Perilaku Seseorang Dalam Berebut Kemenangan

Perilaku Seseorang Dalam Berebut Kemenangan

Rupanya setiap orang akan berperilaku sebagaimana perannya masing-masing. Seorang petani, ia akan berpikir, bersikap, dan berperilaku sebagaimana petani pada umumnya. Yang selalu terpikirkan oleh petani adalah bertanam, memelihara tanamannya dan kemudian menunggu panen. Berbeda dengan itu adalah pedagang, yang ia pikirkan adalah memperoleh dan kemudian menjual dagangan, lalu dari usahanya itu akan mendapat keuntungan. Tentu cara berpikir petani akan berbeda dari cara berpikir dan berperilaku pedagang. 

Berbeda lagi adalah seorang guru, ustadz atau kyai. Sebagai seorang guru yang dipikirkan adalah bagaimana agar para siswanya pintar dn cerdas, lulus, mendapatkan ijazah, bisa bekerja dan menjadi kebanggaan keluarga dan orang tuanya. Seorang guru akan menjadi sangat bahagia ketika memperoleh kabar bahwa misalnya anak asuhnya sukses, mendapatkan pekerjaan dan atau berhasil menduduki posisi penting di suatu lembaga atau instansi tertentu.

Perilaku khas demikian itu juga tampak ketika seseorang memiliki peran-peran lainnya, misalnya menjadi polisi, tentara, politikus, seniman, agamawan, pejabat pemerintah, dan seterusnya. Setiap orang akan menyesuaikan perilakunya dengan posisi yang sedang disandangnya. Seseorang yang semula hanya sebagai rakyat biasa, dan kemudian diangkat menjadi kepala desa misalnya, maka dalam waktu singkat, ia akan bisa melakukan perannya itu. Perilaku seorang ternyata bisa berubah dalam waktu singkat, menyesuaikan peran atau posisi yang disandangnya.

Bahkan perilaku seseorang juga akan berubah-ubah menyesuaikan suasana yang berbeda-beda. Orang yang sedang berdoa bersama-sama, maka perilaku mereka akan menyesuaikan sebagaimana pada umumnya orang berdoa. Orang yang sedang berdemo, akan berperilaku sebagaimana pendemo pada umumnya. Demikian pula, ketika kemudian mereka melayat janazah dan mengantarkannya ke kubur, maka perilaku mereka akan berubah menyesuaikan suasana yang sedang dialaminya itu. 

Penyesuaian perilaku juga terjadi tatkala sesorang sedang bertanding atau berkompetisi. Orang yang sedang bertanding atau berkompetisi untuk meraih kemenangan, maka mereka akan melakukan apa saja agar kemenangan itu diperoleh. Untuk meraih kemenangan, masing-masing pihak tidak saja mengandalkan kekuatan yang dimilikinya, tetapi juga akan membuat taktik dan strategi yang dianggap tepat. Memang dalam pertandingan atau kompetisi selalu dibuatkan tata tertip, petunjuk permainan, dan bahkan juga kode etik. 

Namun, sebenarnya pedoman bertanding, petunjuk atau kode etik itu tidak selalu diikuti oleh mereka yang terlibat di dalam pertandingan dan atau kompetisi itu. Oleh karena itu untuk mengatur jalannya kompetisi selalu ditunjuk pihak-pihak tertentu sebagai pengawas dan atau wasit pertandingan. Keberadaan mereka itu diperlukan atas kesadaran bahwa, siapa saja yang terlibat dalam pertandingan atau kompetisi akan melakukan apa saja yang sekiranya diperlukan untuk meraih kemenangan.  

Konsep kejujuran, ikhlas, sabar, dalam bertanding untuk meraih kemenangan hampir-hampir tidak pernah dijadikan pedoman. Dalam suasana pertandingan atau kompetisi yang ada pada kesadaran mereka adalah menang dan berhasil mengalahkan pihak lawan. Memang ada semboyan yang seringkali diucapkan bahwa sekalipun kalah akan terhormat asalkan mampu menjaga aturan, kode etik, dan lain-lain. Akan tetapi pada kenyataannya yang memperoleh kehormatan adalah mereka yang secara fisik menang dan mampu mengalahkan pihak lawan. 

Baru kemarin, dua organisasi besar keagamaan, yaitu NU dan Muhammadiyah sedang melaksanakan muktamar. Dalam kegiatan besar lima tahunan itu di antaranya adalah memilih pemimpin baru. Proses pemilihan kepemimpinan itu tentu bisa jadi akan diartikan oleh para peserta muktamar secara berbeda. Manakala pemilihan pemimpin organisasi keagamaan itu didasari oleh niat yang benar-benar tulus untuk kepentingan agama, maka tidak akan ada perdebatan tentang cara pemilihannya dan apalagi saling berebut. Cara apapun yang dipilih dan siapapun yang akan terpilih akan disepakati dan atau diterima. 

Akan tetapi berbeda jika dalam pemilihan pemimpin organisasi itu sudah terbangun suasana berebut kemenangan, maka yang terjadi adalah logika bertanding atau kompetisi pada umumnya. Didorong untuk mendapatkan kemenangan maka masing-masing pihak akan mengatur siasat, strategi, dan bahkan akan melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Dalam bertanding atau berkompetisi, nilai-nilai sopan santun, rasa sungkan, tata krama, dan seterusnya tidak akan diperhatikan. Bagi semua pihak, yang diutamakan adalah menang. Maka, agar pertandingan itu berjalan secara benar, maka harus ada pengawas, wasit dan bahkan juga petugas keamanan. Lebih dari itu, pengawas dan juga wasit harus jujur, adil, dan tidak memihak. 

Atas dasar kenyataan tersebut, untuk menghindari terjadinya keributan di dalam pemilihan pemimpin organisasi sosial keagamaan, maka seharusnya dihindari suasana bertanding atau berkompetisi. Kepengurusan organisasi sosial keagamaan harus dimaknai benar-benar sebagai amanah, dan bukan untuk mendapatkan kemenangan. Di alam demokrasi seperti sekarang ini membangun suasana seperti itu pasti tidak mudah, tetapi harus bisa diciptakan. Misalnya, seseorang dipilih menjadi pemimpin ketika memenuhi kriteria tertentu, dikaitkan dengan umur, pengalaman, karya-karya yang telah dihasilkan, dan semacamnya. Mendasarkan keyakinan bahwa pemimpin organisasi keagamaan telah mampu menjaga integritasnya, maka disepakati untuk memilih seseorang yang paling sepuh, paling lama menjadi pengurus, karya-karyanya paling banyak, dan semisal lainnya. 

Akan tetapi, jika dalam pemilihan pengurus organisasi sosial keagamaan masih dikembangkan nuansa berebut kemenangan, maka yang terjadi adalah perilaku berebut itu. Seharusnya disadari bahwa mengurus organisasi sosial keagamaan tidak boleh dan memang tidak ada sesuatu yang diperebutkan. Seharusnya yang justru dikedepankan adalah semangat mengabdi, semangat berjuang sekaligus berkorban, dan semangat untuk melayani umat, menjaga nilai-nilai agama yang dianut dan dicintainya. Jika demikian itu orientasi yang dikembangkan, maka tidak akan ada perilaku berebut di dalam organisasi sosial keagamaan. Wallahu a’lam. (Prof. Dr. H Imam Suprayogo)

Disqus Comments