Logika Tanpa Logistik, Terlalu Naif Untuk di Lakukan, Benarkah?


mastrigus.com malam ini setelah menghabiskan secangkir kopi robusta bikinan cafe sebelah rumah dan menghisap beberapa batang nikotin bermerek LA Light, rasanya naluri saya untuk menulis kembali kambuh. Setelah beberapa hari yang lalu merasa buntu untuk menulis karena kekecawaan saya kepada google yang telah mendorong ku ke lembah ratapan atas kegagalan.

Secangkir kopi Robusta ternyata mampu mengembalikan semangat yang sempat kendur, tentu Robusta dan rokok yang telah saya nikmati ini hasil dari pemberian kawan-kawan ku yang kebetulan prihatin dengan kondisi yang saya alami. Setiap hari menulis tapi tidak pernah menghasilkan uang, dikiranya pekerjaan menulis saya ini adalah pekerjaan sia-sia, logika tanpa logistik, apa jadinya?

Kalimat ini memang sangat menggelitik, logika tanpa logistik. Sebuah ungkapan yang mendekati perlawanan terhadap kecerdasan intelektual yang jarang dihargai dengan sesuatu yang pantas. Nilai pantas disini pada umumnya yang berupa uang. Seperti postingan sebelumnya yang saya tulis berjudul Banyak Figur Potensial Tapi Terhalang Finansial, Salah Siapa? sedikit menjelaskan bagaimana finansial memiliki peran penting dalam setiap keadaan. Dan yang lebih seru, finansial ini selalu dijadikan patokan sebagian orang untuk mengapresiasi intelektualitas yang telah di korbankan.

Dalam beberapa kesempatan kata-kata ini memang bisa membuat saya malu, diakui atau tidak pekerjaan menulis adalah perbuatan yang dihasilkan dari kecerdasan intelektual, lebih banyak memporsir logika dari pada tenaga, seharusnya jika di terjemahkan kedalam bahasa di atas, pekerjaan ini menghasilkan logistik lebih banyak, namun untuk kegiatan menulis dalam suatu blog, itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan. Untuk bisa menghasilkan logistik dari pekerjaan logika ini perlu pertaruhan antara kecerdasa intelektual, komitmen dan konsisten serta keberuntungan. Tanpa itu logistik akan mustahil untuk diraih, meskipun logika sudah full digunakan.

Mungkin saja sebagian orang merasa galau tingkat basudewa jika harus berhadapan dengan logika tanpa logistik. bayangkan saja, dari mulai TK sampai Mahasiswa, kita selalu dilatih untuk menjadi kaum materialistis, dari Taman Kanak-kanak sampai Universitas kita sudah dicekoki dengan ilmu yang mengajarkan pada arah mata duitan. Coba ingat, kalau pernah telah bayar SPP, apa kita tidak langsung dikucilkan? orang tua dipanggil dan kalau tidak segera dibayar ujung-ujungnya drop out. dari situ kita sudah diajari bahwa logika dari seorang guru yang dikeluarkan kepada si murid harus disertai dengan adanya logistik. belum lagi yang lain-lain, sampai ikut bertamasya saja juga harus melakukan hal yang sama. Berikan logistik baru kita bisa berwisata.

Jelas ini menjadi polemik bagi kehidupan berbangsa yang beragama. Pak kyai selalu mengatakan kita untuk bsia hidup iklhas, tapi Pak kyai sendiri juga sering menggerutu jika ceramahnya tidak dicairkan. Ini polemik negeri yang tetap menjadi misteri. Bukti bahwa logika selalu menuntut logistik, tanpa itu hanya akan menjadi logika yang setengah-setengah. Anda pun mungkin juga pernah memutuskan hal ini, untuk apa memikirkan sesuatu sampai final jika ujung-ujungnya pendapatan yang diterima tidak sesuai dengan logika dan tenaga yang telah dikeluarkan, jika sudah seperti ini kapan kita bisa hidup damai berdampingan. Logika Tanpa Logistik, Terlalu Naif Untuk di Lakukan, Benarkah? jawabnya BENAR [trie]

Disqus Comments