Skip to main content

follow us

Dalam rangka menjaga konsistensi dalam ber-UMKM, tanggal 11 September 2018 lalu, kami menggelar temu bareng para pelaku UMKM Trenggalek untuk berdiskusi gayeng. Diskusi ini secara hangat membahas suka-duka dalam berbisnis.

Bertempat di Kantor LPPM PAMA Trenggalek, kami bersembilan berkumpul dan saling curhat bersama. Sharing session ini adalah salah satu upaya untuk mengaktifkan forum UMKM supaya bisa berbagi pengalaman dan dapat mengurai persoalan secara bersama.

Beberapa pebisnis yang hadir adalah:
  • [1] Produsen  Jamur Mantan, 
  • [2] Produsen Handy Craft dari bahan-bahan bekas dan juga produsen paper flower, 
  • [3] Produsen Kopi Jimat
  • [4] Produsen Kerajinan Talikur/Macrame, 
  • [5] Produsen Cokelat Chocobee RasakNo
  • [6] Produsen Keripik Sayur (Pikyur) 
  • [7] Saya sendiri selaku yang mengkoordinir 
  • [8] Produsen Bekatul Instan Pitu-Pitulas dan 
  • [9] Pendamping Bisnis dari Paditren.com.
Meski ada banyak forum-forum UMKM di Trenggalek (Forum bentukan pemerintah) namun pertemuan kali ini bukan untuk mengkomparasi kelebihan dan kekurangan masing-masing, melainkan melihat secara lebih luas terkait arah kemajuan UMKM sendiri.

Misal, bagaimana kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan seberapa besar kepedulian mereka dalam kebijakan itu sendiri. Bagaimana menciptakan sistem pemasaran yang auto pilot dan menghindari model-model marketing momentum.

UMKM Bekerja Sendiri

Bagaimanapun juga, UMKM tidak bisa di bandingkan dengan korporasi-korporasi besar. Perusahaan besar memiliki sistem dan tenaga kerja yang dapat menjalankan pekerjaan mereka berdasarkan tupoksinya masing-masing.

Bagi UMKM, tidak ada pengklasifikasian beban kerja, karena semua kategori pekerjaan rata-rata di handle sendirian.

Berbicara marketing, Quality Control, pengemasan, produksi, accounting, administrasi dan tetek bengek lain yang masih berkorelasi dengan kerja-kerja pebinsis, rata-rata dikerjakan sendiri oleh pelaku UMKM. Artinya, satu sumber daya mengerjakan semua tugas-tugas tersebut.

Maka sampai kapanpun, saya sendiri merasa pesimis, kira-kira kapan UMKM Trenggalek ini mampu berdikari dan memiliki sistem kerja yang baik yang tidak terlalu membebani mereka dengan semua pekerjaan.

Sebenarnya, ada banyak kesempatan yang mereka peroleh, semisal para pelaku ini mau untuk bekerja secara serius. Namun tampaknya, mindset sebagai pelaku usaha subsisten ini sulit untuk dihilangkan. Sebagian besar UMKM sudah memiliki forum, namun terkait kinerja, mereka tetap bermain sendiri- sendiri, tidak terorganisir dan masih mengandalkan kerja-kerja individu.

Ambil contoh, petani jamur di Trenggalek memiliki sebuah komunitas, komunitas ini dipakai mereka untuk menunjukkan keberadaan mereka plus sebagai bentuk pengakuan bagi para anggotanya, namun untuk marketing, mereka masih mengandalkan kerja-kerja individual. Hal paling nyata adalah, mereka belum memanfaatkan komunitas ini sebagai kendaraan untuk makmur bersama. Di sisi lain, bagi para petani jamur di Tulungagung, mereka berkomunitas untuk membentuk tim marketing bersama, sehingga mereka tidak lagi disibukkan lagi dengan penjualan, mereka hanya fokus di pertaniannya, karena untuk berjualan, sudah ada tim yang mengurusinya.

Diskusi Rutin Bersama UMKM Trenggalek

Diskusi bisnis tampaknya harus secara rutin dilakukan UMKM Trenggalek, sebagai sarana untuk curhat. 

Kenapa penting?

Karena setiap manusia butuh mencurahkan isi hatinya, baik pada saat memiliki masalah maupun saat bahagia (kebanjiran order misalnya). Dan curhat yang paling bagus adalah curhat kepada yang seprofesi bahkan kepada yang lebih memahami mereka.

Apa yang akan dilakukan oleh pelaku bisnis saat menemui masalah? Pastinya mereka akan mencari solusi bukan? Dan darimana solusi itu di dapatkan? Bagi pengusaha besar, mereka akan mencari konsultan profesional. Namun bagi pelaku bisnis kecil, apakah mereka sanggup membayar para konsultan ini?

Maka sebenarnya, tidak penting apakah ada konsultan atau tidak. Yang harus ada hanyalah wadah untuk curhat, mengurai persoalan dan memecahkannya secara bersama-sama. Menumbuhkan simpati dan empati kepada sesama pelaku usaha di Trenggalek, serta membuat sistem bisnis yang dapat dipakai dan dinikmati bersama-sama, adalah cara terbaik yang bisa dilakukan ketimbang memfasilitasi mereka untuk pameran secara terus-menerus. 

Nah dari uraian di atas, sebenarnya masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab. Ada yang tahu, siapa yang mengajari Mail (salah satu tokoh dalam serial kartun Upin-Ipin ) berbisnis sehingga pandai berjualan? 

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar