Skip to main content

follow us

Kalau bicara kebaikan, siapa manusia yang paling baik? Jika bicara tentang kejahatan, siapa orang yang paling jahat? Kalau objek pertanyaan ini diperluas jadinya begini "Siapa organisasi yang paling baik dan siapa organisasi yang paling jahat?".

Bila perorangan/organisasi/komunitas diibaratkan sebagai lingkaran, yang biasanya kerap memberikan penilaian baik, adalah ia/mereka yang berada di dalam lingkaran tersebut. Begitu pula sebaliknya, yang kerap membicarakan masalah buruk, adalah ia/mereka yang berada di luar lingkaran. Kenapa bisa begitu? Ya sepertinya ini sangat manusiawi, belum ada orang yang merasa sangat jijik dengan kentutnya sendiri, namun banyak orang yang jijik hanya dengan mendengar suara kentut orang lain.

Kalau sudah memikirkan tema ini, saya kerap mengalami kegalauan luar biasa. ini adalah suatu titik pemikiran pembenaran tentang kebaikan dan kejahatan yang kerap dialamatkan pada waktu, tempat dan peristiwa tertentu. Ibarat pendulum yang bergerak ke kiri dan ke kanan. Ia tidak berhenti pada satu titik sebelum waktunya berhenti. Penilaian ini terus ada selama pemahaman manusia masih terkurung dalam kotak-kotak atau lingkaran.

Satu contoh, kalau ada seseorang mengambil barang bukan miliknya, ia lazim disebut sebagai pencuri, penjambret, pengutil atau sebutan-sebutan lain yang mengarah pada nilai negatif. Selanjutnya dalam pen-general-an makna, orang dengan sebutan ini laik disebut sebagai orang jahat atau penjahat. Ini nilai dasar hasil dari kesepakatan umumnya manusia sejak berabad-abad lamanya.

Tapi apakah perbuatan (yang oleh kebanyakan manusia disebut sebagai perbuatan jahat) ini sejatinya melingkupi seluruh kehidupan pribadi orang tersebut? Yang bisa ditanyakan bahwa kejahatannya adalah tujuan hidupnya? Apakah ia memang jahat? Apakah dia tidak memiliki sisi baik dibalik perbuatan jahatnya? Atau ia jahat karena ada kondisi yang memaksa ia menjadi jahat?

Maka di sinilah nilai itu pudar bersama dengan pudarnya keyakinan saya tentang baik dan jahat atau benar dan salah. Saya berangan-angan tentang kejahatan ini hingga ingin sekali melakukan kejahatan (seperti yang dimaknai oleh orang-orang). Tujuannya adalah, bagaimana perasaan saya ketika saya dikatakan sebagai orang jahat dan berada pada posisi tersebut.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, sebenarnya orang mencuri (atau melakukan kejahatan lain), sebenarnya untuk apa? Untuk siapa? Kenapa dilakukan? Mengapa ia mau? Mungkin saja alasan yang muncul juga lain, semisal, ketika seseorang mengambil buah semangka di pekarangan orang, karena ia ingin memberikan buah itu kepada anak-anaknya, kepada orang tuanya, atau kepada mereka yang butuh. Apakah memberi dikatakan sebagai kejahatan. Berhenti disitu dulu ya, jangan kaitkan dengan bagaimana cara ia mendapatkan barang pemberian.

Kalau mengambil milik orang tanpa izin, dikatakan sebagai kejahatan, lantas niat untuk memberi kepada orang lain, dinilai sebagai apa? Apakah memberi dalam kasus ini juga dinilai sebagai kejahatan? Atau masih ada penilaian sebaliknya? Semisal ini dinilai baik tanpa menegasikan kejahatan yang telah ia lakukan.

Saya sungguh menyesal kenapa berpikir seperti ini, seakan saya bisa lagi berpikir tegas. Seperti berpikir yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat. Atau seperti manusia lain yang dengan mudah mengatakan baik seutuhnya kepada orang yang ada dilingkarannya dan mengatakan buruk seutuhnya kepada orang yang ada di luar lingkarannya.

Mungkin banyak orang menyepakati kalau Ramses II (Firaun ke-3) itu jahat, karena perangainya yang suka memperbudak dan kerap melakukan perang invasi. Namun sejahat-jahatnya Ramses II tersebut, apakah tidak ada nilai kebaikan yang muncul padanya? Bagiamana kalau Ia tetap baik pada rakyat pendukungnya, ia baik pada orang yang tunduk padanya, ia baik pada istri dan selir-selirnya, ia baik pada anak-anaknya. Apakah Ramses II tetap dinilai sebagai orang jahat secara utuh?

Memang ada baiknya jika kita berpikir lebih adil, maksudnya tidak terburu-buru menambahkan prasangka like dislike pada kabar atau kejadian yang baru terdengar. Karena dengan menumbuhkan keadilan sejak dalam pikiran, bisa saja membuat manusia lebih bijak dalam memberikan sebuah penilaian.

Misalnya, dalam kasus kekinian, menjelang diselenggarakannya Pilpres 2019, santer tersebar berbagai pertikaian di media sosial dan dunia nyata, yang mengusung tema sama, yaitu tentang penilaian baik buruk terhadap kedua pasangan calon.

Kalau membicarakan kebaikannya saja itu masih untung dan tidak menjadi soal, namun nyatanya, manusia (pendukung masing-masing calon) tidak puas jika tidak sampai mengkorek keburukan masing-masing saingan calon yang didukung. Efeknya, pertikaian muncul dengan bahasan keburukan.

Andai kata mayoritas pendukung memiliki keadilan sejak dalam pemikiran, keburukan setiap calon bukan menjadi alasan untuk bertikai. Jika keburukan dibahas dengan cara buruk, bukankah ini bisa disebut sebagai keburukan kuadrat. Setiap kubu berkesempatan sama mendapatkan badge buruk.

Namun, jika dikembalikan lagi ke titik awal, sebenarnya, bagi siapapun yang memperlihatkan keburukan kepada orang lain, selalu memiliki sisi baik. Tuhan sudah membuat keadaan dunia dan isinya ini dalam keadaan seimbang.

Kalau kubu Prabowo mengatakan hal negatif pada Kubu Jokowi (dan sebaliknya), pasti ada nilai positif dari masing-masing kubu untuk mengatakan hal positif kepada kubunya sendiri. Kenapa bisa begitu? Cukup jelas, karena kebanyakan manusia didesain untuk berpikir dalam lingkaran.

So, apakah ada manusia di dunia ini yang benar-benar jahat atau buruk? Kalau ada katakan siapa? Dan kalau tidak ada, berarti jelas, Semua orang itu baik kok!

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar