Membaca Karakter Orang Trenggalek dari Sego Gegog

sego gegok atau nasi gegok

Secara geografis, letak wilayah Trenggalek memiliki dua lanskap: laut (air), pegunungan (daratan). Sehingga tumbuh-tumbuhan bisa berkembang dari dataran: pegunungan. Tidak dipungkiri juga, banyak panganan khas yang terlahir dari buah bumi ini. sehingga aneka makanan khas Trenggalek bisa dibuat, dari bahan khas Trenggalek. Dari kaca mata banyak orang, Trenggalek memang memiliki panganan tradisional. Jika kita sudah lama mendengar Trenggalek kuta Kripik atau Gaplek, maka hal tersebut tidaklah salah. Pegunungan yang ada di dataran tinggi tersebut, sangat cocok untuk ditanami beberapa tanaman: telo (ketela), jagung dan padi, untuk perkebunan: cengkeh, pinus dan lain sebagainya.

Berbicara tentang makanan, Trenggalek memang gudangnya makanan khas. Banyak sekali makanan yang asli Trenggalek, yang entah bagaimana awal mula dan siapa yang pertama kali mempopulerkan, kali ini saya menaruh hati pada sego gegog. Nasi gegog atau lebih terkenalnya dengan sebutan sego gegog memang telah lama ada di Trenggalek. Sebagai anak muda, saya hanya bisa menikmati dan mengangkat makanan khas ini ke corong masyarakat luar Trenggalek.

Yang jelas sego gegog atau “nasi gegog” telah ada sejak ratusan tahun lalu, kendati demikian usianya masih lama-an tempe kripik (menurut riset penulis). Tinimbang nasi gegog moncernya lebih duluan sego tiwul-nya Trenggalek (meski nasi tiwul perlahan hilang ditelan buto ijo modernitas). Tetapi nasi gegog masih bertahan ditengah kepungan kabut asap kemajuan zaman. Bahkan cocok ini didaftarkan ke Unesco sebagai warisan budaya masyarakat Trenggalek.

Mungkin sampeyan dapat dengan mudah menemukan nasi Padang atau nasi gudeg di Surabaya atau Jakarta, namun sampeyan tidak akan menemukan sego gegog di tempat tersebut. Sampeyan mencari sampai mutar-mutar hingga pucing pala berbie pun sampeyan tidak akan menemukan nasi gegog, karena sego gegog hanya ada Trenggalek punya. Tempatnya di Trenggalek daerah Bendungan, daerah pegunungan sebelah Utara kota Trenggalek.

Wajib sampeyan ketahui nggeh, sego gegog merepresentasikan karakter masyarakat Trenggalek, loh, ya! Tapi sampeyan jangan men-judge dulu, saya hanya ingin berbagi dengan sampeyan saja, tidak lebih. Bahwa Trenggalek itu masih hidup dengan ke-khas-an dan ke-sederhana-an. Masa “panganan” bisa disamakan dengan karakter masyarakat. Eits, jangan naik pita dulu ya! Saya kasih tempe, eh, maksudnya, saya kasih tahu, bahwa sego segog Trenggalek itu:

  1. Terbungkus Daun Pisang. Sampeyan tahu ‘kan pohon pisang? Ya, pohon pisang itu banyak tumbuh di pemukiman warga. Setiap lahan pasti hidup sebatang pohon pisang. Artinya, masyarakat Trenggalek juga bisa berhadaptasi di kampung-kampung orang lain. Mereka juga welcome dengan orang asing, maupun aseng, yang datang di tanah air, tanah Trenggalek. Selain itu, godong gedang atau daun pisang memiliki karakter merakyat. Nasi gegog yang murah dapat dijangkau oleh semua lapisan. Tidak terkecuali para pejabat hingga tukang becak pun bisa menikmati bareng-bareng di warung gegog tersebut. Seperti jorgan, eh jargon dari rakyat, untuk rakyat dan kembali ke rakyat.
  2. Rasanya pedas. Sego gegog memang sangat mantap bin nikmat jika dikonsumsi dengan kehanan pedas. Begitu juga masyarakat Trenggalek sesekali diam tidak bersuara, tetapi mereka memiliki karakter kritis, dan peka dengan keadaan sekitar, sesekali melontaskan kritik pedas. Tidak segan-segan, jika kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan khodratnya, tidak pro-rakyat tanpa menunggu ba-bi-bu, masyarakat Trenggalek bertindak sesuai jalannya. Saya bukan bermaksud membentuk stereotipe masyarakat Trenggalek, tetapi memang selayaknya masyarakat Trenggalek itu membuka matanya untuk mengontrol kinerja pemerintahan.
  3. Murah Meriah. Selain ciri khas rasanya yang pedas, sego gegog juga terkenal dengan harganya juga murah meriah. Sampeyan tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk menikmato satu bungkus sego gegog tersebut, tinggal menyisihkan beberapa lembar bergambar pahlawan Patimura, sampeyan sudah keturutan. Lauk pendukung tahu tempe goreng dan segelas air hangat atau susu. Masyarakat Trenggalek juga sangat meriah, jika menyambut tamu atau orang asing datang ke Kabupaten tempe Kripik ini. Siapa tahu sampeyan “ditanggap’ne”atau disambut oleh jaranan Turonggo Yaksa sebagai jaranan khas Trenggalek.
Jika sampeyan berkunjung ke Trenggalek untuk tujuan wisata atau tujuan lain, jangan lewatkan sensasi kuliner yang murah nan merakyat satu ini “Pedas-Pedas Merindu”. Trenggalek memang punya kita semua. Karena wilayah Trenggalek “tertanam” banyak pegunungan, maka Trenggalek banyak menawarkan banyak ke-eksotis-an panorama keindahan alam. Juga masyarakat Trenggalek yang igeliter terhadap semua orang. []

Disqus Comments