Skip to main content

follow us

Seharusnya, anak-anak muda yang telah menuntut ilmu dan pandai karenanya, kembali ke desa kelahirannya dan tulus membangun desa. Supaya desa maju, supaya sejahtera masyarakatnya dan supaya desa hidup dengan gerak kreativitasnya. Itu representasi semangat anak muda yang harusnya ada.

Tapi bukan persoalan menyenangkan, anak muda yang ingin kembali ke desa tidaklah banyak. Kemolekan kota serta peradabannya yang cepat serta kekinian, memaksa moral anak muda bernafsu memeluknya. Bagaimana tidak, segala pengetahuan yang diberikan kepada anak muda bukanlah pengetahuan desa. Pun juga bukan pengetahuan yang dapat merayu mereka untuk cinta kepada desa.

Kita sering sekali menyaksikan beberapa impian insan desa yang berhasil menyelesaikan studinya di perguruan tinggi yang rata-rata tempatnya ada di perkotaan. Mereka ingin melanjutkan proses hidupnya di kota-kota. Ini adalah kesengajaan, jika salah satu impian setelah lulus kuliah adalah kerja, ternyata, lowongan kerja banyak tersedia di kota. Terkecuali setelah lulus kuliah ingin menikah, ini hal lain bro.

Maka desa saat ini hanya menjadi tempat kelahiran dan tempat pulang, bukan tempat untuk mengabdi dan pengembangan. Kenapa terjadi? Karena desa tidaklah menarik untuk diminati. Desa adalah tempat yang tersemat kekolotan di dalamnya. Meski ini tidak berlaku untuk seluruh desa di Indonesia.

SIAPA BERMIMPI JADI KEPALA DESA?

Suatu ketika saya seruangan dengan kang Noer Fauzi Rahman (penulis buku Land Reform dari Masa ke Masa) untuk mendengar kuliah singkat yang disampaikan olehnya di Pangandaran. Disela-sela presentasinya, ia bertanya kepada peserta yang sejumlah 25 orang.

"Siapa yang bercita-cita jadi kepala desa?"

Pertanyaan ini diberikan kepada kami yang rata-rata berusia muda. Menunggu jeda beberapa detik, ternyata pertanyaan ini tidak ada yang menyahut. Semua diam dan enggan untuk menjawab. Mungkin karena tidak ingin menanggung konsekuensi atas pertanyaan itu.



Lalu, untuk memuaskan si penanya, saya menyempatkan diri untuk mengacungkan tangan. Terlebih, pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan motivasi, yang jika tidak dijawab, maka berakhir pada penghabisan karakter, bisa jadi seperti ini, “kalian anak-anak muda, tapi mental untuk mengubah desa tampak tak bernyali”.

Saya kang” Jawabku waktu itu dan lantas langsung ditanggapi olehnya “kenapa you ingin jadi kepala desa?”. Pertanyaan lanjutan yang sudah saya tebak sebelumnya.

Seperti yang anda ajarkan, jamak terjadi jika korporasi membawa anak muda supaya lupa pada tempat tinggalnya, mereka abai pada desa sedangkan desa begitu seksi bagi korporasi, tempat itu adalah pasar dengan segala keluguanya, saya ingin hadir di desa setidaknya untuk menjaganya”.

Ia mengangguk seperti mendapatkan jawaban tepat menurut pertanyaan yang diberikan, selanjutnya ia melanjutkan tentang pelbagai hal yang bisa dilakukan anak muda di desa. "Menjadi kepala desa adalah jalan hidup, dan kalian yang telah berilmu seharusnya hadir di tengah-tengahnya, karena desa adalah peradaban nenek moyang kita"

Itu cerita beberapa waktu lalu, yang masih terngiang di benak saya hingga saat ini. Meski pada praktinya, saya belum mengejar bagaimana menjadi kepala desa, mungkin harus berupaya memantaskan diri terlebih dahulu, atau mencari uang dulu. Kabarnya, untuk menjadi kepala desa, membutuhkan uang banyak. Meski pada kondisi tertentu, uang tidaklah penting dan dapat menjadikan orang apa-apa.

Pertanyaan Kang Noer sekaligus menjadi pernyataan, anak-anak muda jangan abai kepada desanya. Merekalah yang paling update pada perkembangan jaman, meski tak boleh juga menegasikan para sesepuh desa dan menganggapnya tidak berperan. Ada memori desa dalam ingatan para orang tua. Begitu kiranya.

Najib "Keukeuh" Menjadi Kepala Desa

Kebetulan sekali waktu itu di sore hari, Najib mendapati saya di tempat biasa ada saya. Ia datang dengan membawa beban yang ia peroleh dari pembelajaran Sekolah Politik Anggaran (Sepola), sebuah program yang mengajarkan tentang bagaimana mengelola anggaran kabupaten atau desa bisa dimanfaatkan menjadi lebih berarti, efektif dan efisien untuk mensejahterakan masyarakat.


Najib dan saya adalah salah dua peserta yang mengikuti Sepola, bersama 20 orang lainnya. Penggemblengan yang dilakukan selama 10 hari ditambah pengemblengan sepola desa selama seminggu membuat kami semakin bergairah untuk menerapkannya di desa masing-masing atau di kabupaten mungkin.

Maka setelah itu, hal yang kami lakukan adalah turun ke beberapa desa untuk mengajarkan kembali apa yang telah kami pelajari. Bersama Najib, Ajar Shidiq dan saya serta ditemani fasilitator dari Bandung - Jawa Barat.

Terjun ke desa-desa membuat kami menjadi tahu terkait potensi-potensi desa dengan segala ciri khas yang melekat padanya selama puluhan tahun. Atau menjadi tahu bagaimana intrik yang biasa terjadi di desa, seperti intrik antara perangkat desa dan BPD. Atau intrik dari kepala desa dan warga yang tidak mendukungnya. Itu biasa terjadi.

Dan setiap desa selalu memiliki potensi dan persoalan yang berbeda, tergantung dari tradisi dan kebudayaan yang membentuk desa tersebut. Maka kami menjadi tahu bahwa desa itu antara satu dan lainnya berbeda, maka perlu adanya penanganan yang berbeda pula. Tidak harus sama.

Najib belajar dan mengamati terkait desa di mana ia dilahirkan, ada beberapa hal yang menurut saya menjadi modal besar yang ia kumpulkan, seperti:

  1. Potensi desa. Baik dari sisi SDM dan SDA, potensi budaya, potensi kuliner, potensi industri, dll.
  2. Problem desa dan problem masyarakat yang saat ini terjadi.
  3. Mempelajari dokumen RPJM Desa yang berlaku serta mempelajari alokasi penggunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (DD dan ADD).
Ketiga hal yang sebenarnya jika didetailkan lebih jauh, akan menjadi sebuah perencanaan komplit. Ini adalah mimpi yang dibangun berdasarkan fakta dan data.

Terlepas dari apa niat utama ia semangat menjadi kepala desa, kalau saya, lebih menyarankan untuk memperbaiki niatnya, misalnya "menjadikan jabatan kepala desa sebagai alternatif untuk membangun desa". Sehingga ketika ia tidak menjadi kepala desa, mimpi itu tetap bisa dilaksanakan. Karena memang Kepala Desa hanyalah alternatif untuk membangun desanya.

Dan ternyata memang itu niatnya. Ia mengaku bahwa ia tidak berani terlalu berharap bisa menang dalam PILKADES nanti, karena secara finansial, ia tidak memiliki banyak uang. Ia punya mimpi untuk mensinergikan sumber daya desa untuk mengangkat desa menjadi lebih baik. 

Sebagai seorang sahabat, saya hanya bisa mendo'akan semoga impiannya berhasil, sekali-kali akan saya sumbang gagasan pengembangan desa dengan menyesuaikan isu strategis yang telah ia kantongi.

Kami tak punya uang, Jib. Tapi kami punya pengetahuan dan tim yang bisa membantu menggagas desamu menjadi maju dan lebih baik. Semoga Tuhan bersamamu.

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar