Skip to main content

follow us

Suatu ketika istriku meradang saat melihat foto mantan pacar di HP Android milikku yang berhasil ia susupi. Ia begitu tidak terima jika diriku berurusan dengan orang-orang yang telah berinteraksi denganku di masa lalu. Dan namanya wanita, seakan tidak ada salah yang melekat padanya, meski ia salah, selalu kembali pada rumus pertama wanita tidak pernah salah.

Aku tidak menyepakati jika kehidupan berumah tangga adalah jalinan mesra tanpa cela, merujuk dari apa yang telah diucapkan mulut Rocky Gerung, bahwa pernikahan indah saat ia menjadi fiksi, dan ngeri ketika menjadi fakta. Yang terjadi selanjutnya ketika istriku menangkap basah bentuk kegenitan yang memang kusengaja, adalah berupaya untuk sekuat tenaga memunculkan amarah. Yang pertama amarah kepadaku karena tidak berusaha untuk mengerti keinginannya, dan yang kedua amarah kepada mantan pacar, karena ia kembali hadir dalam kehidupan kami.

Faktanya, istriku bukan tipikal manusia terbuka lagi cerdik dalam berpikir. Ia sangat bahagia dengan kedunguan yang ia kembangkan, dan memang ku akui, bentuk kedunguan yang demikian adalah bentuk praktik paling mujarab untuk membuat lelaki tak berkutik. Bagi manusia berpikir dan sadar diri, mendebat orang dungu adalah jalan sesat, itu hanya membuktikan bahwa pikirannya sama dengan kedunguan.

Hal ini tidak terjadi sekali, bahkan sudah berkali-kali. Misalnya saja, seorang kawan iseng mengirim foto mantan kepadaku melalui pesan Whatsapp dengan tujuan bercanda, kami sering melakukan hal-hal demikian hanya untuk membuat tawa. Namun faktanya, ketika istriku mendapati foto tersebut, ia langsung menuding bahwa diriku telah melakukan kecurangan dan dianggap mengkhianati janji cinta suci.

Tidak hanya itu saja, saking marahnya, istriku menghubungi teman yang telah mengirimkan foto tersebut dan memakinya dengan sumpah serapah khas wanita tak terdidik. Ia tidak lagi mengedepankan akal sehat, namun lebih memilih cara kotor untuk membuat malu kawanku. Hasilnya, kawanku menaruh perasaan tidak enak padaku dan perkawanan kita menjadi renggang.

Saling Menceritakan Mantan

Bagi kalian yang sedang menjalin asmara, ku ingatkan tentang hal penting dan ini harus kalian pedomani  "jangan sekali-kali menceritakan masa lalumu kepada calon pasanganmu", karena ini akan menjadi alat pertengkaran-pertengkaran selanjutnya. Dan inilah biasanya yang akan membatasi gerak langkah untuk sekedar menjalin hubungan perkawanan dengan orang-orang masa lalu.

Dahulu sebelum menikah, aku dan istri saling menceritakan masa lalu saat masih bersama mantan, kami menyebutkan satu-persatu nama mantan dan bercerita bagaimana kisah tragis (putus cinta) terjadi, meski itu menyakitkan bagi kami, namun tujuan yang ingin digapai adalah "kamulah orang yang tepat sebagai pendampingku". Cara ini cukup efektif bagiku untuk belajar menerima keadaan istri apa adanya, dan bahkan aku banyak berinteraksi dengan para mantan pacarnya.

Termasuk menerima tato nama seorang lelaki yang dahulu sangat ia cintai, terukir besar di lengan istriku. Untuk kasus ini memang butuh latihan perasaan cukup lama, karena setiap kali melihat tato tersebut, aku langsung teringat dengan kisah percintaan mereka, dan itu menyakitkan. Namun saat ini, aku bisa menerimanya dan berteman baik dengan orang tersebut.

Fakta tidak indah lain adalah, ternyata istriku tidak bisa melakukan seperti yang aku lakukan, ia tetap menaruh luka dan cemburu kepada mantan pacarku yang sekalipun aku tidak ingin hidup dengannya. Istriku tidak mau berhubungan dengan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupku dan tidak menghargai apa yang telah menjadi kesepakatan kami. Maka pertengkaran-pertengkaran kami, sering disebabkan oleh kesalahan masa lalu, yaitu saling menceritakan mantan.

Aku jadi ingin berbuat genit, misalnya, mengedit fotoku dengan mantan dan seolah-olah menggambarkan sedang berciuman dan menunjukkan pada istriku. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Seandainya masa lalu tetap dianggap sebagai sebuah kesalahan yang bisa ditiadakan begitu saja, aku ingin bisa kembali ke masa lalu dan banyak membuat kesalahan.

Pernikahan Itu Saling Memahami, Bukan Saling Memiliki

Banyak orang mengartikan bahwa hubungan lelaki dan perempuan yang terikat dalam perkawinan adalah hubungan saling memiliki. Padahal kalau hal ini dijlentrehkan lebih detail, akan menemukan bentuk paradoks yang pasti manusia tidak bisa menjalaninya dengan baik.

Sifat memiliki adalah keegoisan, karena ia berdiri atas dasar hak memiliki, hak-hak ini akan dikembangkan sesuai dengan sifat pemilik tersebut. Misalnya, kamu punya motor, karena itu milikmu, maka kamu punya hak untuk membersihkan saat motor itu kotor, dan juga memiliki hak untuk tidak membersihkan meski ia kotor. Reaksi kepada barang milik tergantung pada sifat dan sikap pemilik.

Berbeda ketika ia diletakkan dalam dasar pemikiran pemahaman. Motor yang kotor butuh dibersihkan, sebagai orang yang paham akan kebutuhan itu, maka kamu akan membersihkan motor tersebut. Ini adalah contoh hubungan antara manusia dengan benda yang jamak ditemui. Lantas jika hubungan ini dibangun antar manusia yang memiliki perasaan, tentu masing-masing membutuhkan pemahaman untuk bisa menggapai kebersamaan. 

Mungkin saja istriku menganggap diriku sebagai benda yang bisa ia kendalikan sebagaimana keinginan-keinginannya, buktinya, ia selalu tega mempermalukanku di depan umum dan memungut diriku kembali jika ia membutuhkannya.

Komunikasi Itu Penting

Hubungan baik selalu dibangun dengan komunikasi intens dan berkualitas, tanpa komunikasi, akan sulit mengembangkan sikap saling memahami dan mengerti. Saat pacaran, komunikasi adalah media untuk menguatkan atau melemahkan keyakinan antara kedua orang yang saling berhubungan, hingga muncul keputusan apakah hubungan dilanjutkan atau tidak.

Saat menikah, intensitas komunikasi antara suami dan istri harus lebih ditingkatkan supaya saling memahami, namun jika ini diabaikan, biasanya akan membentuk bom waktu yang siap meledak kapan saja ketika sudah tidak ada lagi rasa saling memahami.

Aku tidak ingat kapan terakhir istriku mengajak ngobrol, seingatku ia datang saat meminta uang belanja atau saat ia ada masalah dan tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Selebihnya, ia nampak selalu ingin dimengerti oleh apa yang ia anggap miliknya (aku). 

Saat kuajak ngobrol, ia sering mengatakan jika ia sedang ngantuk dan selanjutnya aku lebih senang ngobrol dengan imajinasiku sendiri atau dengan anak-anak. Tapi anak-anak belum mengerti persoalan orang dewasa sehingga ia hanya tertawa saja.

Sebagai orang yang senang menulis, aku suka berkomunikasi dengan siapapun. Namun itu tidak bisa kulakukan dengan istriku sendiri. Apakah aku atau dia yang salah? Yang pasti kami memiliki ego masing-masing.

------------------------------------------------

Dan setelah membaca artikel ini, apakah kamu mengira bahwa aku atau istriku tidak bahagia? Tentu saja salah, aku selalu bahagia dengan istriku dan bangga akan konsistesinya dalam mempertahankan keegoisan. Kadang ini membuat gemas dan ingin pergi sesaat, namun saat jauh, segera ingin kembali kepelukannya.

Aku menyadari, hubungan suami istri tanpa pertengkaran adalah hubungan bulshit, ia tidak akan sampai pada kemesraan yang sebenarnya. Dan ketika lama tidak bertengkar dengan istri, hubungan menjadi terasa hampa, maka kadang ketika sudah lama tidak ada pertengkaran, aku berkata pada istri "mi, yo tukaran".

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar