Pengertian KEPO (Knowing Every Particular Obyek)

Bangun tidur pagi ini rasanya beda dengan pagi-pagi sebelumnya, mungkin karena efek 10 cangkir kopi hitam untuk Trenggalek yang mempengaruhi semangat diri, pesan yang diutarakan pada saat itu adalah, tetaplah berkarya (baca: menulis) meskipun pada waktu yang sangat sibuk, toh kesibukan itu sebenarnya berasal dari kita sendiri kan?, berpikir bagaimana cara menggapai masa depan terkadang dapat melupakan bagaimana cara menikmati masa yang kita lalui, jadi sibuk itu kita sendiri yang buat.

Kalau tidak salah, supaya selalu ada karya, kita harus mengaktifkan diri ke dalam mode KEPO, meminjam dari kamus gaul anak alay jaman sekarang, kata Kepo kependekan dari kalimat Knowing Every Particular Obyek, secara harfiah, dalam bahasa indonesia diartikan sebagai (kata) sifat rasa ingin tahu seseorang terhadap setiap bagian obyek, jadi sebutan kepo yang (mungkin) pernah di alamatkan kepada banyak orang (termasuk kamu) ini bermakna, “Kamu adalah orang yang selalu ingin tau tentang what, who, when, where, why, dan how dari obyek tertentu.

Kepo tidak termaktub di dalam kamus “EYD” bahasa indonesia, Kalau saya boleh bilang, kata semacam Kepo, Baper, Mager dan Kupdet merupakan kata yang telah diciptakan oleh anak-anak gaul yang secara cepat bisa dipahami oleh banyak orang, jadi kata yang saya sebutkan di atas sifatnya "sah" sebagai kata penambah khazanah perbendaharaan kata, salah satu situs portal “kamus gaul Indonesia.” mengesahkan kata tersebut.

Orang-orang semacam Einstein, Thomas Alfa Edition, Michael Faraday dan para ilmuwan penemu lain merupakan orang yang paling tinggi dalam menerapkan estetika kepo, coba bayangkan jika saja Charles Babbage tidak pernah kepo tentang bagaimana caranya membuat komputer, mungkin kita belum mengenal apa itu komputer. Bahkan jika saja Les Paul Gibson tidak membuat gitar listrik, mungkin dewa bejana si gitaris Band Gigi tidak akan menjadi gitaris terbaik Indonesia. Bisa saja orang bali tersebut malah menjadi menjadi dewa kecapi, bukan dewa gitar.

Kembali kepokok permasalahan guys, apa hubungan karya dengan kepo? Karya (tulisan) yang bagus selalu berisi muatan data dan pokok bahasan yang jelas, kalau ada karya tulis yang tidak memuat unsur tersebut berarti tulisannya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Untuk menulis bagaimana rasa ikan kakap maka kita harus kepo mengenai ikan kakap. Mulai pertanyaan apa itu ikan kakap, dimana bisa mendapatkan ikan kakap? bagaimana cara memasak ikan kakap dll. Intinya kepolah sebelum membahas sesuatu. Yang menjadi pertanyaan, apakah ada karya tulisan yang tidak mempunyai pokok bahasan? Pasti tidak ada, setiap kalimat selalu memuat SPOK- Subyek, Predikat, Obyek dan Keterangan. Berarti karya tulis adalah karya hasil kepo.

Kenapa kita harus kepo? Jawabannya simple, supaya kita tidak sampai salah membuat karya tulis. Misalnya saja ingin membuat artikel dengan judul “mimpi-mimpi besar Emil Dardak untuk Trenggalek” kalau tidak melakukan wawancara “kepo” kepada yang bersangkutan ya nggak bakalan jadi tulisan yang benar, masak iya mau nulis Emil dardak tapi yang diwawancarai Mas Rochim, Mestinya nanti bakal jadi tulisan “Mimpi-mimpi besar Mas Rochim untuk Trenggalek. Iya to?

Sayangnya banyak orang yang sengaja terjun menjadi “penulis” atau pewarta yang tidak mengaktifkan mode Knowing Every Particular Obyek. Kita tau kawan, ada salah satu media online di Trenggalek yang saat ini sedang gencar melakukan kopi paste secara masal, bahkan tidak berperikemanusiaan, mereka tidak sampai “kepo” kenapa artikel tersebut ditulis? dan juga tidak ingin tau bagaimana susahnya menulis. Tanpa izin kepada si pembuat tulisan mereka melakukan plagiat secara intens dan masif.

Untuk mengindari copy paste yang notabene lebih mengutamakan target posting-an dari pada ke-otentikan tulisan, maka ada aturan yang harus kamu lakukan. Sebenarnya kamu kan sedang tidak menguasai materi, dan parahnya kamu tidak mejadi kepo. Makanya ketika kamu menginginkan untuk membahas “Bandara di Trenggalek” kamu langsung research di google dan ketika sudah menemukan artikel sesuai dengan bahasan yang kamu inginkan, kamu langsung melakukan copy paste. Apapaun alasanmu, karena tidak berusaha untuk kepo, kamu sama sekali tidak berusaha memahami materi. Makanya ketika ada tulisan panjang yang judulnya asyik, ternyata isi tulisannya sama dengan tulisan di salah satu portal ternama di Indonesia, itu sangat mengecewakan guys.

Saya membicarakana konteks Trenggalek loh, Kota yang belum terlalu “kepo” dalam melakukan pembangunan, Kota yang mungkin tidak “kepo” mengenai bagaimana cara menumbuhkan UMKM untuk menghadapi MEA (padahal mea sudah berjalan). Ke”kepo”an para pemangku kebijakan mungkin terbatas pada “apa materi yang bagus untuk berpidato masalah mea?” namun tidak berusaha “kepo” mencari tau formula yang bagus untuk menumbuh kembangkan para pelaku usaha. Jadi suasananya masih hambar.

Untuk itu, karena Kepo dipandang sebagai sikap yang positif (kalau kamu merasa sebutan kepo kepadamu itu negatif, mungkin kamu yang salah menerapkan “kepo”), tidak ada salahnya untuk selalu bertanya. Nah agar tidak salah, bertanyalah langsung kepada si obyek (Oh ya kamu bisa bertanya kepada orang lain jika memang obyeknya adalah seorang penipu). Namun tetap perhatikan koridor pertanyaan, supaya kamu tidak di katakan kepo (dalam artian kebanyakan bertanya yang bukan urusanmu). Dasar Kepo.

Disqus Comments