Selamat Tinggal Petromax

Beberapa waktu lalu, karyawan dari perusahaan Taksi di Indonesia yang namanya mirip logo Twitter (sebenarnya saya ingin mengatakan bluebird) melakukan aksi demonstrasi menuntut supaya pemerintah memblokir layanan transportasi berbasis online, seperti Uber dan Grab. Disinyalir layanan taksi pemakai aplikasi online, bakal menjadi momok sebab ter-kurang-i-nya pendapatan para sopir taksi dan perusahaan taksi, yang saat ini masih menerapkan sistem konvesional.

lalu apa yang mereka permasalahkan? sebenarnya sepele, perusahaan taksi ini tidak terima jika ada saingan dalam bisnis, apalagi bisnis saingan-nya lebih bagus dari pada bisnisnya sendiri. Kita tau bahwa, jika perusahaan taksi sama-sama menerapkan model konvesional, maka si burung biru selalu berada di posisi paling atas, mengalahkan perusahaan yang lain. Sebaliknya, jika burung biru tidak segera mengikuti perkembangan zaman, menciptakan inovasi baru semacam aplikasi online, tentu akan dikalahkan oleh inovator baru yang bisa memanfaatkan peluang. jadi secara langsung saya ingin mengatakan kepada mereka, "selamat datang di dunia modern" dunia yang penuh dengan inovasi.

Manusia jaman sekarang maunya serba instan bro, karena efektifitas sangat diperlukan untuk menghadapi tekanan (kerja). Untuk mengatasi tekanan tersebut, manusia perlu sesuatu yang cepat, misalnya: makanan instan, transportasi instan, duit instan, bahkan untuk urusan selangkangan pun manusia maunya instan. Instan ini berarti kan mudah, cepat saji istilahnya. Aplikasi online ternyata bisa menjawab keinginan manusia era 20-an yang serba instan. Dalihnya adalah efektifitas, maunya mudah, tidak repot tapi tetap nyaman. Pernah denger kan, transaksi jasa "belaian" artis muda indonesia? kalau tidak salah juga pakek aplikasi online. Nggak perlu basa-basi kan?

Trenggalek ternyata tidak ketinggalan, efek modernisasi jaman terasa semenjak Tahun 2007, nyata-nyata di tahun tersebut telah ada dinamika inovasi yang jelas mengambil (baca:mengusur) peran masyarakat penyedia jasa lampu konvensional. Yang membedakan dari kasus di paragraf pertama adalah, jika bluebird mempermasalahkan layanan aplikasi online, sedangkan masyarakat penyedia jasa lampu di Guo Lowo menyoalkan penerangan dari PLN. Jadi sebelum bluebird merasakan efek inovasi, para warga penyedia lampu di Gua Lawa (baca: Guo Lowo) sudah belajar banyak dari kondisi yang serupa.

Guo Lowo (GL) sekarang, bukanlah Guo Lowo dulu. Jika sekarang ada lampu penerangan elektronik di dalam Gua, dulu pengunjung masih memakai petromax. Kalau sekarang Guo Lowo dijaga oleh penjaga bayaran pemerintah, dulu masih dijaga oleh para guide (warga sekitar). Kalau dulu orang masuk tidak bayar, sekarang ya Rp. !0.000 per kepala, Nggak peduli kepalamu botak atau kepala mu gondrong, pokoknya ada kepala, ya segitu harga tiketnya.

Lampu-lampu di Guo Lowo tersebut ternyata menyisakan kepedihan bagi para penyedia Petromax, lampu yang di hidupkan dari minyak spiritus itu kini hanya menjadi bahan antik. sebelum PLN datang, Petromax sempat menjadi salah satu penerangan pengganti Ublek (kaleng berisi minyak tanah dan sumbu). Petromax dimanfaatkan masyarakat sekitar GL untuk disewakan kepada pengunjung sebagai lampu penerangan, jadi bisa disebut sebagai sumber penghasilan warga.

Inovasi tidak bisa dihentikan, PLN "menjajah" sampai pelosok desa, Kabel listrik terpasang cantik di atas tiang-tiang listrik, hingga akhirnya pengelola GL memutuskan untuk memasang lampu penerangan dari listrik. Nah, tidak bisa dihindari, Gua yang semula gelap gulita menjadi terang. Tidak ada alasan masuk akal bagi para penyedia petromax untuk tetap melanjutkan aktifitas seperti biasa. Meskipun ini sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian, namun tidak menghentikan warga untuk berinovasi kembali. Banyak diantara penyewa petromax beralih profesi sebagai penjual makanan dan cinderamata.

Perkembangan selalu menyisakan kepedihan, selalu ada korban, bagi saya itu adalah suatu yang wajar. Tidak ada keabadian seseorang untuk memperoleh penghasilan, tumbuh satu mati satu. Tentu kamu ingat bagaimana warung telkom (wartel) dulu ramai dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berkomunikasi, tapi sekarang harus rela tergusur ketika handphone datang, menjamur di kehidupan manusia.

Jika kebetulan kita sedang di saingi oleh inovasi baru yang lebih mutakhir, tidak perlu kesal dan merasa terdzolimi, cukup berhenti sejenak lalu kembali ber-inovasi. Menciptakan peluang demi peluang untuk menghasilkan uang. Masyarakat sekitar Guo Lowo yang dulunya berprofesi sebagai penyedia lampu petromax saja bisa Move on, tentu yang lain bisa. Jadi begitu ya bluebird, jangan kesal dengan perkembangan, toh kamu kan sudah lama menikmati keuntungan besar, so ikhlaskanlah dan berinovasilah!

Disqus Comments