Skip to main content

Menumbuhkan Cinta Pada Semesta

Sulit dijelaskan memang, bagaimana caranya untuk menumbuhkan cinta kepada semesta, sedangkan kita sendiri cenderung lebih banyak mengungkapkan istilahnya saja dan terlalu naif menunjukkan betapa diri kita ini adalah makhluk yang terkungkung pada satu cara pandang, miskin referensi dan kadang terlalu egois memikirkan diri sendiri.  Cinta level semesta tak lagi terkotak pada satu dimensi saja, melainkan cintanya juga terpancar pada seluruh dimensi yang ada. Ia memberikan keadilan bagi siapapun yang berada pada cintanya.

Ini bukan hanya sekedar ungkapan belaka, melainkan reaksi terhadap suatu kejadian atau pemahaman, reaksi ini bukan sekedar melahirkan simpati atau empati, tapi memunculkan gerak tindakan untuk merespon reaksi atas reaksi. Sebagai contoh, ada anak kecil jatuh, reaksi pertama kita adalah merasa kasihan, reaksi kedua adalah timbul dorongan untuk menolong, reaksi ketiga adalah berpikir bagaimana cara menolong, dan selanjutnya sampai pada satu keputusan, apakah ada tindakan pertolongan atau malah mengurungkan tindakan tersebut.

Cinta level semesta tak lagi terkotak pada level pemikiran semacam itu, namun bisa dibuktikan dengan melakukan tindakan-tindakan atas sebuah masalah. Dan cinta ini dengan mudahnya bisa dilakukan mengikuti level yang melekat pada diri seseorang, ini bisa saja saya sebut sebagai peran. Kalau peranmu saat ini adalah manusia yang ditunjuk untuk memberikan rasa aman kepada sesama manusia, tentu wujud cintanya adalah bertindak untuk mewujudkan rasa aman tersebut.

Tak perlu membandingkan peran ini seperti perannya Tuhan, Ia kuasa atas apa yang diciptakannya, dan peran-NYA merupakan wujud cinta yang diberikan kepada semesta. Tak perlu ambil pusing dengan penjelasan ini. Gusti Alloh, memberikan hujan kepada manusia tanpa memandang apakah ia taat atau kufur kepadaNYA. Hujan tak lagi peduli apakah manusia tersebut berprofesi sebagai pejabat, kiai, pelacur, maling, karena hujan menjalankan marwah cinta semesta yang dianugerahkan oleh Tuhan, ia tidak peduli dengan profesi. Begitu pula dengan makhluk taat bernama angin, air, api.

Jika manusia diberikan kedudukan tertinggi ketimbang setan dan malaikat, tentu ada misi yang kudu dijalankan oleh manusia. Saya memiliki analogi, dan silakan bantah jika engkau tidak berkenan. Jika malaikat disebut sebagai makhluk yang tidak pernah membantah penciptanya, maka ia bisa disebut sebagai makhluk yang menjalankan keinginan-keinginan Tuhan. Sedangkan manusia, dengan segala kebebasan yang diberikan kepadanya, ia diberikan berkah berupa nafsu, dan diberikan pilihan untuk untuk mengikuti atau mengendalikan nafsu tersebut, maka manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Tuhan.

Sebuah mesin yang diciptakan untuk membuat kopi, tentu akan terus membuat kopi, karena ia tidak memiliki pilihan untuk membuat spageti. Apa yang hendak diharapkan dari mesin tersebut selain untuk membuat kopi. Namun jika mesin diciptakan untuk membuat kopi, spageti, sayur lontong, pecel lele dan ia bisa membuat apa yang sedang dibutuhkan pada waktu tertentu, maka ia cenderung bisa memenuhi kebutuhan dan membuat cinta pada mesin tersebut, atau malah mengutuknya jika ia tidak bisa membuat apa yang dibutuhkan.

Manusia memiliki kehendak atas keinginan-keinginannya namun juga dibekali sifat dasar yang berfungsi untuk mengendalikan kepribadiannya. Dalam analogi sebuah mesin, ada istilah bloatware software dan hardware, cobalah mencari sendiri pengertian tersebut supaya timbul imbal balik antara aku dan kamu.

ANALOGI MANUSIA

Bloatware manusia terletak pada hatinya, ia bersifat bebas nilai. Bagi siapa yang mampu merasakan ungkapan hatinya, maka bloatwareya masih berfungsi dengan baik. Jika kita kembalikan pada analogi anak kecil yang jatuh tersebut, saat pertama melihat momen anak kecil jatuh, reflek kita adalah ingin menolong, ia timbul dari hatinya. Dalam kejadian-kejadian yang lain, hati selalu memberikan reaksi kimia positif yang mengarahkan manusia untuk berbuat membantu. Membantu atau menolong terbebas dari nilai baik atau buruk.

Software manusia terletak pada otaknya, ia memiliki nilai dan memang berfungsi untuk menilai...

Bersambung...


HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar