Skip to main content

follow us

Saleem Iklim, Ia adalah musisi legenda dari negeri Jiran. Meski jauh, namun lantunan musik-musiknya telah menggema hingga Trenggalek, lebih khusus di Desa Gemaharjo, tempat di mana saya terlahir.

Saleem sang vokalis group musik Iklim, telah memberikan kembang-kembang harum pada masa kecil saya, dan tanpa disadari, ia telah mengambil sebagian kenangan masa silam dan meletakkan pada karya musiknya. Setiap kali musiknya melantun, misalnya lagu berjudul "suci dalam debu", bayangan kenangan masa lalu mengambang di antara pandangan.

Puteri di pintu mahligai
Ku lihat kasihmu melambai
Walaupun jauh tapi jelas
Jiwaku menyentuh jiwamu

Lagu berjudul di Pintu Mahligai, hampir setiap pagi terngiyang di gendang telinga, ia mengawali hari indah masa-masa Sekolah Dasar.

Kalau bukan karena Paman, mungkin lagu itu lambat saya kenali. Ia banyak membawa lagu-lagu Jiran karena ia pernah berkunjung ke negeri tersebut, kerap sekali. Semenjak muda ia melancong ke Malaysia untuk bekerja sebagai kuli bangunan atau di perkebunan sawit.

Selepas pulang ke kampung halaman, ia selalu membawa kaset pita berisi musik-musik malaysia, seperti Iklim, Slam, Lestari, Exists, Search, Stings dan penyanyi solo macam Siti Nurhaliza.

Keasyikannya memutar lagu-lagu malaysia bisa jadi untuk mengenang masa-masa di negeri menara kembar tersebut.

Tidak peduli waktu, melalui sound system modifan paman, saya bisa mendengar dendangan lagu tersebut di pagi, siang sore dan malam.

Pernah suatu ketika saya masuk di kamarnya dan mengambil wadah kaset pita dan mengambil kertas sampul yang ada tulisan lirik lagu-lagu tersebut. Saya meminjamnya tanpa izin, membawanya ke sawah lalu mendendangkan liriknya tanpa diiringi lagu.

Di Sawah orang tua yang tidak terlalu luas, menjelang panen, saya selalu mendapat tugas menunggui padi dari serangan kawanan burung, sembari duduk di gubuk, saya bernyanyi dengan riang.

Itulah intinya, ternyata kenangan itu tanpa sengaja tersimpan pada musik-musik karya Iklim, dan kembali teringat ketika suara Saleem terdengar. Begitu indah ketika saya bisa kembali mengingat masa silam.

Sheila kini terbelenggu
Kerna orang tuamu
Di mata mereka
Yang ada intan dan permata
Aku tak punya harta dan benda
Mungkin akan membuat sengsara
Lalu kau cuba bertanya
Untuk apa cinta kita

Ketika hormon Testosteron sedikit demi sedikit menguasai kondisi pesikis, saya menjadi bocah kecil yang selalu tertarik jika melihat perempuan, apalagi berparas cantik. Sejak saat itu saya bisa mengenali diri sendiri sebagai seorang lelaki normal, lagi jantan.

Maka akan menjadi perasaan indah, saat melihat perempuan sebaya. Kadang tanpa sadar melantunkan lagu berjudul "Sheilla", jangan tanya apa hubungan antara lagu dan perempuan, jangan pula bertanya siapa nama perempuan tersebut. Saya saat kecil tak perlu berpikir sedetail itu.

Yang terpenting ,saya bisa merasakan hati berbunga-bunga ketika menyanyikan lagu-lagunya Iklim. Ada perasaan bangga ketika bisa menirukan gaya suara Saleem. Atau kadang saya bisa kembali acuh kepada perempuan yang saya lihat karena lebih tertarik menirukan Saleem bernyanyi.

Orang dewasa akan segera menertawakan saya ketika melihat tingkah tersebut, namun siapa yang peduli. Saya bisa bernyanyi, dengan alasan sendiri, dan saya bisa merasakan hormon bejat terus mengalir di seluruh urat tubuh.

Engkau bagai air yang jernih
Di dalam bekas yang berdebu
Zahirnya kotoran itu terlihat
Kesucian terlindung jua

Tali Saleem, nyawamu kini tak lagi ada di dunia, kecuali suaramu yang tak berubah itu. Saat menulis ini saya pun sedang mendengarkan lagumu. Kau benar-benar mencuri kenangan masa kecil, namun , terimakasih, kalau tidak begitu, mana mungkin saya bisa mengenang masa silam.

Semoga engkau tenang di sana Saleem iklim.

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar