Pembangunan Jalur Lintas Selatan, Solusi Peningkatkan PAD Daerah

Jalur Lintas Selatan atau disingkat JLS merupakan jalur yang menghubungkan 8 kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur yakni  Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Megaproyek Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini merupakan upaya untuk dapat menghubungkan antarkabupaten melalui jalur darat supaya lebih dekat dan lebih mudah untuk ditempuh. Selain itu, niatan baik pemerintah ini juga merupakan upaya untuk dapat mengangkat perekonomian masyarakat.

Provinsi Jawa Timur mempunyai jaringan jalan di utara dan selatan. Keberadaan jaringan jalan di antara keduanya tidak sama baik dalam volume lalu lintas maupun kapasitas jalannya. Perbedaan paling nyata adalah pergerakan lalu lintas barang dan manusia di wilayah utara lebih cepat jika dibandingkan dengan wilayah selatan. Untuk menghubungkan antarkabupaten/kota di wilayah selatan tidak akseleratif, sehingga konsentrasi kegiatan perekonomian hanya berada di wilayah utara dan sekitarnya. Kondisi yang demikian akan menimbulkan pengaruh (dampak) yang kurang baik bagi pertumbuhan wilayah. Padahal apabila dilihat dari potensinya, wilayah selatan lebih potensial dan kelestarian lingkungannya masih terjaga baik.

Jalan yang membentang Banyuwangi-Pacitan ini diperkirakan memiliki panjang 673,872, dan sudah menelan biaya sebesar Rp 2,423 triliun masa pengerjaan mulai tahun 2002 s/d 2015  (versi Tribun-news online). Dan kini, di tahun 2016 proyek yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian Provinsi Jawa Timur sudah hampir mendekati finish.

Kabupaten Trenggalek, adalah salah satu Kabupaten yang terlintasi Jalur Lintas Selatan, seperti yang penulis ketahui, bahwa saat ini jalur tersebut masih dalam tahap pengerjaan. Meskipun belum 100% jadi (khusus Kabupaten Trenggalek), namun sudah dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Sebagai contoh jalur yang dibangun di Kecamatan Munjungan, jalur ini sudah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai fungsi jalan transportasi. Dampak positif lainnya adalah, bagi warga Trenggalek yang bepergian ke Pacitan atau sebaliknya, dapat memanfaatkan akses jalan ini yang tentunya lebih efisien. lebih mudah dan lebih dekat.

Kondisi topografi wilayah Kabupaten Trenggalek didominasi oleh daerah pegunungan yang relative subur, dengan demikian kawasan ini memiliki potensi cukup menjanjikan seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, pariwisata, pertambangan, industri, kelautan, perikanan dan peternakan. Dengan dibangunnya infrastruktur Jalur Lintas Selatan diharapkan akan memberi angin segar bagi pertumbuhan perekonomian di wilayah tersebut.


Ada 3 kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang terlintasi oleh JLS, yaitu Kecamatan Watulimo, Kecamatan Munjungan dan Kecamatan Panggul. Ketiga kecamatan tersebut memiliki potensi wisata berupa pantai. Tidak bisa dipungkiri, bahwa keberadaan ke-tiga kecamatan tersebut sangat membantu income bagi Trenggalek. Destinasi wisata merupakan salah satu penyumbang PAD bagi Kabupaten Trenggalek. Dan apabila dimaksimalkan dengan baik, tentu lebih banyak lagi memberikan PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Tentu perubahan yang terjadi pada akses jalan ini sangat berpengaruh pada tingkat keramaian Trenggalek, terutama ada jalur vital JLS. Bisa jadi apabila jalur ini sudah jadi 100% dikerjakan, Kecamatan Watulimo, Kecamatan Munjungan dan Kecamatan Panggul akan lebih ramai dari pada biasanya. Terlebih dengan keberadaan wisata yang sejalur dengan Jalur Lintas Selatan. Penulis sendiri mempunyai anggapan bahwa, akan lebih mudah meningkatkan taraf ekonomi masyarakat seiring dengan pembangunan JLS.

Pembangunan Jalur Lintas Selatan di Kabupaten Trenggalek diharapkan akan membuka akses jalan masyarakat desa yang hidup diberbagai pelosok desa pesisir, sehingga bisa meningkatkan perputaran uang, karena dengan cepat dapat melakukan penjualan hasil pertanian dan perikanan (tangkapan laut), selain itu dapat juga menarik minat kalangan investor untuk menanamkan investasi di Kabupaten Trenggalek.

Kendati demikian, apabila kesiapan masyarakat dalam menyambut JLS tidak benar-benar dipersiapkan, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Hal ini bisa disebabkan oleh mental dari masyarakat itu sendiri. Bagaimanapun juga, sesuatu yang baru harus ditanggapi dengan pola pikir yang baru.

Faktanya, masyarakat Trenggalek sendiri sudah melakukan upaya untuk dapat memaksimalkan peran JLS bagi peningkatan taraf ekonomi mereka. Secara kasat mata, saat melewati JLS dari Trenggalek menuju Pacitan, penulis melihat banyak aktivitas masyarakat pedesaan yang mulai menggeliat. JLS, selain memudahkan akses dan distribusi barang serta jasa,  juga merangsang masyarakat untuk bangkit membuka peluang usaha mandiri.

Misalnya saja sekarang sudah banyak Usaha mandiri baik yang bersifat individual maupun kelompok mendirikan toko-toko kelontong, toko palen (material bangunan), warung makan, bengkel di beberapa titik sepanjang JLS. Ini merupakan bukti bahwa masyarakat sudah mulai berbenah.

Aktivitas semacam ini tentu menggembirakan, setidaknya bagi penulis sendiri. Artinya, dengan menyaksikan semangat warga dalam menyongsong era baru (jalur JLS) penulis merasakan akan ada banyak kemajuan bagi perekonomian masyarakat Trenggalek. Setidaknya upaya ini dapat mengikis anggapan bahwa Trenggalek adalah kota tertinggal, kota gaplek dan kota yang jauh dari peradaban.
Meningkatnya ekonomi masyarakat tentu berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Trenggalek. Meningkatnya PAD tentu berpengaruh terhadap kemakmuran Trenggalek. Apabila Trenggalek sudah berdaya dengan anggaran, tentu imbasnya akan kembali kepada masyarakat. Dengan begitu, Proyek besar Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Hadirkan Solusi Seiring Inovasi - Inovasi Infrastruktur bagi masa depan bangsa.

Sumber gambar sampul: www.lensaindonesia.com

Disqus Comments