Kedung Urang Kambu Desa Dukuh, The Selfie Corner Baru bagi Petualang

MTB ADVENTUR. Tak disangka-sangka ternyata Kecamatan Watulimo memiliki segudang keindahan yang masih tersembunyi dibalik rimbunnya pohon dan ilalang serta bambu, surga bagi mata kaum alay penyuka selfie ditempat terbuka. Inilah panorama paradise yang secara tidak sengaja disembunyikan oleh penduduk setempat supaya terlihat alami dan tetap mempesona.

Namanya Kedung Urang Kambu, terletak di Ketro, Desa Dukuh Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, lokasinya nyungsep hampir tak terdeteksi, kira kira 3 kilometer kebawah mengikuti aliran sungai searah dengan jurug nanas (jurug nanas saya sebut sebagai cobanrondonya watulimo). Ketika saya dan teman-teman Mbolang kesana, ada nuansa magis yang membuat mata langsung melotot takjub memandang birunya air dan terjalnya jurang.

Saya kagak lebay bro, ini fakta alam, sengaja saya kabarkan kepadamu supaya kegilaanmu hunting tempat nyelfie makin memuncak dan berkobar, itung-itung buat memberikan pengetahuan pada khalayak ramai yang sering bertanya Trenggalek itu mana? supaya tidak katrok mengakui potensi wisata alami di kotanya.

Menurut cerita guide yang memandu kami ke tempat tujuan, kedung ini dulunya dihuni oleh makhluk air bernama Urang Kambu. Urang Kambu adalah makhluk air sejenis udang yang hidup di air tawar serta memiliki ukuran relatif kecil, hidupnya bergerombol dan sering berbaris layaknya lomba gerak jalan. Nah karena spesies pendominasi kedung ini adalah Urang Kambu maka penduduk sekitar menamainya Kedung Urang Kambu, sebagai tanda bahwa disini dulunya rumah bagi Urang kambu.

Tapi sekarang jangan bertanya apakah Urang kambu ini masih ada atau tidak, saya tidak sempat ngecek keberadaannya, karena jika itu saya lakukan, takut kalau jiwa karnivor saya kambuh. jadi biarkan cerita Urang Kambu pergi bersama mereka, mudah-mudahan saja masih hidup sejahtera jauh dari jangkauan umat manusia.

Perjalanan dari jalan raya menuju urang kambu paling tidak memakan waktu hampir satu jam, roda dua tidak bisa sampai kesana dikarenakan akses jalan masih sangat sulit dan hanya jalan setapak saja. untuk bisa sampai harus dilalui dengan berjalan kaki, jadi memang sangat tepat jika saya menyebutnya sebagai selfie corner bagi petualang, karena perlu perjuangan dan korban keringat. Tapi pada waktu kesana, perjalanan kami sangat nikmat, karena ditengah perjalanan kami menemukan buah durian yang baru jatuh dari pohonya (pasti durian punya penduduk, maaf ya pak kami ambil sebagai penunda lapar).



TOPOGRAFY KEDUNG URANG KAMBU
Posisi letak Kedung Urang Kambu tepat berada dibawah batuan berongga, jadi secara langsung kita bisa menikmati pemandangan dari atas jurang (ada gua kecil dibawah batu), kami sangat berhati-hati ketika berada di bawah batu ini, dikarenakan bebatuannya penuh dengan lumut menandakan bahwa tempat ini tidak terlalu terjamah manusia.



Sekilas jika melihat photo diatas akan tampak seperti sungai dibawah tanah, dan pertama kali melihat pemandangan seperti ini rasanya ingin teriak WOW, this is Beautifull, tetapi dengan mengingat bahwa tempat ini masih sangat alami saya tidak berani mengeluarkan suara yang sekiranya mengganggu, karena menurut guide kami, pernah ada ular besar yang sering menampakkan diri di atas batu, jadi falsafah "dimana kaki berpijak, disitu langit dijunjung tinggi" benar benar kami terapkan. supaya kehadiran kami tidak menggangu siapapun.


Biru, hijau, sejuk, segar, mempesona, fantastis dan membahana, itulah yang bisa saya katakan. Nuansa kampung ditengah-tengah hutan mengingatkanku akan perjuangan seorang Rambo menghadapi para penyandera di hutan thailand di dalam film THE FIRST BLOOD. Namun bedanya bukan kewaspadaan terhadap tembakan musuh, tapi pada gigitan pacet, semacam Lintah tapi berbentuk kecil. Kewaspadaan ini bermula ketika salah seorang crew telah menjadi korban penghisapan darah Pacet, mengerikan.

Membicarakan Pacet tentu tidak jauh jauh dari susana hutan tropis, jelas bahwa hewan semacam lintah dan pacet hidup di tanah ber-contour lembab namun bersih dari zat kimia. So jelas sekali jika kawasan ini masih disebut alami. Menurut keterangan Misbahus Surur, Urang atau Udang adalah penanda bahwa kualitas air sungai masih bersih, seperti halnya pacet yang menandai akan ke-alami-an tanah disekitar sini.

Hem, perjalanan kami lanjutkan menuju ke bawah sungai, kedung kecil dengan air biru yang terbentuk dari gerusan air terjun ini juga tidak kalah indah dibandingkan dengan pemandangan dari atas. Akan tetapi karena lokasi ini sering tidak terjamah, banyak sampah-sampah "alami" yang bertebaran di dalam kedungnya. Alangkah indah ya jika dibersihkan.

Naaaaah, inilah full penampakan dari Kedung Urang Kambu, sangat eksotis broooo. Nggak nyesel saya dan crew capek-capek kesini. Rasa lelah dan letih terbayarkan dengan memandang panorama paradise yang disuguhkan Tuhan kepada makhlukNYA. Meskipun banyak kayu yang berserakan tapi itu tidak tergolong sampah berbahaya, suatu saat kami pasti datang kesini lagi, dengan membawa perlengkapan perang untuk menuntaskan sampah-sampah berserakan.

Watulimo khususnya Desa Dukuh masih banyak menyimpan keindahan yang sampai saat ini belum masuk di internet, petualangan kami berikutnya bakal menyuguhkan kejutan-kejutan manis bertema wisata dengan nuansa pedesaan. Apa kalian ingin ikut?

Disqus Comments