Kado Sempak dari Emak

Entah apa alasannya, siang itu selepas aku bangun tidur, adikku menyambangi tempat tidur dengan semangat, katanya "Kak, dapat kado dari emak". Aku bergegas beranjak dari tempat tidur lantaran penasaran dengan ihwal kado dar emak yang dikabarkan adikku. Tapi pagi itu sekitar pukul 06.00, samar-samar aku mendengar mereka berdua merencanakan untuk pergi ke pasar sebo.

Aku menuju dapur di mana emak dan adik ku membongkar tas dan plastik yang berisi barang belanjaan dari pasar, di sana saya melihat emak memegang kotak yang tidak terlalu besar, kira-kira muat dalam dua dekapan tangan. Emak memandangku dengan sinis, mungkin ada sesuatu yang beliau sembunyikan.

Saya juga bingung, lelaki kurus yang akan dikaruniai dua anak ini masih saja menerima sebuah kado dari emak. Menghitung usiaku beserta statusku yang sudah menjadi bapak, rasa-rasanya memang sudah tidak pantas lagi menerima pemberian dari emak, justru seharusnya saya yang memberi emak, tidak malah sebaliknya. Ah semoga pemberian emak bukanlah pesan tersembunyi yang bakal membuatku malu.

Adikku, yang sudah memulai aktifitas menghidupkan api di dapur memandangiku dengan senyum licik, penuh kejutan namun kupercayai sebagai kejutan yang memalukan. Dengan mata yang belum terlalu berteman dengan cahaya mentari pagi lantara baru bangun tidur, aku menghampiri emak, ku bilang "Kado apa mak?".

Emak memandangiku, mungkin ia iba dengan kondisiku yang acak-acakan, iba dengan lelaki yang nekad kawin muda lantaran ingin punya cucu sebelum tulang punggungnya bungkuk. Atau emak iba menyaksikan anak lelaki satu-satunya belum juga menunjukkan tanda-tanda kemapanan. Sungguh ironis, sebagai anak lelaki, seharusnya aku bisa membanggakan orang tua terlebih dahulu sebelum berniat membanggakan diri.

"Ini le, sempak buatmu, kau buang saja sempakmu yang sudah usang dan robek-robek itu, jangan kamu pakai lagi sebelum emaku ini jantungan melihat sempakmu yang robek-robek, kamu ini sungguh keterlaluan".

Mak jleb, jantungku bergetar lebih kencang, aku baru terdasar jika beberapa saat yang lalu aku sengaja menjemur pakaian dalam keramat ditempat terbuka. Padahal itu tidak boleh aku lakukan, mengingat, sempak robek yang selalu kupakai merupakan salah satu sempak di antara sempak-sempak robek lain yang tidak boleh diketahui orang lain, apabila sampai diketahui orang lain, tentu akan ada hal diluar dugaan, contohnya ya pagi itu, aku dipermalukan emak di depan adik. Sungguh memalukan.

Ngomong-ngomong, cerita tentang sempak robek dikalangan lelaki lebus macam aku ini adalah hal wajar dan lumrah. Kelumprahan itu justru sering ditemukan pada jenis lelaki yang suka ngeblog, atau lelaki yang suka pergi ke gunung, atau lelaki yang jarang mandi, atau lelaki yang lebih suka memfokuskan diri untuk mengisi otak dari pada penampilannya. Aku sendiri entah berada di posisi mana. Aku hanya merasa, jika sempak bukan celana dalam yang harus dipertontonkan kepada khalayak ramai. Sempak nggak sempakan selama kita sendiri tidak mengabarkan kepada orang lain, mereka tidak akan melihatnya.

Tapi pagi itu nasibku sungguh buruk, emak sampai membelikan sempak. Padahal secara logika aku sanggup membeli sempak sendiri, meskipun jika itu aku lakukan, maka aku harus mengurangi jatah kebutuhan tembakau dua bungkus. Berarti jika aku beli sempak, maka harus menahan diri dari sedapnya asap tembakau selama dua hari. Atau itu bisa diakali dengan menurunkan gret jenis tembakau yang dihisap. Kalkulasi semacam ini seharusnya saya lakukan jauh-jauh hari sehingga emak tidak harus tahu bagaimana kondisi sempak yang selalu dipakai anak lelakinya. Tapi apalah daya, nasib memang berkata lain.

Pagi itu emak membelikanku sempak baru, sekotak berisi tiga. Berarti selama 3 tahun lagi aku tidak lagi membeli kebutuhan sempak baru, itu jika dihitung satu sempak berumur 1 tahun. Lekas aku mandi dan segera memakai sempak pemberian emak, di dalam kotak lemari yang terbuat dari atom, aku melihat sempak robek beberapa lembar, kudekati ia lalu kupegang, "Maafkan aku sempak robek, keintiman kita harus berakhir di sini, cukuplah kamu berada di lemari, sampai anak lelakiku nanti menemukanmu, mungkin dia akan tahu bagaimana cara memperlakukan sempak dengan intim".

Foto di atas adalah foto sempak Agus Mulyadi, sebagai bahan ilustrasi sempak pemberian emak yang harus aku rahasiakan

Disqus Comments