Kenapa Aku Sering di Godain Lelaki, Padahal Aku Bukan LGBT?

Trust me ini bukan soal menjelek-jelekan orang lain yang mungkin tidak mempunyai rasa seperti orang-orang pada umumnya, ini hanyalah sekelumit cerita pedih tentang bagaimana rasanya menjadi lelaki yang di godain lelaki. Namun meskipun begitu, semoga mereka segera menemukan pencerahan yang membuat mereka benar.

Entah semenjak kapan LGBT akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender" ini mulai ramai diperbicangkan di Media Sosial, seakan sebutan baru untuk kata HOMO ini merupakan kejadian baru layaknya berita kopi sianida yang merenggut nyawa Mirna. Sungguhlah tidak begitu, LGBT ini sudah ada sejak lama dan juga sejak lama diperjuangkan oleh yang mengalami LGBT dan sudah pula di perangi. Jadi LGBT bukan barang baru. ini adalah produk lama yang dikemas dengan kemasan model baru, biar ada minat dari masyarakat (kayak produk mie instan saja).

Beberapa tulisan mengenai LGBT juga sudah nagkring manis di blog beken ini (iya MTB gitu loh !), dan tidak tanggung-tanggung, tulisan dibawah ini di referensikan dari para pejuang akhidah dan kemanusiaan seperi Dr. Abad (status facebooknya bikin saya ngiler setiap hari) dan Pak Jonru yang sangat kontroversial dan panas itu. ini tulisannya: LGBT Dipandang dari Kacamata Abad dan LGBT Menurut Jonru Dalam Analogi Air Mancur.

Lalu kenapa saya menulis lagi tentang LGBT, apa tidak jenggah dan risih?

Aaaah, satu-satunya alasan saya berani menulis tulisan berjudul "Kenapa Aku Sering di Godain Lelaki, Padahal saya Bukan LGBT?" adalah karena Dr. Abad. Beliau menulis status panjang di Facebooknya yang menceritakan tentang pengalamannya di nikmati oleh lelaki (upps). Kalau tidak percaya baca saja status pacebuknya, sebelum dihapus saya amankan dulu di blog ini.

Waktu Itu...

Pergi-pulang ke dan dari kampus kami biasa naik bis kota, berdesak-desakkan dengan orang Mesir yang posturna lebih tinggi. Gak usah dibayangkan ketika kami mahasiswa Indonesia bergelantungan dalam bis kota di sela-sela ketiak orang Mesir yang tinggi-besar. Memang begitu, mahasiswa asal Indonesia, Thailand dan Pilipina di Mesir kalau ke mana-mana selalu pake bis kota. Beda dengan mahasiswa asal Malaysia, Singapura dan Brunei, ke mana-mana mereka biasa pake ujroh (taksi).

Suatu hari saya pulang kuliah pake bis jurusan Atabah-Hay 10 dengan nomor khas 80 coret (angka 80-nya dicoret). Berdiri di belakang dekat kursi kondektur. Mulanya biasa saja. Penumpang naik dan turun; yang naik lebih banyak, semakin berjubel saja bis yang saya tumpangi. Lama-lama semakin susah bergerak. Zahmah awi: penumpang penuh pol.

Ketika perjalanan sampe pertengahan, saat mana penumpang bis lagi penuh-penuhnya, terasa ada yang memegang pundak saya dari belakang. Bukan cuma itu, sebidang dada, sebuncit perut dan sepasang paha terasa nempel-lengket di bagian belakang tubuh saya dengan tekanan yang terasa "berbeda".

Saya kontan berbalik badan. Sambil mendongak saya lihat seorang lelaki bertubuh agak tambun, tinggi, dengan usia sekira 50-an. Begitu saya pelototi mukanya untuk memastikan bahwa dia punya niatan macam-macam pada saya, dia langsung meletakkan telunjuk di bibir sambil mengeluarkan suara lirih "ssssst..." seakan memberi isyarat bahwa semua baik-baik saja dan sebaiknya saya "pasrah" begitu rupa.

Tentu saja saya marah; marahnya di kepala saja sebab untuk ambil tindakan kasar pada "si bapak" itu juga gak mungkin. Gelut bukan pilihan bijak. Lagian pasti kalah juga kalau saya main otot sama dia. Dengan agak kasar saya dorong badannya ke belakang. Gak peduli dorongan itu menimbulkan kekacauan sistemik tatanan manusia di dalam bis. Di sela-sela manusia berpostur besar yang berdesakkan saya menyelinap pindah tempat agak ke depan.

Tiba di halte tujuan, setengah meloncat saya turun dengan hati penuh murka; murka yang terpendam. Tidak ada korelasi konkret tulisan ini dengan pergunjingan yang lagi hot sekarang ini, yakni LGBT. Saya hanya tertarik menceritakan kembali salah-satu pengalaman "unik" waktu mondok di Negeri Piramid.

Terus persisnya kapan itu terjadi, Om? Ya waktu itu...

Sungguh ceritanya hampir mirip dengan cerita didalam novelnya habiburrahman el shirazy yang berjudul "Ketika Cinta Bertasbih - KCB". Novel yang menceritakan kehidupan tokoh utamanya Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar University, Kairo. Cerita yang bisa menjadi inspirasi bagi kita, ketika melihat bagaimana kerja keras sang tokoh yang menuntut ilmu sekaligus berjuang menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Cerita yang juga bisa menuntun kita, ketika melihat usaha dan perjuangan Khairul Azzam dalam menemukan jodohnya (sebenarnya pertama kali mereka bertemu juga didalam bus, sama seperti Dr. Abad) dengan tetap selalu teguh berpedoman kepada ajaran agama.

Lain KCB lain Dr. Abad, naas memang ternyata yang ditemui Dr. Abad adalah seorang lelaki yang berusaha menikmati punggung beliau (astagfirlah) bukan seperti pertemuan azam dengan bakal istrinya. hueeeeee.

Nah inilah latar belakang yang menjadi alasan kenapa saya berani untuk menulis pengalaman di "genitin" sama laki-laki, Pria pendek bergelar Doktor saja (maaf beribu-ribu maaf ya Pak) berani apalagi saya pria tinggi tanpa gelar Doktor pun juga harus berani, itung-itung bagi pengalaman supaya kalian tidak merasa gampang takjub ketika digodain lelaki.

Cerita 1
Ini cerita nyata kawan, Tapi tidak akan saya sebutkan siapa dia, dimana dia, Kepala Dinas apa dan apa-apa mengenai dia. ini namanya jagain privasinya, hanya jalan cerintanya saja yang saya bagikan.

Sore itu,

Tepian kota Borneo memang asyik dijadikan tempat nongkrong, setelah seharian bekerja tanpa henti di dalam ruangan ber AC yang tidak terlalu familiar dengan kulit ari, saya lepaskan seluruh penat di pinggiran sungai mahakam sambil menikmati aliran sungai yang tanpa henti itu, senja juga masih menyuguhkan cahaya mentari yang terkadang menerpa wajah (setingan waktu dan tempat sudah so sweet kan). Tidak sendirian saya ditemani beberapa kawan.

Satu jam duduk-duduk dikursi beton tiba-tiba ada orang datang, perawakannya tinggi besar, agak item, perut buncit dan berpakaian rapi, mobil jelas platnya berwarna merah pasti pejabat "dalam hati saya". ya namanya orang perantau siapa saja bolehlah diajak ngobrol, Nah bapak-bapak itu tadi nyamperin, salaman seperti layaknya orang baru kenal. Tapi dalam insting kelakianku sudah berkata lain. Kok jabat tangannya beda banget sama jabat tangan dengan teman-temanku.

Nah mode siap siaga sudah saya ON kan, bukan bermaksut untuk lari loh, tapi sesuai dengan petuah emak ku (cieeee anak mami) "tetaplah berusaha tegar dalam berkomunikasi dengan siapapun, meskipun orang itu aneh" (Nah bijak banget to emak ku itu, nular ni ke anakknya). Setelah ngobrol agak panjang ternyata insting saya benar. ada beberapa point yang bisa membuktikan bahwa bapak ini suka sama brondong muda.

Intensitas ngobrolnya lebih sering ke saya, padahal teman ku termasuk lelaki yang bawel
Lirikan matanya serta senyumnya yang (aaaaaaah, tidak sanggup untuk kuingat-ingat, merinding)
Si bapak minta No HP dan nawarin untuk ketemu lagi.
Yang dibicarakan tidak jauh-jauh dari area selangkangan
dan untuk membuktikan bahwa saya mempunyai insting yang benar, saya kabulin permintaan untuk ketemuan.

Pertemuan kedua ngambil setting lokasi yang agak remang-remang (bukan saya tergoda, tapi mode beginian paling diminati sama orang untuk lepas bicara) tepatnya di Kafe coffe Toraja. dan sekali lagi insting ku, gak tanggung-tanggung si bapak memulai perbincangan tidak jauh-jauh dari area private number. Hiks ada penyesalan kenapa saya kok mau diajak ketemuan yang bakal menjadi Nightmare. Tapi sesuai pesan emak, tetaplah tegar.

Saya ikuti alur pembicaraanya, tapi saya tidak iyakan ajakannya meskipun dengan iming-iming dibawah ini:

Jadi Duta wisata Kabupten bla bla bla
Dapat uang saku banyak
Dan segala permintaan dikabulin

Heeeem. akhirnya saya tetap mengikuti alur pembicaraan sampai dia benar-benar jenuh, saya jawab pertanyaan pancingan dengan jawaban pancingan juga. Sampai malam akhirnya saya ijin untuk pulang kerumah dan memblokir no HP-nya. So, tetaplah tidak menyakiti meskipun dalam posisi benar (ini waktu saya masih lugu coy, jadi masih sangat baik hati), padahal dalam hati berkata Wong edan!

Cerita 2

Wuih kalau ini saya benar-benar murka, ditempat yang berbeda tapi masih dalam pulau sama. Di pinggir jalan yang merupakan akses utama menuju kontrakan dibuka konter pulsa baru. Karena pas berada diakses jalan kucoba untuk membeli disana, penjualnya cowok, agak kalem tapi tidak alay. Nah pertama membeli ada kesan yang langsung membuat saya mendidih, dia bilang "ih cakepnya" wadoh kalau yang bilang cewek saja saya bisa berbunga bunga, la ini yang bilang laki-laki. tapi tak apalah selama tidak menggangu saya tidak ladeni perkataan itu.

Hari hari saya biasa beli pulsa disana, insting ku mulai menguat, ada yang tidak beres. setiap ketemu ngajak salaman dengan durasi agak lama, sampek saya harus maksa lepas tangan (gak usah dibayangkan). Dan karena saya tidak mau ini menjadi mimpi buruk tambahan akhirnya untuk urusan beli pulsa saya tidak lagi disana.

Nah pas seminggu setelah tidak lagi kesana tiba-tiba ada telepon masuk, no nya private. Nanyain kapan bayar pulsanya, ternyata dari penjual pulsa itu. Perasaan saya tidak pernah ngutang kesana, jadi debat deh. Karena kemarahan sudah di ubun-ubun sepulang kerja saya samperin dia, pertama ketemu saya pasang wajah seperti biasa, nyoba nanyain yang bener. tapi saya mendapatkan kalimat yang bikin naik darah. bilangnya "kemana aja lama gak muncul, kangen loh?". Langsung duit ku lemparkan sejumlah yang disebutin di telpon (sidianya mau ngembaliin sih) tapi langsung kubentak, kalau sampek kamu telpon no ku, awak kau!.

Cerita 3
Bandara Juanda Surabaya

Entahlah saya selalu mendapatkan status pesawat yang delay. Perjalanan dipending beberapa menit bahkan beberapa jam. Lama menunggu sontak membuat kandung kemih saya penuh dengan cairan, tanpa menunggu saya langsung berjalan mengikuti petunjuk dimana toilet berada, pas disamping saya juga ada seorang lelaki tinggi besar hitam, potongannya cepak, pokoknya mirip bodyguard menuju arah yang sama. Saya takut broo, lihat saja pakek melirik.

Di toilet kita sama-sama membuang seluruh cairan, model tempat kencingnya memang disetting sambil berdiri rame-rame dengan sekat sekedarnya. Kuberanikan lagi untuk melihat dia supaya lebih jelas (mungkindia bule) pas waktu aku melihatnya dia juga menatap saya, eeeh lidahnya dikaluarin sambil menatap genit (gak usah dibayangkan), senyumnnya gay banget coy. Wuih tanpa menunggu cairan habis, langsung saya pergi dari toilet. Semoga tidak terulang kembali.

Cerita 4, 5, 6, 7 (TO BE CONTINUES...)

Jadi Kenapa Aku Sering di Godain Lelaki, Padahal saya Bukan LGBT? Jawabnya sama dengan jawaban Dr. Abad. Mungkin sedang apes! Bagi lelaki yang juga mengalami hal sama, gak usah terlalu baper. JANGAN DI SEBARKAN SIAPA DIA DAN BEKERJA DIMANA, MEREKA TERKADANG JUGA PUNYA ISTRI DAN ANAK. Kasian keluarganya.

Disqus Comments