Skip to main content

follow us

Sekali-kali kita yang dewasa ini perlu bermain bersama anak-anak TK. Karena anak-anak yang masih duduk di taman kanak-kanak merupakan representasi dari kebahagiaan masa kecil.

Mereka bisa menikmati hidupnya tanpa memikirkan beban hidup, bisa tertawa bersama teman-temannya dan bisa segera memaafkan ketika bertengkar. Dan selebihnya mereka memiliki bahasa komunikasi yang jarang dimengerti oleh orang dewasa.

Itulah sisi kehidupan menyenangkan masa kecil, tanpa beban dan tanpa dendam, tanpa kepentingan dan tanpa kegalauan. Semua hal yang bisa hilang ketika usia mereka beranjak dewasa. Kenapa bisa begitu? Ini masih menjadi misteri.


Pagi ini saya berkesempatan bermain bersama mereka, bukan cuma kali ini saja sebenarnya, tapi sudah berkali-kali. Menjadi wali murid anak pertama saya yang masih TK (el Gawang), membuat saya menyenangi kembali masa yang pernah saya lalui dulu.

El Gawang sekolah di TK Ana Prasa, adalah sekolah di mana ia menuntut ilmu (di bangku sekolah) untuk pertama kalinya, ibunya dulu juga sekolah di sini. Dua generasi yang menuntut ilmu di satu sekolah yang gurunya masih sama. Asyik kan.

Setiap beberapa bulan sekali, para guru mengajak anak didiknya pergi ke tempat-tempat wisata, tujuannya adalah edukasi dan refreshing. Menghilangkan kejenuhan belajar di ruangan dan bangku sekolah. Dan hampir setiap waktu saya selalu mengiringinya. Sebelumnya kita Berkunjung ke Fish Garden Blitar.

Kali ini TK Ana Prasa bereduwisata ke Green Park Trenggalek, destinasi tempat santai yang pernah saya ulas di blog ini. Sebenarnya saya kerap mengajak keluarga datang ke sini, namun itu tidak membuat kami abai untuk kemari lagi.


Momen bermain bersama di tempat terbuka adalah hak anak yang harus mereka dapatkan. Orang tua wajib memfasilitasi mereka supaya ada kenangan yang terpatri dalam ingatan. ketika mereka sudah besar. Bermain bersama teman-teman sebaya jauh lebih menyenangkan dibandingkan main bersama orang tua. Karena mereka memiliki bahasa komunikasi yang hanya dipahami oleh mereka.

Dari puluhan wali murid yang ikut, hanya saya orang tua lelaki yang lainnya adalah ibu-ibu. Saya dan istri bersama-sama mengantarkan anak kami ke tempat wisata. Anak-anak yang lain juga diiringi oleh orang tuanya,akan tetapi hanya oleh ibunya, sedangkan bapaknya mungkin tidak punya waktu untuk datang.

Ini keberkahan tersendiri yang saya rasakan. Berprofesi sebagai blogger meluangkan banyak waktu untuk bisa membuat jadwal mendadak, ini tampak seperti seorang pengangguran. Tapi di sisi lain saya punya banyak momen bersama keluarga. Nggak kebayangkan jika saya bekerja di perusahaan, tentu urusan “remeh” seperti ini masih kalah dengan ceklock kantor.

Tak butuh waktu lama, sesampai di Green Park, anak-anak langsung berlari menuju wahana permainan. Ada yang bermain bandulan, plurutan, penekan atau sekedar bermain pasir. Mereka secara teratur bergantian peran. Meski kadang ada konflik kecil, namun segera mungkin terselesaikan. Terkadang orang tua harus ikut campur dalam konflik mereka supaya segera selesai.




Bagi anak saya, kehadiran saya di sini, bisa jadi membuat anak merasa diperhatikan. Kadang ia datang bergelayut manja mengganggu bapaknya menulis artikel ini, dan pergi sesegera mungkin ketika memperhatikan kawannya menemukan momen asyik dalam permainan.

Teriakan-teriakan anak kecil adalah wujud dari kegembiraan, sedangkan tangis adalah klimaks yang berfungsi meredakan kesedihan atau amarah. Biasanya jika mereka bertengkar, diikuti dengan tangisan, dan setelah itu mereka bermain bersama lagi. Ini saya sebut sebagai keajaiban.


Orang dewasa belum tentu bisa melakukan itu, jika orang dewasa bertengkar jarang sekali bisa langsung saling memaafkan. Dendamnya orang dewasa adalah dendam berdasarkan lngatan. Mereka tidak bisa segera memaafkan karena selalu mengingat rasa sakit pertengkaran, sedangkan anak kecil mengingat kegembiraan saat bermain bersama. Ini hipotesa saya.

Mengikuti pola bermain dan belajar anak TK setidaknya membuat saya belajar lebih, mereka bukan hanya wujud dari kegembiraan. Tapi juga wujud dari kecerdasan afektif yang tidak dapat dilogikakan orang dewasa dengan baik.

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar