Banyak Figur Potensial Tapi Terhalang Finansial, Salah Siapa?

Banyak Figur Potensial Tapi Terhalang Finansial, Salah Siapa?

mastrigus.com Negeri Indonesia Raya ini adalah negeri paling cerdas yang pernah ada, memiliki kemampuan berdaya dan merdeka dari para penghuninya, segudang anak muda yang memiliki talenta diluar batas pun juga mudah untuk ditemui, dari pelosok sabang sampai pelosong merauke pasti berjajar figur-figur potensial yang siap untuk berkarya demi negeri ini, tapi apakah semua orang sudah siap untuk saling mendukung kemampuan negeri ini.

Banyak Figur Potensial Tapi Terhalang Finansial, kita selalu mendengar keluh kesah seperti mereka, sudah berapa banyak figur-figur potensial yang dikecewakan oleh beberapa oknum sehingga memilih untuk mati berdiri dari pada harus berkarya untuk negeri dengan cita-cita mengharumkan nama bangsa namun disisi lain selalu mendapatkan pengebiran dari para oknum, sebut saja Ricky Elson, seorang figur potensial yang berhasil menciptakan prototype Mobil Listrik namun nyatanya berhasil dikebiri Penguasa (Baca ulasannya disini).

Sekali lagi banyak figur potensial yang terhalang finansial, rata-rata para figur ini memiliki talenta yang tidak dimiliki oleh orang lain, sebut saja tokoh Lintang dalam novel tetralogi andrea hirata yang diawali dengan novel pertama berjudul "Laskar Pelangi", seorang anak kecil kelas 6 SD namun memiliki otak jenius diatas rata-rata yang terpaksa harus menghentikan sekolahnya karena tidak punya finansial, itu adalah bukti bahwa kita tertindas dengan masalah klasik berubah rupiah. Sedangkan untuk mendapatkan finansial sebagian orang harus mencuri dulu atau malah harus mengemis dulu supaya mampu memiliki uang. Ini salah siapa?

Contoh diatas hanyalah sepenggal kisah diantara jutaan kisah dari orang-orang yang tidak bisa melakukan apa-apa karena finansial, jika ditambah dengan kegagalan-kegagalan figur potensial yang dikalahkan oleh figur tidak potensial tapi kaya finansial juga cukup sering menghiasi mata dan telinga kita. Tidak usah tabu, media ada dimana-mana, contoh sederhana pemilihan kepala desa saja juga sudah di praktik-kan dengan menggunakan finansial untuk memperoleh kemenangan. figur potensial tanpa memiliki upeti yang akan diberikan kepada titik ini dan titik itu akhirnya mau tidak mau harus bersabar untuk menelan kekalahan. masalah klasik-nya hanyalah finansial, sebaik-baiknya orang, sejauh-jauhnya orang dari mata duitan, jika ingin menjadi pemain dalam negeri ini harus dibekali dengan uang cukup bahkan lebih.

Finansial memang selalu menjadi penghalang bagi kebanyakan orang, kegagalan demi kegagalan karena kurangnya modal juga bukan bahan obrolan langka. Memang bagi sebagian orang dengan berbekal kekurangan malah mampu menjadi figur potensial yang kaya finanssial, namun bagi yang tetap menjadikan finansial sebagai masalah klasik penghalang hidupnya akan lebih lama mencapai finansial yang menjajikan. Toh itu adalah pilihan hati nurani sendiri.Kalau sudah begini siapa yang akan disalahkan?

Disqus Comments