Skip to main content

follow us

Kepala Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan ternyata punya selera tinggi dalam pengembangan wilayah kuasanya. Bagaimana tidak, tebing yang semula hanya berisi batuan dan jurang menakutkan, kini telah ia ubah menjadi wisata baru yang direncanakan bakal menaikkan PAD Desa.

Sentono Genthong, 3 tahun yang lalu hanya dikenal sebagai tebing angker, karena ia merupakan sebuah petilasan. Menurut cerita warga sekitar, dahulu kala tempat ini sering dipakai orang (bukan orang setempat) untuk bertapa (menenangkan diri).

Pak Ismono, Kepala Desa Dadapan, menuturkan cerita yang mungkin belum diketahui kebanyakan orang. Malam itu (5 Oktober 2018), kami beruntung bertemu dengan beliau, dan mendapatkan cerita masa lalu langsung dari beliau.

Setidaknya, niat kami untuk menginap di Sentono Genthong, bukanlah kesia-siaan. Karena selain dapat menyaksikan keindahan Kota Pacitan waktu malam haru, kami juga mendapatkan cerita masa lalu, yang membentuk karakter wisata Sentono Genthong.

MENGINAP DI SENTONO GENTHONG

Saya, Marvin dan Yahman menyengaja untuk menginap di atas tebing Sentono Genthong, seperti biasanya, kami adalah sebagian kecil manusia yang kerap keranjingan menginap di hutan untuk sekedar melepas penat atau untuk mengagumi alam ciptaan Tuhan dari sudut yang tidak biasa orang lain lihat.

Awalnya kami tidak sengaja bisa sampai ke tempat ini jika tidak ada undangan untuk mengikuti kegiatan Sepola di Desa Dadapan Pacitan. Hingga akhirnya kabar keberadaan Sentono Genthong sampai ke telinga kami. Terlebih, penyelenggara kegiatan mengumumkan untuk memakai tempat tersebut sebagai tempat pembelajaran.

Kami pun ke sana beramai-ramai, dengan memakai mobil odong-odong modifan milik desa yang disopiri langsung oleh Pak Kades. Sesampai di sana kamipun belajar di salah satu warung milik warga yang berada di seputaran tebing.


Berdiskusi dan belajar berfikir out of the box, akhirnya membuat seluruh peserta kelelahan meski semangat masih berapi-api. Karena kami manusia yang memiliki kekuatan tubuh terbatas, jam 21.30 WIB seusai materi yang disampaikan fasilitator selesai, mereka mengajak kembali ke pos istirahat.

Namun, bukannya mengikuti ajakan penyelenggara, Marvin menawarkan ide kepada saya (yang sebelumnya sudah disetujui oleh Yahman) untuk menginap di sini. Tawaran ini tidak bisa saya abaikan dan tidak bisa saya tolak, meski hanya berbekal sarung, saya pun mengiyakan ajakan Marvin dan Yahman. Kami pun memilih untuk tidak naik mobil odong-odong yang tentunya sudah diiyakan oleh penyelenggara.

VIEW KOTA PACITAN SAAT MALAM DARI SENTONO GENTHONG 

Dari atas tebing Sentono Genthong, kami menyaksikan gemerlap lampu Kota Pacitan. Kota tersebut, tampak lebih kecil dari kenyataannya. Ia dikelilingi pegunungan karst dan dikalungi lautan. Lokasi tempat kami ada di sebelah barat Kota Pacitan, sehingga jika diamati, di sebelah kanan kami adalah laut, di sebelah kiri adalah pegunungan, dan di depan kami adalah kota pacitan.


Kami tidak hanya bertiga, beberapa pengelola Wisata Sentono Genthong, mengurungkan diri untuk pulang, mungkin mereka ingin mengetahui kenapa kami masih di sini sedangkan malam telah larut. Marvin mendatangi mereka dan menceritakan keinginan kami untuk menginap. Lalu tanpa kami minta, salah satu penjaga mengambilkan karpet dari petilasan yang biasa mereka pakai.


Saya memilih untuk mengamati Pacitan, pemandangan malam hari yang menurut saya tidak mencerminkan pemandangan kota saat siang hari. Ketika pijar alam (matahari) telah menyingsing di ufuk barat, Kota Pacitan tampak hidup. Lampu-lampu penerangan di jalur JLS menampakkan kemegahannya, sedangkan lampu-lampu di rumah penduduk yang tampak berserakan menggambarkan betapa padatnya kota ini.

Hamparan laut Pacitan memang tidak terlihat saat malam hari, keberadaannya hanya memberikan pertanda berupa suara. Saat keheningan telah menyelimuti Sentono Genthong, laut membisikkan mantra-mantra aneh berupa deburan ombak yang tiada henti. Ia tidak berdebur seperti lazimnya laut Prigi (di Trenggalek), namun ia mendesis dengan nada bass. Kesunyian malam ini, memang layak dipakai untuk menenangkan diri.

Di ujung timur, bangunan petilasan terlihat seperti ujung daratan. Ia memang berada di sebelah timur tepi jurang. Ia berdiri kokoh dengan segenap kemegahannya. Gelap setidaknya memberikan efek mistis pada tempat itu. Saya merasa seperti di dunia lain.

Marvin dan Yahman bergabung dengan beberapa warga setempat yang hendak pulang, mereka masuk dalam irama khas jagongan ala masyarakat desa. Lalu dari arah barat daya, di jalan masuk yang tampak seperti lorong jika malam hari, terlihat ada pendatang baru. Setiba di tempat parkir, kamu baru menyadari ia adalah Kepala Desa. Datang bersama dua orang warga dengan menenteng plastik hitam. Rupa-rupanya itu adalah iklan tongkol yang baru saja ditangkap.


Pak Kades rupa-rupanya punya agenda bakar ikan di tempat ini, dengan mengajak 4 orang warganya. Ikan tongkol yang baru tertangkap nelayan kemudian dibersihkan, sedang sebagian orang lagi menyiapkan tempat pemanggang ikan. Setelah semua siap, mereka mengasapi ikan bertahap. Kami menunggui ikan tersebut matang.

Disela-sela tersebut, Pak Kades menghampiri kami, ia mengambil tempat duduk yang telah tersedia, sedangkan kami bertiga, duduk di batu mengitari kepala desa. Ia tampak ramah menyambut kami. Kami bercakap-cakap perihal Sentono Genthong. Pak Kades bertutur sembari mengingat-ingat cerita yang akan ia katakan.

Cerita Sejarah Sentono Genthong 

Menurut Pak Ismono (Kepala Desa), Kata Sentono merujuk pada gelar terbawah abdi dalem dari Keraton Jogja, Dahulu, Sentono ini ditugaskan untuk memasang tubal berupa Gentong (bejana) berisi tulang, sekaligus menjaganya. Dalam pengertian kekinian, ia lebih dikenal sebagai juru kunci.

Tumbal tersebut dipasang untuk menjaga keseimbangan alam tanah jawa. Menurut keyakinan beberapa orang setempat, tempat tersebut (tepat di petilasannya) merupakan punjer atau pusar tanah jawa. Karena alasan inilah, banyak pendatang yang menggunakan tempat ini sebagai tempat bertapa.

Sebelum dibuat sebagai tempat wisata, kepala desa mengajak warganya untuk melebarkan jalur masuk yang dulunya hanyalah jalan setapak. Dengan metode gotong royong, Kepala Desa langsung mengarsiteki pembangunan lokasi, sekaligus menjadi pengawas setiap hari.


Kelihaian Pak Kades dalam membuat rancang bangun yang sarat artistik tersebut tidak terlepas dari gemblengan Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI, dulu bernama ASRI). Ia ternyata adalah alumni sekolah tersebut. Jadi tidak heran jika seluruh model rancangannya tidak biasa.

Untuk masalah dana, pembangunan selama ini menghabiskan anggaran kurang lebih 1.2 M. Dana tersebut, sebagian diambilkan dari dana desa (berupa pembiayaan investasi), dari penjualan tiket dan dari dana pribadi. Bahkan saking semangatnya membangun tempat ini, Pak Ismono kerap membuat sang istri cemberut karena harus meminta perhiasannya dijual.


"Buk, ndileh gelange disek ya, tukange wes mayahe mbayar, gek aku ra nyekel duit" Begitu tuturnya kepada kami.

Saat ini pengunjung dapat dapat menikmati beberapa fasilitas yang tekah disediakan oleh pengelola, seperti kamar mandi dengan ketersediaan air unlimited, Mushola mini dengan arsitektur anti mainstream, Gazebo beratap merah yang tersebar dibeberapa lokasi, akses jalan mudah, kendaraan pengangkut penumpang dari lokasi parkir, dan paralayang.


Rencananya, wisata Sentono Genthong akan diserahkan kepada Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) namun jika pembangunan sudah selesai. Untuk sekarang belum diserahkan karena ditakutkan tidak optimal dan malah terbengkalai. Oh ya, wisata ini sudah menerapkan tiket sebagai syarat untuk masuk lokasi, Tarif tiketnya seharga 10.000 permasuk. Sudah termasuk bea parkir.

Wonderful Sentono Genthong

Malam semakin larut, Kepala Desa dan rombongannya pulang ke rumah masing-masing. Di tempat itu hanya ada kami bertiga. Saat malam, semua lampu penerangan mati, berbarengan dengan dimatikannya genset satu-satunya yang ada di sana. Kesunyian menambah kenyamanan bagi kami.

Tidak ada penghalang angin laut yang bertiup dari selatan, sehingga membuat kami kedinginan. Obrolan seputar materi yang baru kami pelajari di siang hari, membuat suasana semakin hangat, namun tidak cukup menghangatkan badan kami.

Saya mengambil tempat pembakaran ikan yang masih tergeletak di tempat semula, Marvin mencari serpihan kayu kering dan mengais sampah plastik guna dipakai sebagai bahan bakar. Kami membutuhkan penghangat badan seperti lazimnya orang-orang yang sedang kemah.


Kami tidak tidur semalaman, karena ingin menyaksikan sunrise, mungkin dari sini, akan terlihat sunrise indah menyerupai sunrrise yang biasa kami saksikan di Puncak Ngrancah Watulimo. Meski pada akhirnya, sekitar jam 4.00 WIB, Marvin terkapar dahulu, kemudian saya. Hanya Yahman yang masih terjaga. Ia membangunkan kami, saat mentari menandakan segera terbit.


Di pagi, kami mendapati keindahan sempurna pemandangan Pacitan. Sentono Genthong menampakkan dirinya secara utuh setelah semalam dipeluk oleh gelapnya malam. Sorotan cahaya dari ufuk timur, menerpa gazebo-gazebo beratap merah.

Laut, gunung, rumah masyarakat, pohon jati dan akasia, bebatuan karang, tebing yang curam, semuanya bersatu padu membentuk pemandangan syahdu. Keindahan seperti inilah yang sebenarnya kami cari.



Inilah keindahan alam yang kelestariannya wajib kita jaga. Meski Sentono Genthong kini telah berubah menjadi tempat wisata, namun kami yakin, jika ini terus dikelola oleh desa dan masyarakat sekitar, sifat alaminya akan terus ada. Lagi, jika suatu ketika nanti Sentono Genthong terpilih menjadi salah satu destinasi wisata pilihan Pacitan, masyarakat akan mendapatkan manfaat ekonomi.

Untuk itu, jika dikelola desa saja sudah bagus, tidak perlu kabupaten ikut cawe-cawe mengharap pendapatan dari sini, terkecuali, Pemkab Pacitan memberikan bantuan tanpa syarat (kecuali syarat rakyat bisa sejahtera) untuk Desa.

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar