Skip to main content

follow us

Masih ingat dengan aksi pelukan segitiga antara Pak Jokowi, Pak Prabowo serta Mas Hanifan Y. Kusumah usai ia (Mas Hanifan) menaklukkan pesilat asal Vietnam dan berhasil mendapatkan medali emas? Tentu publik masih ingat dan kesengsem dengan aksi pelukan tersebut, hingga muncul istilah tagar yang cukup keren, yaitu tagar #2019GantiPresiden #WowoSayangWiwi.

Setidaknya pelukan ketiga orang tersebut (untung tidak hanya dua orang, karena mesti ada orang ketiga di antara 2 orang, hehe) mampu sejenak meredam hati para netizen yang tiada jemu melakukan aksi saling bela dan maki pada kedua orang tersebut. Kita tahu bahwa Pak Jokowi dan Pak Prabowo akan bersaing menjadi presiden Tahun 2019.

Namun yang menjadi perhatian saya sebenarnya bukan pada pelukan tersebut, itu tdak terlalu membuat saya berjoget ria seperti halnya anak kecil yang girang usai menonton teletubies berpelukan, namun karena sudah banyak orang yang terlanjur mengapresiasinya (kendati mantan menteri olahraga zaman SBY, sempat memunculkan isu politisasi pada gelaran Asean Game).

Fokus saya malah pada Mas Hanifan, si pesilat berambut merah  peraih medali emas dari Cabor silat. Kalian jangan langsung mengarah pada pemikiran buruk, ya. Ketertarikan saya menyebut nama doi bukan mengarah pada ketertarikan sesama jenis. Itu Pitenah.

Mari kita saksikan terlebih dahulu fotonya si Mas Hanifan. Tengok gambar di bawah ini yes



Dia punya rambut yang dengan sangat yakin, saya berani mengatakan jika rambut tersebut bukan bawaan dari lahir. Pasti rambut tersebut hasil kreatifitas "syalon" rambut yang sengaja membuatnya menjadi kuning "kesyoklatan".

Mungkin juga rambut tersebut diwarnai untuk dapat menambah kepercayaan diri bagi Mas Hani dalam berlaga dan menaklukkan lawannya. atau menambah pemandangan syantik nan memukai.

Atau memang, rambut tersebut sengaja disiapkan supaya warna rambut seirama dengan warna medali emas yang bakal ia peroleh. Kalau pakai alasan ini, berarti mereka sudah menyiapkan segala hal.

MITOS RAMBUT MERAH

Faktanya, di daerah saya bersemayam, mewarnai rambut menjadi merah, kuning, hijau di langit yang biru bukanlah sesuatu yang bagus. Masyarakat pengagum kesantunan dan kesopanan menganggap bahwa, bocah berambut merah, adalah bocah nakal serta bocah yang tidak tahu diri. (Ket: bocah adalah sebutan untuk anak laki-laki yang belum cukup umur).

Namun persoalan mitos soal tahu diri atau tidak tahu diri tersebut, bukan lantas menjadikan saya sebagai bocah yang "lugu dan sopan". Karena ternyata, larangan yang muncul dari aturan tersirat tersebut, malah membuat saya menjadi penasaran. Saya pernah menyemir rambut ketika masih SMA. Benar-benar bedebah.

Selanjutnya, yang terjadi adalah, saya menjadi bahan pembuliyan oleh orang-orang sekitar, padahal, karena masih takut, rambut yang saya semir hanyalah sebagian dari ujung rambut, warnanya pun tidak semencolok warna rambut Mas Hanifan.

Tapi yang kadung menjadi kebiasaan masyarakat bersama, bahwa yang disebut orang waras itu adalah mereka yang tidak neko-keno dengan rambutnya, maka dengan pandangan seperti itu, saya dicap sebagai anak yang tidak tahu diri. 

Mau tidak mau, saya harus menyemir rambut menjadi hitam kelam, dan menanti sebuah cap sebagai anak yang tobat dari kenakalannya. Saya rasa ini terlalu berlebihan.

RAMBUT MERAH KAYA PRESTASI

Masyarakat punya cara sendiri untuk menilai, yang kadang nilai tersebut hadir dari lubuk pemikiran dalam, atau nilai yang hanya hadir dari sekilas pemikiran. Jika kita lama hidup dalam sebuah sistem masyarakat, nilai-nilai yang dihadirkan oleh mereka sesungguhnya adalah kekayaan atas masyarakat itu sendiri.

Misalnya seperti ini, ada anak berambut merah, tapi perbuatannya nakal, ia suka berkelahi, ia suka buat onar, ia suka mabuk-mabukan. Maka cap nakal kepada bocah seperti ini memang sewajarnya. Ia memang nakal.


Tapi jika ada anak berambut merah, ia jago berkelahi (misalnya dalam ajang Asean Games), ia sopan, ia membawa nama harum bagi Negara, maka mengecap ia sebagai pahlawan adalah kewajaran, meski ia berambut merah.

Ingat, jangan lantas menganggap ada standar ganda penilaian dari masyarakat, karena mereka punya cara untuk menilai sendiri.

Contoh lain adalah, masyarakat menilai bahwa mencuri itu adalah kejahatan. Tapi mereka tidak menuduh jahat kepada si Jaka Sembung yang pada dasarnya suka mencuri. Karena ia mencuri untuk dibagikan kepada rakyat miskin.

Jadi, Geis. Punya rambut merah sebenarnya tidak apa-apa, asalkan kamu punya prestasi. Kalau berambut merah hanya sekedar untuk menunjukkan kegilaanmu, mending tidak usah.

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar