Warkop dan Pemikiran Habermas

Istilah warkop (warung kopi) tentu tidak asing. Istilah ini hampir setiap hari kita dengar, bahkan bentuk dan fisiknya dapat ditemui dimana saja. Umumnya warkop ada di perempatan jalan dan beberapa tempat strategis lainnya. Menurut definisi warkop adalah sebuah usaha kecil yang menjual kopi dan makanan ringan lainnya, seperti gorengan, kue-kue dan kerupuk.

Di beberapa tempat, istilah warkop berbeda-beda. Di Jogyakarta misalnya dikenal angkringan, di Sumatera disebut kedai. Belakangan warkop ini tumbuh pesat dengan berbagai fasilitas didalamnya. Ada wifi, koran, televisi, sound, dan buka 24 jam. Pertumbuhan warkop ini memang seperti tak ada pengaruhnya oleh gonjang-ganjeng kenaikan harga kebutuhan atau lemahnya nilai mata uang rupiah. Warkop terus tumbuh dengan peminat yang kian beragam, mulai para buruh, sopir angkot, mahasiswa, karyawan hingga para pejabat.

Sesuai namanya, warung ini menjual kopi dan beberapa minuman serta makanan ringan lainnya. Namun hanya kopi yang disebut untuk menyebut warung tersebut. Mungkin karena kopi menjadi pemikat dan menjadi minuman yang unik.

Disebut unik karena ngopi (minum kopi) memang berbeda dengan ngeteh atau ngejus. Minum kopi umumnya pelan-pelan, sedikit-sedikit, atau orang bilang diseruput (dihirup pakai mulut) agar merasakan nikmatnya secangkir kopi. Karena itu orang yang ngopi umumnya sangat lama, 1-2 jam, bahkan lebih. Minum kopi cepat-cepat itu bukan minum kopi klakarnya, tapi minum air gula.

Sejarah warung kopi di tanah air konon berawal dari tradisi orang Jawa yang nangkring (duduk santai) sambil ngobrol. Nangkring di angkringan mulai dilakukan pada tahun 1950-an oleh rakyat kecil yang berprofesi sebagai buruh, sopir, tukang becak dan delman untuk beristirahat. Namun, seiring dengan perkembangan, angkringan makin diminati banyak orang, mulai para buruh, mahasiswa, pegawai hingga para pejabat dengan sebutan yang berbeda-beda.

BACA: Mencari Inspirasi dari Secangkir Kopi

Yang menarik, di warung kopi ini masyarakat bisa saling ngobrol membicarakan banyak hal, mulai masalah kerjaan, masalah bisnis hingga masalah politik secara santai. Masyarakat juga bisa saling berdiskusi, mulai yang serius hingga yang lucu-lucuan. Bahkan masyarakat bisa saling bercanda sambil main gapley, main catur atau main game.

Yang tak kalah pentingnya, di warung kopi ini masyarakat juga bisa saling berinteraksi sembari menyaksikan tayangan sepak bola atau musik dangdut khas Jawa Timuran (dangdut koplo). Sepak bola dan musik dangdut memang seperti tayangan “wajib” yang diputar oleh pengelola warkop, khususnya warkop di Jawa Timur.

Karena itu, secara budaya, warung kopi telah menjadi semacam ruang sosial yang memberi pelayanan atau pusat interaksi sosial. Warung kopi juga memberi kesempatan kepada anggota masyarakat untuk berkumpul, membaca, berdiskusi, menulis dan menghibur satu sama lain. Singkatnya di warung kopi ini masyarakat bisa bertemu (face to face) lalu ngobrol mengenai isu-isu umum. Masyarakat saling berinteraski tanpa membedakan antara satu sama lainnya, semuanya setara dan inklusif.

Pemikiran Habermas
Menghubungkan pemikiran Habermas mengenai ruang publik (public sphere) dengan warkop di atas memang tidak mudah. Namun Brian Cowan telah melakukannya dengan penelitian yang mendalam. Di dalam bukunya The Social Life of Coffee: The Emergence of The British Coffeehouse (2005) mengatakan, bahwa keberadaan warkop besar pengaruhnya terhadap perubahan sosial di Inggris.

Sebagai diketahui, orang inggris mulanya tak punya tradisi minum kopi. Minum kopi adalah tradisi orang timur. Kalangan Ottomanlah yang memperkenalkan minum kopi ke mereka. Karena itu warung kopi di Inggris mulai popular pada abad ke 17 dengan istilah coffeehouse atau kedai kopi.

Kedai kopi kemudian muncul atas peran Virtuoso, kelompok elit lokal yang memiliki perhatian pada sastra, dan kebudayaan pada zaman renaissance. Minum kopi kemudian menjadi bagian dari aktivitas orang inggris. Menariknya, kedai kopi yang semula hanya untuk mencicipi secangkir kopi menjadi tempat belajar dan mendapatkan informasi.

Sesuai namanya, warung ini menjual kopi dan beberapa minuman serta makanan ringan lainnya. Namun hanya kopi yang disebut untuk menyebut warung tersebut. Mungkin karena kopi menjadi pemikat dan menjadi minuman yang unik.

Kedai kopi lalu dibanjiri 'teks' yang selalu dicari masyarakat sebelum berangkat kerja. Dampaknya kemudian, kedai kopi tak hanya menjadi tempat ngopi dan mendapatkan berita, namun juga untuk menyebarkan berita, baik soal ekonom maupun soal politik.

BACA: Model Warung Kopi Indonesia

Kedai kopi juga kemudian berfungsi sebagai tempat pertukaran informasi dari berbagai orang dan dari berbagai status. Semua orang dapat berbicara tanpa melihat kedudukannya, sehingga wacana publik mulai bisa ditentukan di kedai kopi ini, bukan hanya ditentukan di istana. Nilai-nilai di dalam kedai kopi inilah yang kemudian oleh Habermas disebut public sphere atau ruang publik.

Dengan demikian, menurut hemat penulis, kedai kopi di Inggris dan warung kopi di Indonesia mempunyai setting yang berbeda, namun memiliki nilai-nilai yang sama. Warung kopi jelas juga merupakan ruang publik yang menjadi tempat untuk bertukar pikiran dan perasaan.

Namun demikian, ada hal lain yang perlu ditingkatkan, yakni partisipasi masyarakat. Partisipasi yang “cair” dan “asyik” yang dapat melibatkan semua lapisan sosial perlu “diseduh” dan “dikocek” terus. Tujuannya adalah agar warkop mempunyai peran dalam membangun civil society.

Jadi, warkop kedepan tak hanya sebagai tempat nongkrong dengan hiburan dangdut mix koplonya saja. Melainkan juga dapat menjadi ruang publik yang mapan dan mampu membangkitkan kesadaran banyak orang.

Oleh: Abdus Sair
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS)

Disqus Comments