Jurug Nanas Desa Dukuh, Eksotisme Air Terjun ala Pedesaan

Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, ternyata menyimpan eksotisme keindahan alam yang sampai saat ini belum terjamah oleh banyak tangan manusia. Misalnya saja Air Terjun Jurug Nanas, Kedung urang kambu, kedung Sumber Anget dan tempat-tempat alami lain. Jika saja lokasi ini dikelola dengan baik, pasti bakal menambah jumlah destinasi wisata (khususnya Desa Wisata) yang ada di Trenggalek, Kecamatan Watulimo.

Rasa penasaran kami bermula dari informasi beberapa orang yang mengatakan keindahan tempat-tempat yang kami sebutkan di atas. Dengan berbekal rasa penasaran inilah akhirnya kami memutuskan untuk menyambanginya, ditemani seorang guide yang merupakan penduduk asli Dukuh.

Sesampainya di sana, Tak ada yang bisa kami katakan kecuali rasa takjub akan keindahan Desa Dukuh, panorama alam yang masih perawan, eksotisme air terjun jurug nanas, birunya kedung urang kambu, hangatnya air kedung sumber anget, nikmatnya makan durian terbaik, manisnya buah manggis yang dipetik langsung dari pohon, serta ramahnya penduduk setempat ketika menyambut kehadiran kami. Inilah sesungguhnya Desa yang mampu membuat kami terlena.

Desa Dukuh dengan segudang potensinya memang tidak cukup hanya berjalan ditempat dan "menunggu" saja, Perlu berbenah diri, Perlu komitmen dan konsistensi warga (Karang taruna), perlu tangan-tangan ahli untuk bisa menyulap Dukuh menjadi destinasi wisata baru di Kecamatan Watulimo. Dalam impian warga Dukuh setidaknya Desa ini mampu menjelma menjadi Desa Wisata dengan suguhan kearifan lokal serta potensi lain yang belum terjamah.

Fokus pembahasan kali ini adalah mengenai Jurug Nanas, air terjun yang konon katanya waktu dahulu banyak ditemui buah nanas di sini, namun seiring bergantinya waktu, buah nanas yang menjadi icon utama jurug ini telah raib ditelan masa.

Jurug ini berada di antara semak-semak belukar, jauh dari rumah penduduk dan di sekelilingnya banyak terlihat bambu, ada banyak jenis bambu yang ada di sekitar jurug nanas, diantaranya bambu kuning (preng kuning), bambu petung (preng petung), bambu ori (preng ori), bambu jawa (preng ijo). Dalam benak saya jurug ini sekarang pantes kalau disebut sebagai jurug bambu, karena yang lebih mendominasi area jurug adalah bambu, bukan buah nanas.



Pada saat musim liburan, ada beberapa pelajar di sekolah yang ada di Watulimo memanfaatkan jurug ini sebagai tempat untuk mengenal alam, istilahnya jelajah alam. Dan di hari-hari biasa, jurug ini hampir tidak ada yang menyambangi terkecuali para penduduk yang kebetulan garapan tanahnya berada di seputaran jurug.



Kami berkunjung ke jurug nanas, merupakan bagian dari rangkaian kunjungan untuk melakukan eksplorasi potensi wisata, bukan untuk tujuan eksploitasi, akan tetapi guna menambah perbendaharaan referensi destinasi wisata yang ada di Watulimo. Di sini kami sudah bisa mengambil kesimpulan, bahwasanya harmonisasi paduan alam di Desa Dukuh masih sangat terjaga, saya rasa karena penduduk setempat memahami bahwa antara alam dan manusia mempunyai hubungan simbiosis mutualisme yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan.



Dan akhirnya, kunjungan mbolang yang telah kami niatkan sedari awal ini telah memberikan pelajaran berarti bagi kami, jangan pernah merusak alam jika kehidupanmu tidak ingin rusak. Jurug Nanas dengan segala keindahannya telah memberikan nuansa damai, nuansa alam yang masih alami dan mampu menyadarkan kami bahwasanya menjaga alam adalah kewajiban kita bersama.



Jurug Nanas Desa Dukuh, Eksotisme Air Terjun ala Pedesaan yang membuat kami ingin menuju kesana lagi untuk mandi, supaya daki-daki kapitalisme yang semakin hari semakin menggoda bisa larut dan terbawa oleh air jernih nan dingin menuju air laut. Kami sangat bahagia.

Disqus Comments