Sikap Seseorang Ketika Menjadi Kaya

Sikap Seseorang Ketika Menjadi Kaya

Sikap Seseorang Ketika Menjadi Kaya. Pada umumnya orang, berkeinginan menjadi kaya. Bahkan untuk memenuhi keinginannya itu, hingga menempuh pendidikan saja dimaksudkan agar kelak setelah pintar memperoleh pekerjaan yang mendatangkan uang banyak, dan akhirnya menjadi kaya. Padahal seharusnya, mencari ilmu bukan saja untuk mendapatkan harta, tetapi yang lebih penting dari itu adalah agar mengenal kehidupan dan selanjutnya mengetahui siapa sebenarnya yang menciptakan dirinya dan alam semesta ini.

Setelah pendidikan berhasil dan kekayaan diraih, maka diharapkan memperoleh kebahagiaan. Namun ternyata, kebahagiaan itu tidak selalu berada pada orang kaya. Banyak orang kaya ternyata hidupnya justru terbebani oleh kekayaannya itu. Ketika sudah memiliki rumah, maka yang bersangkutan disibukkan dengan rumahnya. Demikian pula ketika sudah memiliki tanah luas, kendaraan bagus, berbagai jenis perusahaan, dan bahkan kekuasaan, maka semua itu menjadikan dirinya terbebani oleh semua yang dimilikinya itu. 

Baca Juga: Dahsyatnya Kebiasaan Bagi Kehidupan Seseorang
Selain itu, ketika hartanya bertambah maka selalu khawatir suatu saat berkurang atau hilang. Demikkian pula ketika hartanya berkurang maka menjadi gelisah, khawatir, dan takut. Maka artinya harta yang dimiliki tidak menjadikannya bahagia, melainkan justru menjadi beban dirinya. Semakin banyak harta yang dikuasai maka beban itu semakin bertambah. Dengan demikian maka, ternyata harta tidak selalu memberikan kebahagiaan, bahkan sebaliknya, jika tidak benar mensikapinya akan mendatangkan kekhawatiran dan rasa takut berkurang atau bahkan hilang. 

Pertanyaannya adalah, apakah harta itu tidak penting, sehingga tidak perlu dicari. Tentu bukan demikian, harta kekayaan tetap perlu. Tanpa harta, maka kehidupan seseorang akan menggantungkan diri pada orang lain. Keadaan seperti itu menjadikan seseorang tidak ada harganya. Tanpa harta, seseorang tidak akan bisa menjalankan ibadah secara sempurna. Melakukan shalat saja harus menutup aurat sehingga diperlukan baju, mendapatkan tempat yang bersih dan suci, yang itu semua membutuhkan biaya. Belum lagi, tatkala tidak memiliki harta, maka tidak akan bisa bershadaqoh, infaq dan zakat, juga tidak bisa menunaikan ibadah haji, memelihara anak yatim, menyantuni orang miskin, membantu masyarakat, mengembangkan ilmu pengetahuan, menegakkan keadilan, dan seterusnya.

Harta kekayaan adalah penting dimiliki oleh setiap orang, tidak terkecuali seorang muslim. Namun harta itu jangan sampai mengganggu kegiatan untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Seseorang menjadi bahagia tatkala keberadaannya memiliki arti bagi dirinya, keluarganya, dan bahkan juga orang lain. Oleh karena itu, jangan sampai dengan harta itu justru menyusahkan dirinya, menjadikan jauh dengan keluarga, dan masyarakatnya. Harta benar-benar akan menjadikan sebab diperolehnya kebahagiaan jika tepat penggunaannya. Sebaliknya, jika keliru, maka justru akan mendatangkan fitnah dan mala petaka.

Ada contoh penggunaan harta yang kiranya tepat dan perlu diketahui, yaitu yang dilakukan oleh salah seorang konglomerat Arab bernama Sulaiman Ar- Rajhi. Salah satu kekayaannya adalah berupa bank Ar-Rajhi, yang merupakan bank swasta terbesar di Saudi Arabia. Menurut versi majalah Forbes, Sulaiman Ar-Rajhi tercatat sebagai orang terkaya ke 120 tingkat dunia. Sekalipun pada mulanya, ketika masih muda, oleh karena miskin, ia pernah bekerja sebagai kuli panggul barang dan juga penjual kayu bakar, namun karena ketekunannya, ternyata ia dikaruniai oleh Allah kekayaan melimpah hingga tercatat menjadi milyader kelas dunia.

Namun dengan kekayaannya itu, ia tidak menjadikan dirinya bakhil, sombong, dan jauh dari masyarakat lingkungannya. Sekalipun kaya, hidupnya tidak berlebihan, sehari-hari tatkala dikumandangkan suara adzan segera mendatangi masjid, dan bahkan jika suatu saat muadzin datang terlambat, maka konglomerat klas dunia itu sendiri yang mengumandangkan adzan di masjidnya. Sekalipun kaya, ia mampu memelihara kezuhudannya, selalu mengenakan pakaian biasa, dan mengkonsumsi makanan sebagaimana pada umumnya orang lain. Hartanya diinfaqkan untuk kepentingan umat, misalnya membangun masjid, membiayai pendidikan, membantu orang miskin, dan sejenisnya. 

Dari berbagai perusahaannya, ia hanya ingin mendapatkan bagian yang sekiranya cukup untuk menyambung hidupnya. Hartanya digunakan untuk kepentingan sosial. Berbagai masjid telah dibangun, salah satunya adalah Masjid Ar-Rajhi berukuran sedemikian besar hingga mampu menampung sekitar 18 ribu jama’ah. Tempat ibadah itu dilengkapi dengan berbagai sarana yang diperlukan, termasuk perpustakaan dengan koleksi puluhan ribu buku. Sedemikian mulianya, ia berpesan agar semua hartanya, setelah meninggal, agar dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Cita-citanya, ia lahir ke muka bumi tidak membawa apa-apa, dan berharap kembali juga tidak memiliki beban apa-apa. Itulah kiranya, cara tepat bersikap terhadap harta, sehingga mendatangkan kebahagiaan, dan sebaliknya, bukan justru membebani dan atau bahkan mencelakannya. Wallahu a’lam (Prof. Dr. H. Imam Suprayogo)

Disqus Comments