Air Terjun Jurug Coban di Gemaharjo

Jurug Coban. “Ayo Dod nyang Gunung Geger Tengu,” ajak Mas Surur melalui pesan whatsapp. Pesan tersebut mengingatkan saya bahwa kemarin sudah berjanji akan menemaninya naik Gunung Geger Tengu, salah satu gunung tinggi di timur Kecamatan Watulimo. Janji itulah yang memaksa saya untuk segera beranjak dari tempat tidur.

Misbahus Surur, sosok penulis bertalenta yang dipunyai Trenggalek, kelahiran Munjungan ini memang beberapa tahun gemar nrutus di seantero Trenggalek. Saya tahu, ia sedang menulis naskah mengenai riwayat Trenggalek. Barangkali saja aksi nrutusnya tersebut ada hubungannya dengan rencana tulisan-tulisan yang sedang ia garap. Buku karyanya yang sudah terbit adalah tentang riwayat seni jaranan asli Trenggalek. ”Turonggo Yakso: Berjuang Untuk Eksistensi” judul buku tersebut. Buku ini terbitan Yogyakarta pada November 2013 lalu.

Beberapa pekan, tampak dia sangat intens mengunjungi tempat-tempat di Trenggalek. Saya sendiri tidak tahu kenapa ia sampai mau melakukan pekerjaan yang melelahkan dan menguras keringat. Namun yang pasti aktivitas pelesiran ke pelosok Kabupaten Trenggalek ini selalu diabadikan dalam tulisan-tulisan, baik yang ia publikasikan secara langsung maupun tidak.

Jam 10.00 WIB, niat semula untuk pergi ke Gunung Geger Tengu ternyata berubah, pasalnya gunung tersebut berjarak cukup jauh dari tempat tinggal saya. Meski jalan menuju ke sana kabarnya sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Sepertinya kami memerlukan guide untuk menyertai dan menunjukkan jalan ke gunung. Dan mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, tentu untuk mencari seorang penunjuk jalan sangatlah sulit, dikarenakan juga aktivitas warga sekitar sangat padat, warga biasanya mencari nafkah ke hutan semenjak pukul 06.00 WIB.

Perubahan rencana perlu dilakukan, beberapa destinasi sempat menjadi bahan pertimbangan, namun setelah berpikir cukup matang, akhirnya kami memutuskan pergi ke Jurug Coban (air terjun jurug Coban). Jurug yang punya ketinggian maksimal ini dalam beberapa tahun diabaikan oleh penduduk setempat.

Jurug Coban bukanlah satu-satunya Air Terjun yang ada di Kecamatan Watulimo, beberapa waktu yang lalu saya, Mas Surur dan beberapa kawan lain pernah berkunjung ke Jurug Nanas dan Kedung Urang kambu yang ada di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo. Jika dibandingkan secara grambyangan, Jurug Coban memiliki tebing dua kali lipat lebih Tinggi dari pada Jurug Nanas, namun untuk debit air, di Jurug Nanas lebih banyak daripada di Jurug Coban.

Perjalanan kami mulai dari rumah saya, tepatnya di Dukuh Kocor, Desa Gemaharjo Kecamatan Watulimo, ditemani seorang guide dari penduduk setempat yang juga masih pamanku sendiri. Adik kandung ibu, tentu dipanggil Paman, bernama Pak Anto. Namun orang-orang lebih senang memanggilnya Kempleng. Untuk itulah dia sering juga dipanggil Anto Kempleng, mewakili nama akun Facebook-nya.

Mengambil jalur Bukit Apak Broto yang merupakan jalan alternatif menuju ke Pantai Prigi, kami mengarahkan sepeda motor menuju Jurug Coban. Jalan yang kami lalui adalah jalan beraspal. Meskipun aspal yang tergolong baru tersebut sudah rusak karena sering terkena gesekan roda kendaraan roda dua maupun roda empat bahkan roda 6 dan juga gerusan air hujan. Topografi Watulimo memang unik, sebenarnya merupakan bukit yang dihuni oleh masyarakat yang banyak. Jadi, bentukan relief Watulimo berupa jalanan naik dan turun, dan jika melalui jalur Bukit Apak Broto, jalanan ini menjadi jalan yang sangat naik dan sangat turun.

“Lewat kene ae, mas,” ucap Anto Kempleng sambil mengarahkan jari telunjuknya ke jalan setapak yang sering digunakan warga untuk pergi ke hutan. Selanjutnya motor kami arahkan melalui jalan kecil tersebut. Jalanannya curam dan licin. Kami bersikukuh untuk membawa motor sampai ujung jalan, supaya kami bisa menghemat tenaga. Beberapa menit bermotor, ternyata jalan ini sudah berujung, tepat di bawah pohon cengkeh yang menjadi tanaman paling dominan di antara tanaman-tanaman lain.


Hutan yang berada di antara Gunung Geger Tenggu dan Bukit Pak Broto ini bukanlah hutan yang tidak terjamah atau termasuk hutan belantara. Di sini merupakan hutan produktif yang diolah warga untuk menghasilkan produk-produk hasil pertanian. Tanaman jangka panjang warga adalah Cengkeh (Syzygium aromaticum), Manggis (Garcinia mangostana), Durian (Durio) ada juga tanaman yang tumbuh secara alami namun tetap dipertahankan warga, contohnya pohon Pucung atau juga disebut Kepayang (Pangium edule). Buah dari pohon inilah yang pada akhirnya menjadi ciri khas dari masakan Rawon. Selain tanaman berumur panjang seperti yang telah saya jelaskan di atas, ada juga tanaman penghibur yang bisa dinikmati petani setiap 6 bulan sekali seperti Ketela Pohon (Manihot esculenta), tanaman yang menjadi cikal bakalnya Nasi Thiwul, nasi khas Kabupaten Trenggalek.

Kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, menuruni tanah yang memiliki tingkat kemiringan 45 s/d 75 derajat. Kemiringan ini bukanlah perkara mudah bagi Mas Surur, yang kesehariannya lebih banyak tinggal di kota Malang. Ini tentu merupakan perjalanan sulit, perlu kewaspadaan tinggi untuk melangkahkan kaki. Sudah sekitar 8 tahun pula sebenarnya saya tidak melakukan perjalan berat, tepatnya semenjak lulus aliyah.

Sungai, itulah obyek pertama yang kami temui setelah menuruni jalanan miring tadi, sungai yang mengaliri Jurug Coban merupakan pertemuan dua sungai yang hulunya berada di timur daya (melintasi dukuh ngruno) dan barat daya (melintasi dukuh kocor) tempat tinggal ibu saya. Tak ada nama khusus untuk sungai ini. Penduduk yang sering bepergian ke hutan menamai sungai pada tempat-tempat tertentu saja. Misalnya pertemuan antara sungai dari dukuh kocor dan dukuh ngruno mereka namakan sebagai Tempuran (pertemuan). Tempuran bukan dialamatkan kepada sungai, namun lebih pada pertemuan sungai. Jadi penamaan yang diberikan penduduk bukan kepada obyeknya, melainkan pada lokasi-lokasi obyek tertentu. Contohnya lagi Sungai Kali Gereng, sungai yang berada jauh di bawah Jurug Coban, nama Kali Gereng merupakan sifat dari sungai yang nggereng (bersuara mirip erangan orang sakit) ketika terjadi kontak pertemuan dua arus sungai ketika debit air sedang tinggi, biasanya di musim hujan.



“Walah, ternyata awake nek duwure Jurang Jurug Coban” ungkap Anto Kempleng menjelaskan pada kami bahwa posisi saat kami berada di sungai ini berada di atas Jurug Coban, tak menjadi rintangan, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai yang debit airnya mulai menurun di setiap tahunnya.

Tepat berada di atas tebing Jurug Coban, terlihat sangat jelas view pantai prigi tanpa ada pepohonan yang menghalangi pandangan kami. Desa Prigi, Desa Sawahan, Desa Margomulyo menjadi satu dalam pandangan. Di atas tebing inilah kami beristirahat sejenak, memulihkan sisa-sisa tenaga untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju bawah Jurug Coban. Meskipun kami tau, tidak ada jalan setapak yang bisa kami lalui.



Wajah Mas Surur seketika menjadi merah hitam, pun dengan nafasnya yang ngos-ngosan, keringat sudah membasahi bajunya. Lelah, itulah kata yang tepat dialamatkan kepadanya. Tak berbeda dengan saya, tidak ada lemak yang dapat dibakar tubuh untuk diubah menjadi tenaga, meskipun lelah sudah menyerang kami berdua (Pak Kempleng sudah terbiasa) namun kami tetap melangkah turun.

“Dot, uwes nek kene ae, ambil foto terus muleh” kata Mas Surur karena kemiringan lereng mencapai 60-an derajat. Ia tak berani melangkah lebih jauh ke bawah. “Aku jek penasaran, mas. Mumpung wes nek kene, aku tak mudun pisan” timpalku. Mas Surur tetap berada di tempatnya berdiri, sedang saya dan Pak Kempleng kembali melanjutkan perjalanan ke bawah, menyibak ilalang dan memotong semak semak penghalang langkah kami.

Jurug Coban, tidak memiliki kedung sebagai penampung air yang jatuh. Air dari atas tertahan oleh tebing batu. Sebuah tebing dengan kemiringan sekitar 90 derajat inilah yang akhirnya menjadi jalan bagi aliran air menuju ke tempat paling bawah. Tidak ada bekas kikisan air hingga membentuk jalan air. Air yang jatuh membentuk tirai, jika kebetulan debit air tidak terlalu banyak.

Menikmati Jurug Coban tentu lebih indah ketika musim hujan, debit air pasti banyak, tebing-tebing yang kering pasti akan dilalui oleh luapan air. Dulu sewaktu kecil, saya pernah berada tepat di mana saat saya berdiri, kalau tidak salah waktu itu saya masih suka melakukan perusakan terhadap habitat asli sungai di Jurug Coban. Saya akui bahwa sifat gragas saya sewaktu kecil, sering melakukan kekejaman terhadap ikan ataupun udang di sepanjang sungai. Dari hulu sampai tepat di bawah kaki saya berpijak. Bukan cuma saya, orang-orang sekitar tempat saya dilahirkan juga mempunyai hobi yang sama. Mereka kerap berburu ikan dengan cara diracun, penyetruman, atau dikail.




Bagi saya, Jurug Coban menyimpan kenangan masa kecil. Tempat ini tidak banyak berubah, meskipun sudah 8 tahun berlalu. Dan tidak banyak pula yang bersedia memperhatikan Jurug tersebut, dikarenakan tempatnya tidak memiliki akses jalan memadai. Jarang ada orang yang ingin mengenalkannya. Mungkin perjalanan saya dengan Mas Surur serta Pak Anto Kempleng ini bisa memberitahukan bahwa ada waterfall indah berupa Jurug yang bernama Coban, di Desa Gemaharjo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Disqus Comments