Skip to main content

Ketika Kita Terlalu Banyak Menerima Sugesti


Sebenarnya Kita Butuh Sugesti Nggak Sih?

Percaya atau tidak percaya, itu tergantung kalian, tapi coba berpikirlah sejenak, bahwasanya di dalam cara berpikir dan berperilaku dalam hidup, tidak semua hal yang kita jalani, benar-benar dipengaruhi oleh hasil olah pikir pikiran kita sendiri. Adakalanya apa yang kita yakini, kita percayai dan kita jalani adalah merupakan hasil dari pemikiran orang lain, yang secara sadar atau tidak sadar telah berhasil mempengaruhi kehidupan kita. Hanya saya prosentasenya yang berbeda.

Pengaruh ini bisa datang dari mana saja, bisa didapatkan dari seseorang atau kelompok, bisa pula dari pemerintah. Sebenarnya tidak peduli dari mana datangnya pengaruh ini, namun yang perlu kita perhatikan bahwa, setiap kata, kalimat yang didatangkan melalui suara atau gambar bahkan video (tampilan visual) yang berpengaruh terhadap cara pandang dan cara pikir kita, disebut dengan sugesti. Sugesti di antaranya dapat hadir kepada orang sehingga menyebabkan orang tersebut tidak perlu berpikir lagi untuk meyakini pengaruh tersebut.

Contoh sugesti yang sering sampai di tengah-tengah masyarakat paling banyak datang dari media online, sebut saja TV, smartphone, radio atau datang dari media-media lain yang biasanya mudah untuk dijangkau masyarakat. Dan yang paling sering memanfaatkan media-media tersebut adalah pemilik produk. Mereka berupaya untuk mengenalkan produk kepada masyarakat untuk tujuan promosi (iklan), promosi inilah yang kerap mempengaruhi masyarakat untuk sekedar tertarik bahkan membeli produk itu sendiri. Misalnya marketplace shope, ia mampu menaikkan rating tinggi setelah menghayer black pink dalam iklan mereka. Kamu sudah tahu blackpink? Oh ya, selain pemilik modal (kapital), yang kerap muncul dimedia-media tersebut adalah pemerintah, yang tak berlaku surut tetap gencar meyakinkan masyarakat mengenai ihwal “kedewaan” mereka dalam mengurus masyarakat. Pemerintah sebenarnya bisa dikatakan sebagai pemilik modal (melalui dana promo).

Sugesti ini bebas nilai, ia bisa saja dapat memberi pengaruh baik atau buruk kepada setiap manusia, yang tidak bebas nilai adalah tujuan dari dihadirkannya sugesti tersebut, baik secara sadar atau tidak sadar. Sugesti yang dihadirkan dokter kepada orang lain (pasien) melalui obat tertentu yang bisa menyembuhkan penyakit dan dipercayai sepenuhnya oleh si pasien, ternyata dapat menyembuhkan penyakit lebih cepat ketimbang manusia yang tidak mempercayai obat tersebut namun tetap mengkonsumsinya supaya sembuh. Seperti emak mertua saya, ketika sakit flu, bliao tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan kimia, namun cukup mengkonsumsi air gula yang rutin diminum pagi sore dan malam. Nyatanya emak mertua saya bisa cepat sembuh.

Ada beberapa variable bagaimana sugesti dapat dipercayai oleh orang, yaitu, di antara cara yang paling menonjol adalah, siapa yang menghadirkan sugesti tersebut? Contohnya pada paragrah di atas, jika yang memberikan obat adalah dokter maka anda akan lebih mempercayainya ketimbang obat tersebut diberikan oleh seseorang yang bukan apa-apa, ambil contoh pengemis, menyoal siapa yang paling dipercaya berbicara obat, adalah dokter dibandingkan pengemis. Hal ini juga yang mempengaruhi kenapa rokok tetap dianggap penyakit oleh sebagian besar masyarakat, karena pernah dicap sebagai sumber penyakit oleh dokter. Kalau ungkapan rokok itu menyehatkan yang keluar dari lambe saya, ujung-ujungnya saya di byong, dinggap tidak taat petunjuk dokter. Contoh lain dalam kehidupan bernegara, bisa saja saat ini anda akan lebih mempercayai apa yang dikatakan seseorang dari pemerintahan ketimbang perkataan dari masyarakat biasa.

Contoh Lebih detailnya adalah seperti saat lalu ketika KPU menggunakan kardus sebagai media untuk menyimpan kertas suara. Negara, melalui KPU dan lembaga lain yang sah dalam penyelenggaraan pemilu, meyakinkan bahwa kardus yang mereka pakai terbuat dari bahan kuat, tidak mudah rusak, tahan air dan aman. Pahadal, sebagai masyarakat awam kita banyak menyaksikan kardus-kardus lain yang cepat rusak, tdak tahan air, mudah terbakar dan tidak jauh lebh aman dar pada kotak yang terbuat dari seng, misalnya.

Pernahkan kalian melihat film-film layar kaca produksi Indonesia, katakanlah sinetron. Tanpa kita sadari kita sering “disuruh” oleh produser untuk mensugesti diri kita sendiri ketika mereka mempertontonkan animasi –baik animasi macan, buaya atau monster—yang tidak sinkron dengan obyek lain. Mata orang awam disuguhi kualtias editing buruk dan “dipaksa” untuk meyakini bahwa itu adalah macan atau buaya sungguhan. Coba kalian bandingkan dengan kualitas yang dibuat oleh Holiwood, seperti avenger and the game, kalian tidak butuh mesugesti diri bahwa itu animasi yang baik, karena sesungguhnya sudah waw.

Terlalu banyak menerima sugesti --yang sebenarnya tidak perlu—dapat berpengaruh buruk bagi orang lain, apalagi sugesti tersebut hadir dari negara kepada masyarakat. Memang, negara dihadirkan oleh masyarakat kepada masyarakat guna memberi rasa aman, nyaman dan rasa damai bagi warga negaranya. Namun setidaknya, rasa-rasa ini harus bisa dibuktikan dengan benar, atau setidaknya jika negara ingin memberi sugesti kepada masyarakat guna menciptakan suasana kondusif, mbok ya jangan jauh-jauh dari logika masyarakat –yang notabene sebagian lain sudah mulai pintar menuding dirinya sendiri paling benar—lagi seharusnya masuk akal.

Terlalu banyak mengamini sugesti tanpa berpikir apakah itu baik, benar, bijaksana dan bermanfaat bagi kita, hanya akan memunculkan persoalan baru dimasyarakat. Percaya tanpa berpikir, adalah seburuk-buruknya hal yang diproduksi oleh manusia. Tapi ini tidak berlaku atas semua hal. Di sisi lain percaya tanpa harus berpikir itu juga penting bagi manusia, milsanya percaya bahwa setiap perkataan kyai adalah benar.

Percaya bahwa semua hoax itu buruk hingga membuat pemerintah berpikir hendak menindak siapapun yang menyebar hoaxs adalah upaya yang terlalu jauh. Tidak perlu disugesti bahwa hoaxs itu mengacam kehidupan bernegara, masyarakat Indonesia sudah sangat fahim dengan istilah “bohong” “dusta” sekaligus pandai menerapkannya. Hoaxs itu hanya berpengaruh bagi mereka yang tidak cerdas, maka untuk menanggulangi hoaxs, cara yang paling bagus adalah dengan mencerdaskan bangsa (alih-alih ini investasi besar bagi bangsa), bukan lantas memblokir, membatasi, menangkapi dan memenjarakan orang. Kalau berpikir bahwa menanggulangi berita bohong harus dengan blokir, la kenapa logika ini tidak dipakai untuk menanggulagi persebaran Bir, supaya tidak ada orang mabok, tutup saja pabrik birnya.

Saya hanya berharap, bahwa upaya mensugesti ini tidak terlalu besar dosisnya, karena sebenarnya, yang membutuhkan sugesti adalah orang-orang yang berada di bawah titik normal. Dan saya rasa, masyarakat Indonesia tidak ada yang membutuhkan sugesti, kecuali para pengambil kebjikaan di atas sana yang terkadang mengambil kebijakan yang tidak bijaksana.


HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar