Skip to main content

follow us

Musim liburan hampir usai, semua orang yang ingin memanfaatkan momen penting ini sesegera mungkin merencanakan untuk bepergian. Alih-alih untuk menghilangkan penat sekaligus supaya terlihat seperti orang-orang pada umumnya.

Untuk saya sendiri, masih belum mengerti apa itu hari libur dan hari kerja. Saya tidak memiliki jadwal kerja juga tidak memiliki pekerjaan yang mengharuskan saya untuk duduk seharian selama 5/6 hari di ruangan. Bagi saya, pekerjaan yang saya lakoni tidak terikat oleh waktu dan tempat, saya bebas memilih hari libur dan hari kerja.

Namun saya juga ingin merasakan sensasi bepergian seperti orang-orang pada umumnya. Entahlah, sepertinya bepergian dan bermacet-macet ria di jalanan adalah liburan itu sendiri. Bukan tidak mungkin bahwa sensasi liburan itu sebenarnya tidak terletak pada tujuannya melainkan pada kemacetan.

Saat artikel ini saya tulis, Jalur Durenan-Prigi tampak terlihat macet dalam beberapa hari selama liburan. Orang-orang kota begitu banyak yang ingin berkunjung ke tempat wisata yang ada di Trenggalek tepatnya di Kecamatan Watulimo sehingga menyebabkan jalanan padat.

Memilih Tempat Liburan Watulimo - Munjungan

Saya sudah katakan bahwa saya ingin bepergian seperti orang-orang kota yang menyambangi Trenggalek, namun bukan dengan cara bepergian ke tempat-tempat orang kota. Kota bukan tempat berlibur, ia hanyalah kumpulan bangunan yang sekalipun indah, pasti ujung-ujungnya Gold (kekayaan harta benda).

Maka tidak salah jika orang kota memilih berlibur ke tempat-tempat yang ada di pinggiran, karena di sanalah tempat terbaik untuk sekedar menghela napas dalam-dalam dan menghirup udara segar. Dengan cara ini, sekembali ke kota, mereka memiliki energi positif untuk memulai menuntaskan pekerjaan yang tidak tuntas-tuntas.

Saya, Ajar, Dony, Bang Gun (bukan orang Trenggalek) merencanakan untuk pergi ke Munjungan, salah satu Kecamatan milik Trenggalek. Kali ini kami memutuskan untuk melewati jalur alternatif dari Watulimo Tembus Munjungan. Meski kabarnya jalan ini baru diperbaiki, namun pengerjaannya belum seberapa tuntas. Masih ada banyak lubang dan batu berserakan sebesar kepala lelaki dewasa.

Saya membawa motor butut Vega lawas yang baru keluar dari bengkel (suatu saat nanti akan saya tulis perjuangan menghidupkan kembali motor vega yang hampir jadi rongsokan), Ajar membawa motor GL Max kesayangannya (bahkan saya curiga ia lebih sayang motornya ketimbang wanita), dan Bang Gun (bukan orang Trenggalek) membawa motor Jupiter MX.

Dari rumah, rencananya saya hendak membonceng Mbah Dony, sedangkan Ajar dan Bang Gun, membawa motornya masing-masing. Namun sesampai di tanjakan pertigaan jalan menuju Pantai Damas, saya merasa ada ketidak beresan pada motor Vega, di tengah tanjakan, tiba-tiba mesin motor meraung dan langsung mati. Saya buru-buru menekan rem depan dan berjaga supaya motor tidak jatuh. Mbah Doni langsung meloncat menyelamatkan diri.

Motor Vega butut yang saya namai Last Vega's nyata-nyata menjadi bulian mereka, tampilannya memang elok karena baru di semprot (air brush), tapi mesin yang terpasang, masih berupa rongsokan. Selanjutnya, meski Mbah Doni sudah tidak lagi berboncengan dengan saya dan memilih dengan Ajar (karena motornya paling kuat), di setiap tanjakan, si Vega langsung mati.

Yang paling ekstrim adalah, saat mendekati bukit Marcopolo, karena tanjakannya terlalu ekstrim, si Vega mengerluarkan suara cukup keras, terdengar seperti ada yang patah, dan setelah itu, motor tidak bisa dijalankan. Saya lihat ke belakang, ternyata rantainya telah lepas dari gear disebabkan oleh besi pengatur kencang kendor rantai telah patah, inilah yang menyebabkan rantai menjadi kendor dan terlepas dari gear. Lengkaplah sudah penderitaan.

Berhubung ajar, selama hidupnya setelah menjomblo telah berjibaku dengan motor, ia paham bagaimana cara mengatasi persoalan demikian. Ia pasang rantai di posisinya dan mengencangkannya, kemudian mengganjal dengan baut. Cara ini cukup efektif untuk mempertahankan posisi rantai. Namun untuk persoalan mesin, masih saja begitu, ia mati jika melewati tanjakan curam. Namun meski demikian, disetiap kami berhenti paksa oleh vega, kami menemukan spot-spot indah untuk menikmati pemandangan laut dan pegunungan di sebelah selatan.

Dari bukit Markopolo, selanjutnya beristirahat di Bukit Angin Sepoi, kami mendapati pemandangan yang benar-benar indah. laut teluk Prigi, terlihat jelas dari atas. Pantai Damas, Pantai Prigi, Pantai Pasir Putih, Pantai Simbaronce, Pantai Cenkrong, Pantai Mutiara, Pantai Karanggoso tampak menyerupai hamparan. Antara Pantai Damas dan Pantai Prigi, terdapat gunung Kumbokarno, ia berdiri kokoh sebagai sekat di antara keduanya.

Ada cerita selanjutnya di sini: Mengagumi Keindahan Alam Jalur Watulimo - Munjungan

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar