’at, dan semacamnya. 

Agak berbeda dengan NU, Muhammadiyah mengusung tema Islam berkemajuan. Sebutan Islam maju itu sebenarnya bukan hal baru. Para tokoh Muhammadiyah, semisal Pak AR Fachruddin, semasa masih hidup dalam berceramah seringkali menyebut Islam berkemajuan. Hal demikian itu pula yang seringkali disampaikan oleh para tokoh organisasi itu menjelang muktamar. Dipahami bahwa, dunia ini selalu berubah dan berkembang, maka Islam yang bersifat universal harus mampu merespon perubahan dan perkembangan itu.   

Perbedaan tema yang diusung oleh masing-masing organisasi sosial tersebut sama sekali tidak melahirkan perdebatan dan apalagi konflik. Yang muncul seolah-olah justru semakin memperteguh bahwa di antara kedua organisasi itu sebenarnya tidak perlu membuat jarak, tetapi seharusnya justru mendekat untuk bekerjasama, atau setidak secara bersama-sama membagi tugas dalam mengembangkan dakwah dan pembinaan umatnya.

Memang kedua tema yang disusung tersebut terasa tidak bernuansa atau bersinggungan dengan fiqh. Umpama saja tema dimaksud sama-sama bernuansa fiqh, sekalipun muktamar mengambil tempat yang berjauhan, maka akan melahirkan perdebatan panjang. Perbincangan tentang fiqh, di mana dan kapan saja, tidak mudah menghasilkan kesepakatan, tetapi sebaliknya, selalu menjadi sumber pedebatan. 

Memang, jika diamati secara saksama, apa saja yang dilihat dari perspektif fiqh, maka akhirnya akan meletakkan sesuatu pada wilayah haram, makruh, mubah, sunnah dan wajib. Dalam perbincangan itu bisanya sulit diperoleh kesepakatan. Perbedaan akan selalu muncul, dan hal yang menyangkut hukum itu tidak mudah kompromi. Jangankan antar organisasi, sesama tokoh,atau sesama kyai saja, dalam menetapkan hukum, tidak selalu bersepakat. 

Penentuan awal puasa dan juga hari raya selalu menjadi perbincangan panjang oleh karena terkait dengan fiqh. Dalam Islam perbincangan tentang fiqh, aqidah, dan apalagi politik, selalu menghasilkan perbedaan. Fiqh sebagaimana dikemukakan di muka, selalu meletakkan sesuatu pada kerangka haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib. Sementara itu, berbicara tentang aqidah akan meletakkan sesuatu pada kerangka mukmin, muslim, musyrik, munafiq, zindiq, kafir, dan sejenisnya. Biasanya dalam perbincangan itu akan terjadi perdebatan sengit terutama dalam menempatkan sesuatu pada satu di antara kerangka alternatif itu.

Sebenarnya, jika dikehendaki agar Islam menjadi tampak damai, dan juga berkemajuan, maka ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw., seharusnya dilihat dalam kerangka lebih luas. Islam tidak saja dilihat dalam kerangka fiqh, aqidah, tarekh, akhlak dan tasawwuf, melainkan dipahami dalam kerangka yang lebih luas, yaitu dalam perspektif ilmu pengetahuan, kualitas manusia, keadilan, aktifitas ritual, dan amal shaleh atau kerja profesional. Jika kedua organisasi tersebut sama-sama mengembangkan perspektif atau kerangka tersebut, maka NU dan Muhammadiyah akan benar-benar mendekat dan bahkan bersatu. Wallahu a’lam (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo) Dengan Judul: Islam Nusantara Dan Islam Berkemajuan

Disqus Comments