Bantu saya menjaga blog ini tetap hidup. Ingin sedekah pulsa? di nomor ini: 0812 3175 6711

Berhentilah Menangis, Anakku

Dia, anakku yang pertama, berjalan menghampiriku saat aku sedang duduk-duduk di teras rumah. Dari kejauhan, tampak rona kesedihan pada kulit wajahnya yang masih lembut, bibirnya agak turun ke bawah. Tampak bahwa ia sedang bersedih.

Seperti biasanya, saat ia mendatangiku dengan kesedihan, aku hampiri dan menyambutnya dengan pelukan, serta kutanyakan kepadanya: “Nyapo le, nyapo kok nangis?” Saat kutanya seperti itu, biasanya ia langsung mengutarakan maksud kesedihan yang telah meliputinya.

Anakku masih berusia 4 tahun, namun sedari ia sudah mampu mengenali masalah-masalah yang ada di sekelillingnya, telah kuajarkan bagaimana ia dapat mengutarakan isi hatinya pada orang yang tepat. Kadang aku harus membujuknya dengan dua buah permen lolipop supaya ia mau jujur kepada bapak dan ibunya. Dan kini, diusia 4 tahun, ia sudah bisa mengatakan isi hatinya tanpa membawa unsur-unsur pengaduan, seperti mengadukan kejahilan teman sebayanya. Ia tidak suka mengatakan temannya nakal, ia hanya mengatakan bahwa ia tidak di-baturi, misalnya.

Namun siang itu, ia menghampiriku dengan ketakutan, meski sebenarnya aku tahu yang telah terjadi padanya di depan rumah bersama anak tetangga dan pengasuhnya. Namun ketahuilah pembaca, mana mungkin aku melakukan penilaian subyektif tanpa harus mendengar kesaksian dari apa yang dia rasakan. Sungguh, sejatinya dalam hati ini ingin menangis saja.

Ia mengatakan sesuatu saat aku menanyainya, “Yah, aku melek seng dimaem si kancaku, terus aku njaluk tapi ola dipalingi” Dengan nada yang belum beteh—karena sebagian giginya habis terkikis dan belum menunjukkan gejala gigi tumbuh, asumsiku ia senang ngedot. Ia menjelaskan apa yang telah dia alami. Dari kejauhan, wanita berusia tua berusaha menjelaskan kepadaku tanpa berupaya untuk mendekat. Dia berteriak –bukan teriakan menghardik atau marah, tapi lebih pada meninggikan suara supaya orang mendengarnya dari kejauhan—“Wonge maeng njaluk jajan iki ta, gek diwei separo emoh, njaluke kabeh”.

Aku mendengarkan suara dengan sangat jelas, namun sebagai yang memiliki bocah, aku tidak menghiraukan perkataan wanita tersebut, aku juga tidak berupaya untuk mencari fakta-fakta yang terjadi sebenarnya. Apakah memang anakku meminta seluruh jajan yang dimakan anak tetangga, atau dia hanya meminta sebagian kecil saja, aku tidak akan mencari fakta tersebut. Namun ada sesuatu yang harus aku ajarkan kepada anak hasil hubunganku dengan istriku itu, supaya ia memahami bahwa apa yang dilakukannya kurang pas. Membiasakan diri meminta-minta pada tetangga yang belum tentu rela barangnya diminta.

Aku rengkuh badan ringkihnya, aku angkat dia ke gendongan, kupeluk ia sebentar lalu kuseka air mataya. Dengan suara agak meninggi serta tatapan tajam ke matanya, aku bicara dengan sengaja, “Wes ayah bilangi, lek dolan aja nangis, dadi lelaki aja nangisan.” Suara ini memang kubuat agak meninggi, supaya ia bisa menilai bahwa bapaknya sedang serius, kendati dalam hati ini sakit, namun harus aku lakukan. Naluriku sebagai bapak memaksaku untuk bermain di antara rasa tega dan tidak tega.

Tangis yang semula hanya ungkapan kesedihan, menjadi tangisan yang sesunggunya–ia menangis bersenggukan sambil memandangiku. Mungkin mencoba mencari tahu apakah aku sedang marah—dan ia dapati aku sedang menatapnya dengan tajam. Meski aku tidak sedang melotot, hanya pandangan tanpa ekspresi yang menjelaskan bahwa aku sedang serius kepadanya. Ia menangis semakin keras, nafasnya terputus-putus terhentikan oleh rasa sedihnya –asumsiku ia sedang merasa bersalah, seperti saat-saat biasa, ketika aku dapati ia melakukan kesalahan, dan mengingatkan akan kesalahan tersebut, ia menangis tanpa aku marahi.

Ayah wes ngomong, aja seneng njaluk jajane kancamu. Lek sampean ndak diparingi, sampean lara ati. Muleh dolan mesti nangis, njaluk wae nek ayah” Dalam rengkuhanku ia menangis, ia menghiba. Ia tidak mengira bahwa aksinya meminta jajan kepada temannya dan menuai hasil tidak menyenangkan bakal mendapat pertentangan dariku. Ia mengira bapaknya akan mendukungnya, namun sekali lagi, sebagai pecinta kebenaran, aku tidak akan menyalahkan anak tetangga seperti layaknya tetangga-tetangga lain yang selalu membenarkan anaknya dan menyalahkan anak orang lain, termasuk menyalahan anakku sendiri.

Dalam pelukanku, kuajak ia ke kamar, ada ibunya yang mungkin saja mendengar apa yang telah kukatakan kepada anak pertamanya tersebut. Ia menatapku dengan tenang, namun ia mengisyaratkan kepercayaannya kepadaku untuk mengelola masalah sepele ini menjadi pelajaran bagi anak hasil cinta kami berdua.

Kurebahkan ia di kasur yang sudah mulai menipis, kasur dari kapuk pohon randu, jika lama tidak dijemur di bawah teriknya matahari, memang suka menipis, mengerutkan serpihan-serpihan serat kecil menjadi gumpalan tidak beraturan. Anaku, hampir 2 menit ia menangis, mungkin meratapi nasibnya yang malang karena mendapat pertentangan dari ayahnya dan juga tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kupeluk ia, ibunya mengambilkan dot yang sedari kecil sudah menjadi obat mujarab menenangkan ia dari tangisnya. Namun baru sekitar 1 menit ia mau merespon dot-nya dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu terdiam menikmati air dan campuran gula. Sisa-sisa tangis masih mengiringi, kadang ia sesunggukan di sela-sela kenyotan pada dot di mulutnya.

Sesok lek dolan, gek sampean pengen maem koyo seng dimaem kancamu, gak pareng nangis, pean mamek minta nek ayah karo ibu”. Ucapanku ini, tanpa aku prediksi sebelumnya, menbuat ia kembali menangis sesenggukan. Ia melepaskan dot yang sebelumnya ia sedot di mulutnya, gurat kesedihan jelas sekali tampak, ia benar-benar berada pada kesedihan. Lengkap sudah perpaduan antara rasa bersalah dan keinginan kuat yang tidak terpenuhi. Dia berkata kepadaku, disaksikan oleh ibunya yang sudah merebahkan dirinya dibelakangku, sambil berusaha mengelus rambut anak lelakinya “yah, aku njaluk jajan seng dimaem Koncoku, tapi ra diparingi, padahal aku mau banget jajane” Aku tahu ia benar-benar ingin, seperti saat mengiba dibelikan mainan di toko Garuda di selatan alun-alun Trenggalek atau meminta dibelikan dakocan pada penjual mainan dua ribuan di depan pintu masuk Green Park, Trenggalek.

iyo, mengko nek ayah karo ibu ditumbasne, tapi thole meneng disek, cup aja nangis.” Sebenarnya sedari tadi ia menunggu jawabanku yang seperti ini, tapi tidak akan kulakukan sebelum ia memahami bahwa meminta jajan pada temannya, bisa berakibat ia akan tersakiti. Bahkan bisa saja ia dianggap bocah yang cungap. Tahukah pembaca apa itu cungap? Cungap adalah tindakan suka meminta-minta apa yang dimiliki orang lain, dan dilakukan secara sering. Lawan dari cungap, kalau ndak keliru adalah mlecing. Mlecing adalah pelit. Sulit memberikan sesuatu yang dibutuhkan orang lain, meski ia mempunyai lebih.

Sebisa mungkin aku tidak mengajari anak lelakiku mlecing. Dulu, ketika kecil ia pernah pelit, menganggap apa yang dipegangnya adalah miliknya sendiri, dan menolak untuk membaginya kepada teman. Atau menolak meminjamkan mainan kepada temannya. Saat aku dan ibunya mengetahui itu, kami kemudian selalu membelikan sesuatu berjumlah lebih dari satu. Misalnya mengajak ia membeli eskrim dan mengarahkannya untuk mengambil dua atau tiga buah. Kalau ia bertanya “kok akeh emen, yah?” aku dan ibunya menjawab “Iya, seng siji untuk embah, dan satu untuk ibu.”
Cara ini terbukti efektif untuk mengajarinya arti berbagi, namun efeknya membuat mbahnya kadang anyel dan mangkel, karena jika teman-temannya datang, ia selalu memberikan apa yang dia punya. Dia membuka kulkas lebar-lebar dan memberikan semuanya kepada temannya. Dia merasa puas dan senang telah berbagi kepada teman sebayanya, bahkan terkadang ia rela tidak kebagian dari jajan-jajan ia sendiri.

Namun siang itu, aku berasumsi bahwa ia telah mengalami kekecewaan mendalam akibat “ia tidak diperlakukan seperti ia memperlakukan teman-temannya.” Dia mulai mengenali bahwa kehendaknya pada sesuatu, tidak semudah ketika ia membagikan miliknya kepada orang lain. Bukan hanya sekali ini sebenarnya, pernah beberapa waktu sebelumnya, aku mendapati ia menghardik anak tetangga. Ketika aku bertanya mengapa ia mengakui karena ia benci ketika main ke rumah anak tetangga tersebut, ia dijahili. Sedikit banyak, dia akan menjadi pendendam apabila aku mendukung apa yang ia lakukan.

Kondisi dan situasi mengajarkan sesuatu kepada anak seusia itu. Namun sekali lagi, aku tidak akan mendukungnya untuk berbuat tidak adil kepada orang yang telah menjahilinya. Karena itu buruk.

Lima menit berlalu, ia sudah mulai tenang, aku tawarkan kembali kepadanya, “Ayo, sido tumbas jajan apa ora?” Ia langsung berdiri, meletakkan dot-nya sembarangan dan langsung memeluk punggungku dan merengkuhkan lengannya pada leherku. “Ayo Yah tak dudohi tokone”. Ia mengukir senyum pada bibir imutnya, ibunya mengikutiku dari belakang. Di antara pintu kamar, kuseka air mata yang merembes di mataku. “Gusti Alloh, paringono kulo rejeki.”

Disqus Comments