Skip to main content

Puncak GL (Gunung Lanceng) Saat Sunset dan Sunrise

Saya benar-benar menjadi salah satu peserta camping yang digelar oleh Niponk di Gunung Lanceng, Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Acara ini diikuti oleh 60 peserta yang datang dari daerah lain.

Saya mengajak El Gawang (anak pertamaku) untuk ikut serta dalam acara tersebut, itung-itung untuk memberikan pengalaman pertama kepadanya mengenai bagaimana bermalam di hutan. Meski dia sendiri yang menawarkan diri untuk ikut, setelah saya beritahu perihal kemah bersama tersebut.

Saya berangkat dari Trenggalek, bersama tim nongkrong jalan Patimura, meski kami berangkat bersama, ternyata jalan yang kami lalui tidak sama. Saya, Gawang, Rifki dan Bang Gun berangkat melalui jalur Trenggalek, Kampak, Watulimo. Sedangkan Mas Cahyo serta anaknya, GIlang dan Ajar berangkat melalui jalur Trenggalek, Durenan, Watulimo.

Namun kami telah sepakat bahwa titik kumpulnya ada di rumah Roin J. Vahrudin, salah satu panitia dan anggota Niponk. Oh ya, soal bagaimana saya mengenal Niponk lebih dekat adalah dari hasil penjelasan Roin J. Vahrudin, tampaknya dia lihai mengenalkan filosofi dari Niponk. Ia bilang, ini adalah kumpulan pecinta alam yang lahir dari kampung (desa), berbeda dengan kumpulan pecinta alam yang biasa lahir dari kampus-kampus.

Saya menuju ke Gunung Lanceng (GL) bersama Gawang, namun ternyata, karena saya harus mampir di rumah Emak, mereka (rombongan dari Trenggalek) berangkat duluan. Saya terpaksa menghubungi Roin untuk mengetahui titik lokasi GL. Dari dalam speaker HP, ia mengatakan, langsung saja menuju rumah Kakap, karena di sanalah semua perserta berrkumpul.

Dari rumah kakap, kami berjalan bersama rombongan lainnya. Untuk keamanan, panitia mengharuskan peserta untuk meninggalkan kendaraannya di rumah kakap, karena di sana ada yang jaga.

El Gawang dengan semangat melangkahkan kaki bersama yang lain, beruntung ada beberapa pesert yang menyapanya, sehingga (mungkin) ia tidak merasa sendiri. Namun, beberapa menit kemudian, ia mulai menampakkan kegenitannya. Bagaimana mungkin, ia masih TK, tapi sudah senang dekat-dekat dengan cewek (ketimbang peserta lelaki) dan tidak mengeluhkan rasa capeknya. Berbeda saat ia berdekatan dengan saya, seringkali ia mengatakan capek. Sesekali ia memandang bapaknya dengan senyuman, seakan menandakan bahwa ia tak jauh beda dengan bapaknya. Aaaah, Ini harus menjadi perhatian saya ke depan.

Gunung Lanceng Saat Sunset

Tiba di lokasi, rupanya belum banyak tenda berdiri. Panitia memanfaatkan tanah yang dilapangkan untuk menampung peserta dan tenda-tenda. Memang rencananya, tempat ini akan dibuka menjadi salah satu tujuan wisata di Desa Dukuh. Tanah lapang ini ke depannya akan dijadikan sebagai tempat parkir pengunjung.


Saya tidak melihat rombongan di tempat kemah, kabar dari panitia, mereka sedang berada di puncak. Saya ajak gawang untuk pergi ke sana juga, ia berlari-lari kecil dan sesekali berhenti untuk menghela nafas.

Dan woow, sambil menahan nafas tersenggal akibat menapaki tanjakan, saya menyaksikan pemandangan yang bebas, dari atas sini (puncak GL) saya dapat melihat gugusan gunung dan hamparan laut tanpa sekat. Watulimo tampak keren dari atas sini. Coba lihat fotonya...

El Gawang, benar-benar terhibur melihat pemandangan "uapik bet, yah" ucapnya. Ia pandangi sekelilingnya, ia kenali wajah-wajah baru kawan bapaknya. Setiap kali ia merasa takjub, ia pandangi bapaknya. Ini merupakan pengalaman pertama yang ia dapatkan. Saya ingatkan dia untuk berhati-hati dan tidak terlalu berdekatan dengan jurang.





Puncak GL merupakan nama lain dari Gunung Lanceng, terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Tempat ini menjadi salah satu tempat di Desa Dukuh yang akan dijadikan tujuan wisata.

Puas menikmati sunset dari puncak GL, saya dan rombongan kembali ke tempat kemah. untuk mendirikan tenda. Mas Cahyo dan anaknya serta dibantu kawan-kawan bersiap mendirikan tenda, pun juga dengan peserta yang lain.

Adzan Magrib berkumandang, peserta duduk diam, sambil menyelami suasana khidmat berada di tengah alam belantara. Matahari mulai bersembunyi dibalik gugusan gunung, dan suara burung-burung tergantikan oleh cerewet suara jangkrik dan orong-orong. Malam ini akan menjadi malam panjang.

Menikmati Ikan Bakar dan Kopi Jimat di Puncak GL

Dalam brosur panitia telah menjanjikan kepada peserta tentang ikan bakar dan Kopi. Dan malam itu panitia benar-benar menepati janjinya. Disediakan 2 tripung ikan tropong dan rengis serta Kopi oleh mereka. Kebetulan penyedia kopi malam itu adalah Kopi Jimat plus baristanya (Rifki).

Persiapan demi persiapan dilakukan, api unggun telah dinyalakan, tempat bakar ikan terbuat dari pohon pisang yang ditata sejajar, kemudian api sisa pembakaran kayu api unggun, diletakkan dalam tempat pembakaran ikan, supaya ikan tidak kotor, panitia juga meyediakan jaring kawat, sebagai pembatas antara api dan ikan.

Panitia dan peserta berbaur menjadi satu mengelilingi sang barista dan menunggu kopi selesai disediakan. Panitia menyediakan gula aren untuk menambah rasa manis pada kopi. Beberapa orang lain, mengitari tempat pemanggangan ikan. 



Pukul 22.30, El Gawang mulai mengantuk, itu setelah ia melahap beberapa ekor ikan bakar bersama kawan-kawan kecilnya (anaknya Roin dan Anaknya Marvin). Ia memilih tidur di dalam tenda yang dibawa Najib. Saya sendiri, baru bisa terlelap sekitar pukul 03.30 dini hari. Udara yang dingin memaksaku untuk ikut masuk dalam tenda yang ditempati Gawang dan Najib.

Sunrise di Puncak GL

Selepas subuh, Kakap menyambangi tenda dan mengingatkan kepadaku perihal keinginan untuk merekam sunrise. Saya bangun mengambil tripod dan menuju puncak, saya merekam memakai handphone dengan mengaktifkan fitur timelapse. Kubiarkan kamera tersebut di sana setelah sebelumnya meminta kepada Yahman untuk menjaga kamera tersebut. Saya segera kembali ke tenda, khawatir kalau Gawang terbangun dan mendapati bapaknya tidak di sampingnya.

Dan hasil rekaman tersebut bisa kalian tonton di sini:



Dan akhirnya, tidak ada hal yang sia-sia jika kita lakukan dengan gembira. Kemping di Gunung Lanceng adalah salah satu upaya untuk membuat kenangan, supaya kelak, jika kami sudah benar-benar tidak bisa menyaksikan alam akibat kerusakan, masih ada ingatan yang bisa kami ambil kembali. Dan teruntuk anakku El Gawang, kelak engkau akan mengingat kenangan ini, dan ajaklah cucuku nanti, melangkahkan kaki hingga ke pelosok desa supaya tumbuh cinta subur di hatinya.

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar