Khemar Lebih Bisa Belajar Dari Kesalahan di Bandingkan Manusia

Khemar Lebih Bisa Belajar Dari Kesalahan di Bandinghkan Manusia

Adalah khemar, yaitu binatang yang disebut-sebut namanya di dalam al Qur’an, ternyata memiliki keistimewaan. Binatang yang menyerupai kuda namun ukurannya lebih kecil itu, tidak pernah tertumbuk batu yang sama secara berulang-ulang. Apabila binatang itu pernah terpeleset atau tertunbuk di suatu tempat, maka tidak akan pernah mau lagi melewati tempat itu. Maka, khemar disebut binatang yang tidak mau mengulangi kesalahannya.

Mengingat nama binatang itu rasanya kita menjadi malu. Sebab kesalahan itu tidak saja terulang dua atau tiga kali, melainkan hingga berkali-kali, tetapi tidak pernah menyadarinya. Memang manusia suka berbicara manajemen modern, betapa pentingnya kontrol, dan juga evaluasi yang katanya harus selalu dilakukan, tetapi sebagaimana disebutkan di muka, masih saja tidak mau belajar dari pengalamannya. 

Pengulangan terhadap kesalahan itu sebenarnya terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, baik menyangkut politik, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial, dan lain-lain. Dalam bidang politik misalnya, pemilihan kepala daerah sebagaimana dijalankan selama ini memiliki resiko yang amat besar. Jual beli suara, suap menyuap, dan sejenisnya menjadikan para kepala daerah masuk bui, tetapi kekeliruan itu masih diulang-ulang, sehingga akibatnya tidak kurang dari 300 orang kepala daerah, yaitu bupati, wali kota, gubernur, masuk penjara.

Kenyataan itu tentu sangat menyedihkan. Orang-orang yang semula terpandang, terhormat, dan terbaik di daerahnya dengan bukti mereka terpilih menjadi kepala daerah, namun ternyata akhirnya menjadi tersangka dan kemudian masuk penjara. Tidak bisa dibayangkan, betapa sedih dan menderitanya yang bersangkutan tatkala menghadapi persoalan itu. Penderitaan yang sama, pasti juga dirasakan oleh isteri atau suaminya, anak-anaknya, keluarganya, dan simpatisan nya yang tentu jumlahnya amat banyak.    

Resiko itu sedemikian berat. Seseorang yang semula terpandang, perilakunya dianggap baik, diposisikan sebagai pemimpin dan panutan, dan sebaliknya tidak tampak wajah mereka sebagai kriminal, tetapi ternyata tanpa diduga sebelumnya, mereka harus menjadi penghuni penjara. Resiko itu sebenarnya cukup berat dan amat menyakitkan. Seorang yang semula dikenal berperilaku baik dan terhormat, akhirnya menjadi sangat murah harganya. Resiko itu sebenarnya masih ditambah lagi, yaitu akan melahirkan orang dendam, yang tentu jumlahnya banyak sekali.

Selanjutnya, masih terkait pengulangan kesalahan di dalam bidang politik, bahwa dahulu para tokoh sudah menjelaskan tentang besarnya resiko yang harus ditanggung tatkala terlalu mengedepankan pada aspek politik. Dijelaskan, sejarah telah mencatat bahwa dalam membangun bangsa maka politik jangan terlalu dikedepankan. Bertahun-tahun pengalaman pada masa orde lama membuktikan bahwa, suasana politik yang berkelebihan akan menjadikan pembangunan tidak bisa dipercepat dan bahkan menjadi terabaikan. Anggaran akan terkuras untuk membiayai kegiatan politik. Selain itu, juga akan melahirkan konflik, dan bahkan permusuhan yang tentu berbiaya mahal dan tidak berkesempatan membangun sesuatu yang seharusnya diprioritaskan. 

Kesalahan yang sudah jelas tersebut, ternyata sekarang ini terulang lagi. Konflik di berbagai wilayah, perselisihan antar institusi, dan apalagi di kalangan partai politik, menjadi berita yang tidak menarik oleh karena sudah terbiasa sehari-hari. Pada akhir-akhir ini, selain terjadi benturan antara KPK dan kepolisian yang memakan energi cukup besar, juga terjadi konflik di parlemen dan juga di internal partai politik. Perpecahan kepengurusan di Golkar dan juga PPP, sekalipun sudah sekian lama, ternyata belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Padahal sudah menjadi rumus, bahwa siapapun yang berada pada suasana perpecahan atau konflik, maka tidak akan memenangkan kompetisi. Menang dan maju, salah satu kuncinya adalah persatuan. 

Di bidang pendidikan juga begitu, kesalahan selalu berulang-ulang dilakukan. Misalnya, peningkatan kualitas guru yang hanya dilakukan lewat pendekatan formalitas, yaitu dengan pemberian sertifikat dan ijazah, sekalipun tidak merubah keadaan, tetapi dari tahun ke tahun, ternyata masih diulang-ulang. Demikian pula ujian nasional yang sudah sedemikian banyak dikritik dari berbagai kalangan, tetapi justru dicarikan legitimasi, agar tetap dipandang rasonal, dan kemudian kebijakan itu dilanjutkan. Contoh sederhana lainnya yang lebih teknis, misalnya pembelajaran bahasa asing untuk mengantarkan para lulusan agar mampu bergaul di dunia yang semakin terbuka, sekalipun hasilnya tidak memuaskan, ternyata juga tidak dilakukan perubahan. Pembelajaran bahasa asing yang kurang memuaskan itu, ternyata masih diulang dari tahun ke tahun, seolah-olah hal itu bukan menjadi masalah.

Menjadi bangsa yang tidak sungguh-sungguh mau belajar dari pengalaman dan bahkan dari sejarahnya sendiri, sebagaimana dikemukakan di muka, akan beresiko selalu berada pada persoalan yang sama dan akan ketinggalan zaman. Dunia ini selalu berubah sehingga menuntut cara berpikir dan juga cara kerja sesuai dengan perubahan itu. Lebih-lebih lagi, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perubahan itu menjadi semakin cepat, mendasar, menyangkut berbagai aspek, dan seringkali juga mendadak, maka pasti menuntut cara berpikir dan cara kerja yang semakin cepat pula. Tuhan telah mengajarkan manusia melalui contoh berupa perilaku hewan yaitu khemar, agar tidak mengulang-ulang kesalahan yang sama. Namun ternyata tidak selalu diperhatikan dan apalagi ditiru. Wallahu a’lam (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo)

Disqus Comments