Resiko Berbohong Menurut Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Resiko Berbohong

Berbohong itu mudah sekali, sehingga semua orang bisa melakukannya. Selain mudah, kadang berbohong memang menguntungkan. Akan tetapi, keuntungan yang dimaksudkan itu hanya sementara. Sebaliknya , resikonya sedemikian besar. Jika suatu saat kebohongannya itu ketahuan orang lain, maka kerugiannya tidak terbayangkan besarnya. Orang yang berbohong itu akan malu, dan bahkan akan kehilangan sesuatu yang amat mahal, ialah kepercayaan dari orang lain. 

Kepercayaan itu begitu mahal harganya. Orang yang sudah tidak dipercaya akan sama halnya dengan kehilangan segala-galanya. Orang yang sudah tidak dipercaya, maka tatkala berbicara, berjanji, bersaksi, bersumpah, berhutang, dan lain-lain,  tidak ada yang akan mau mendengarkan dan mempercayainya. Oleh karena itu, ketika seseorang hanya kehilangan uang, rumahnya terbakar, kendaraannya dicuri orang, dan sejenisnya, maka sebenarnya masih belum seberapa dibanding dengan ketika kehilangan kepercayaan. Harta masih bisa dicari gantinya asalkan masih dipercaya orang.
Berbohong tenyata tidak saja mengakibatkan biaya operasional menjadi mahal, tetapi lebih dari itu juga akan menjadikan seseorang atau bahkan institusinya  bangrut, gulung tikar, atau kebohongan yang dilakukan akan menjadi bagaikan bunuh diri.
BACA JUGA: Inilah Contoh Buruk Para Pemimpin
Akan tetapi jika seseorang sudah kehilangan kepercayaan dari keluarganya, tetangganya, dan bahkan dari masyarakat luas, maka sebenarnya yang bersangkutan sudah sama dengan kehilangan segala-galanya. Orang seperti itu jika ngomong tidak didengarkan, jika berhutang tidak akan diberi, dan bahkan jika minta tolong oleh karena betul-betul membutuhkan pertolongan juga tidak akan segera diberi pertolongan. Orang yang dikenal sebagai pembohong maka tidak akan ada harganya. Namun sayangnya, banyak orang yang sedemikian mudah berbohong.

Selain itu kebohongan juga mengakibatkan berbiaya mahal. Akibat banyak orang tidak bisa dipercaya maka diperlukan pengawasan yang harus melibatkan banyak orang, disusun system manajemen yang rapi dan akurat, dan juga yang tidak bisa dihindari adalah menjadikan banyak orang bersu’udzon atau tidak segera percaya kepada orang lain. Semua akibat kebohgongan itu akan membutuhkan biaya yang mahal. Dalam pemerintahan, sebagai akibat banyak orang bohong, maka harus ada polisi, BPK, BPKP, kejaksaan, KPK, dan lain-lain.

Umpama saja di tengah masyarakat, tidak ada kebohongan, maka tidak perlu ada polisi, petugas security, para pengawas, dan atau berbagai lembaga yang berfungsi melakukan peran kepengawasan. Selain itu juga tidak perlu dibuat system dan instrument yang menjadikan orang secara otomastis berbuat jujur, dan juga tidak perlu ada orang yang selalu curiga terhadap orang lain atau bersikap su’udzon. Peran-peran sebagaimana dimaksudkan itu, tentu biayanya mahal,  tetapi harus diadakan, oleh karena banyak orang berbohong itu.

Sebagai akibat kebohongan pula, pada akhir-akhir ini, banyak pejabat pemerintah, dan bahkan hingga pejabat tinggi, harus diadili dan dipenjara oleh hal yang sederhana. Mereka itu  telah dipercaya mengemban amanah rakyat atau  menjadi pejabat, tetapi ternyata mengkhianati kepercayaan yang telah diberikannya itu. Menjaga kepercayaan atau tidak berbohong sungguh ternyata tidak mudah. Pada kenyataannya tidak menjamin orang berpendidikan tinggi, berpengalaman banyak, sudah berumur, dan bahkan sehari-hari berpenampilan religious, mampu selalu berbuat jujur dan atau tidak berbohong.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang atau bahkan institusi jatuh terpuruk karena berbohong juga sangat mudah ditemukan. Sebuah perusahaan pada awalnya berkembang pesat, tetapi mendadak bangkrut. Ternyata, sebabnya juga karena kebohongan yang dilakukan oleh orang yang ada di perusahaan itu. Rumah makan yang semula menjadi langganan banyak orang, ternyata mendadak sepi dari pengunjung, oleh karena kebohongannya terbongkar, yakni diketahui ada menu jualannya tidak halal. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ada perguruan tinggi semula tidak mampu menampung semua calon mahasiswa baru, tetapi dalam waktu singkat, kampus dimaksud kelihatan sepi, ternyata diketahui ada kebohongan yang dilakukan. 

Akhirnya dengan berbohong tenyata tidak saja mengakibatkan biaya operasional menjadi mahal, tetapi lebih dari itu juga akan menjadikan seseorang atau bahkan institusinya  bangrut, gulung tikar, atau kebohongan yang dilakukan akan menjadi bagaikan bunuh diri. Itulah sebabnya, ada kesimpulan menarik dan karena itu harus mendapatkan perhatian saksama, yaitu bahwa suatu bangsa tidak akan runtuh hanya oleh karena persoalan ekonomi, politik, hukum, atau gerakan social, melainkan oleh karena adanya kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Dalam sejarah, kaum Adz, Tsamud, dan Fir’aun menjadi musnah juga oleh karena kebohongan yang dilakukan.

Nabi Muhammad pernah kedatangan seseorang, menanyakan tentang ajaran Islam yang sederhana tetapi jika dijalankan akan menjadi selamat, baik di dunia maupun di akherat. Menurut riwayat, pertanyaan itu dijawab dengan jawaban sederhana, yaitu “jangan berbohong”. Bangsa Indonesia ini, dikenal memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya. Akan tetapi, dari waktu ke waktu, negeri ini tidak pernah sepi dari berbagai persoalan  pelik dan berat, hingga menjadikan cita-citanya tidak segera terwujud. Persoalan itu di antaranya, bisa dipastikan, adalah oleh karena adanya orang yang suka berbohong itu. Semoga puasa ini, menyadarkan pada semua pihak atas keharusan selalu  jujur, dan atau  bersungguh-sungguh menjauh dari berbuat bohong. Wallahu a’lam (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo)

Disqus Comments