Pasar Sebo, Mas Roin dan Kopi Gratis

Pasar merupakan perpaduan antara sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur. Pasar menjadi pertemuan antara penjual (pedagang) dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli. Lama kelamaan pasar menciptakan hubungan kausalitas antara penjual dan pembeli, rasa saling membutuhkan antara keduanya, menjadikan pasar sebagai pusat perdagangan. Karakteristik pasar sangat ditentukan oleh kebudayaan masyarakat yang menggunakan pasar tersebut.

Pasar Sebo, berdiri pada tahun 1990 (setahun setelah saya lahir di gemaharjo "apa hubungannya?) sebagai pasar induk kecamatan Watulimo, tepatnya berada di Desa Slawe. Dikelola langsung oleh Dispenda Kabupaten Trenggalek, memiliki luas lahan 1892 M² dan luas bangunan 892 M². Sesuai catatan yang ada di situs dispendakabtrenggalek.com, Pasar Sebo telah direnovasi akhir pada tahun 2014.

Wage - Pahing - Legi, itulah hari-hari pasaran di Pasar Sebo, menjadi penyesuai hari-hari internasional yang telah dibakukan. Jadi tidak seperti Pasar Senin, pasar Kemis dan Pasar Minggu, juga tidak seperti Pasar Pahing, Pasar Pon dan Pasar Wage, akan tetapi, di sini memakai perpaduan antara hari internasional dan hari jawa. Misalnya hari Senin Wage, Kamis Pahing, Minggu Legi. Bisa dikatakan, yang dijadikan acuan dalam penetapan pasaran di Pasar Sebo, mengiktui Hari-Hari Jawa.

Pada hari-hari tersebut Pasar Sebo terlihat aktif layaknya pasar pada umumnya. kamu yang tinggal di sekitar Pasar Sebo tentu sangat memahami kondisinya, seperti: orang-orang berjubel di jalan raya dan di dalam pasar, supir mobil angkot yang parkir di tempat seenak udelnya, suasana orang-orang melakukan tawar menawar harga dan barang, atau ada banyak laki-laki duduk di atas sepeda motor menanti istri, ibu, adik, kakak belanja di dalam pasar.

Pasar Sebo tergolong pasar tradisional, makanya saya menyebut pada paragraf di atas mengenai suasana tawar menawar harga atas barang tertentu. Jadi kesannya rame, merakyat dan melegenda. Sangar berbeda dengan pasar moderen yang notabene salam, senyum, sapa (percayalah, itu tidak tulus) dengan harga yang tidak bisa lagi ditawar (ya, karena sudah ditentukan), sepi dan tidak memihak pada pengusaha kecil.

Di sudut kanan pasar (apabila kamu menghadap ke barat) ada kios seukuran 4 M², pada tahun 2000-an, seingat ku, kios tersebut digunakan untuk jualan spare part peralatan elektronik. Namun sekarang, kios tersebut berubah menjadi tempat produksi aneka souvenir khusus hajatan. Misalnya souvenir pesta perkawinan, bukan hanya itu, layanan cetak undangan sesuai pesanan pun ikut melengkapi.

Pemiliknya bernama Mas Roin, para koleganya senang memanggilnya Jozuna, pria berpostur kurus namun tinggi asli penduduk Desa Slawe, tempat dimana Pasar Sebo berdiri kokoh semenjak 25 tahun lalu.

Sekilas tidak ada yang spesial darinya, jenggot jarang-jarang dan potongan rambut model cepak , mengisyaratkan bahwa Bapak dari dua orang anak ini "normal" dipandang sebagai manusia pada umumnya. Tidak banyak tingkah (kalau di rumah), namun sangat senang melakukan nge-trip, mendaki gunung dan melewati lembah. itulah gambaran singkat mengenai Mas Roin.

Mas Roin dan Pasar Sebo merupakan paduan apik nan ciamik untuk menggambarkan kondisi pasar sebenarnya, namun saya tidak akan menceritakan bagaimana pasar berjalan, karena terlalu saru bagi orang yang jarang-jarang pergi ke pasar namun bercerita tentangnya.

Saya lebih suka membahas sosok Mas Roin. Jika saya pulang ke Watulimo, Kalau pas tidak ada waktu untuk bekerja (cuma nggaya saja coy), mesti saya sempatkan diri nongkrong di rumah Mas Roin, Pemilik kios penyedia berbagai souvenir mantenan beserta antek-anteknya. Karena di tempat ini lah biasanya saya banyak mengeluarkan sumpah serapah tak berarti, namun saking "bodohnya" dia, kata-kata saya yang menurut ukuran orang "minteri" dikatakan sebagai kata-kata tanpa nilai ekonomis, tetap dia dengar. Kadang dia menyela dengan separuh tenaga, terkadang selaan-nya berlanjut sampai pertemuan berikutnya.


Pernah suatu ketika dia menulis persoalan mengenai "sadar itu mahal" (sebenarnya tulisan orang), inspirasi yang didapat dari aksi bersih pantai beberapa bulan yang lalu. Tulisan dalam bentuk tautan tersebut sontak membuat saya birahi untuk segera meng-komentar-i. Heem perdebatan itu sampai saat ini masih bermasalah, buktinya kalau saya sedikit menyindir mengenai hal tersebut, dia langsung "beringas", seperti beringasnya dia ketika kopi yang tinggal sak seruput ditumpahkan oleh anak pertamanya.

Seperti biasa, kalau pas saya duduk manis di kursi untuk konsumen, beberapa menit setelah itu, mesti istrinya datang membawakan kopi hitam, satu untuk ku dan satu untuk Mas Roin. Mungkin kopi bagian-nya adalah kopi yang kesekian kali dalam sehari. kita sebenarnya memiliki kesamaan, sama-sama menyukai kopi, entah buatan istrinya, atau buatan istri orang lain, atau kopi buatan pelayan "kafe".

Sesekali dialah yang membuatkan aku kopi, dan sesekali juga aku ngemom beberapa batang sempulur darinya, atau sebaliknya. Namun, sekali saja, dia belum pernah minum kopi buatan tangan ku. Dan inilah titik kelemahan yang sampai saat ini belum bisa aku kuatkan, kapan-kapan saya ingin membuatkan kopi untuk Mas Roin. Kapan-kapan kalau saya sudah punya kios plus wifi.

Mas Roin, selain beraktifitas memproduksi berbagai keperluan souvenir, dia juga masih melanjutkan hobinya saat muda, hobi "pacaran", namun tidak dengan gadis perawan, tapi dengan alam-alam yang masih perawan, atau alam-alam yang akan dia "ubah" menjadi seperti perawan.

Dialah salah satu punggawa Niponk, berbagai kegiatan tahunan selalu dia gelar, namun kegiatan ora pati nggenah yang dia tekuni tidak membuat usahanya bangkrut, malah sebaliknya, usahanya makin dikenal, Souvenir telah banyak dibeli, dibantu oleh mulut-mulut rekan seperjuangan Niponk, mereka mendukung usaha Mas Roin. Usahanya berjalan, merawat alam pun juga berjalan, jadi bisa bersinergi, mungkin alam mendoakan dia agar selalu tercukupi.

Pasar Sebo, Mas Roin dan Kopi Gratis, adalah nada yang mengalun dalam kepastian, Bersenandung dikala malam. Ada yang spesial dari kios Mas Roin, beberapa tulisan, sukses saya posting di Mas Trigus Blog, saya tulis di sana, di Pasar Sebo, Kios Mas Roin, kopi gratis dan wifi gratis. Terimakasih atas jalinan persahabatan. Semoga tidak waleh-waleh memberi saya gratisan.

Disqus Comments