Mengamati Tingkah Pengguna Media Sosial Dalam Menanggapi Isu Harga Rokok

Isu rokok baru-baru ini menjadi trending topik di media sosial. Bukan lantaran efek negatif yang ada padanya melainkan karena adanya pemberitaan yang menyatakan kenaikan harga rokok menjadi beberapa kali lipat. Dan nyatanya, isu yang menurut saya dilontarkan oleh beberapa blogger nakal banyak akal menjadi buah bibir para penyinyir kurang akal dan mudah terpengaruh.

Isu kenaikan harga rokok bermula ketika ada salah satu organisasi yang telah melakukan riset tentang minat seseorang terhadap rokok. Dari hasil sampling mereka menemukan kesimpulan bahwa, apabila harga rokok mahal maka para penghisap rokok akan menghentikan kebiasaan merokok. Suatu kesimpulan yang dihasilkan dari riset terbatas tanpa tendensi apapun.

Namun, dikarenakan para pengguna facebook yang terbiasa latah dan terbiasa menggunjing (wani bol wedi rai), dengan sangat mudah dimanfaatkan oleh oknum blogger yang menurut saya cekatan dan lihai dalam memanfaatkan sebuah isu dengan kandungan pro kontra level sekarat. Apa maksudnya woe? Maksudnya adalah bahwa isu rokok, baik mengenai fatwa haram atau bahaya polutifnya hampir setara dengan isu ganasnya mulut jonru dan sendiko dawuhnya para pembela Om Jokowi. Isu ini sangat seksi untuk dijadikan sebagai pendulang trafik blog.

Kalau bukan populerkan.id ya sapa lagi, blogger yang mengandalkan sisi perekonomian dari google adsense ini mestinya paham bahwa trafik pengunjung sangat menentukan cpa dan cpc iklan. Apa kui mas? Ya Semacam kosakata google adsense. Wel, kalau ada informasi dari hasil riset seperti di atas berarti tinggal ngolah dikit maka akan jadi populer. Hasilnya, wow tidak bisa diremehkan. Tulisan yang biasa namun memuat judul kontradiktif pastinya mengundang pengguna facebook untuk ikut ngulik perihal berita ini.

Dari sini konspirasi mulai terjadi, kegetolan si pembuat berita dalam memviralkan postingan tulisannya melalui jebakan batman di facebook, membuat para pengamat yang memang gaptek menjadi ikut-ikutan nimbrung dan mengkait-kaitkan isu tersebut, bahkan para pemimpin negeri ini juga ingin memberikan argumen terbaiknya supaya terlihat bijak dan mbleneh.

Aduhai, jadi berhasillah sudah apa yang mereka (blogger) lakukan. Berita yang semula ilmiah tersebut menjadi berita hoak dan penuh konspirasi hanya karena ketidakjelian pengguna facebook. Misalnya begini, mereka membuat script yang dapat menyembunyikan nama asli judul blog dengan menyamarkan namamya menjadi nama media yang cukup terkenal seperti tribun (ditulis triibun) dan juga liputan6 bla bla bla. Weks, kamu yang sok peduli dengan rokok atau sedang menjadi aktivis rokok tentu mudah kejebak sama judul berita tersebut tanpa melihat dengan jeli darimana berita tersebut di tautkan. Masalahnya kamu lebih suka memakai nafsu daripada memakai akal. So begitulah, berita yang tidak perlu menjadi viral akhirnya menjadi viral.


Lantas apa yang harus dilakukan? Hem jadi begini, rokok terlepas dari pro kontra, halal haram, dan lain sebagainya tidak akan naik harga secara drastis bahkan 3 kali lipat. Ini berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, kalau ada riset mengenai perubahan sikap penghisap rokok lantaran jika ada kenaikan harga, ya itu nafsi-nafsi saja. Tapi menaikkan harga rokok justru akan membuat orang jadi doyan merokok. Orang indonesia pintar memanfaatkan peluang bro, kalau harga rokok merk A mahal, pasti akan ada perusahaan rokok rumahan yang akan memberikan alternatif rokok rasa apa saja dengan harga terjangkau. Kita pernah hidup di mana industri rokok rumahan pernah menjamur di sekitar kita. Apa ndak malah bahaya tuh philip moris.

Seorang teman berkata, jangankan rokok yang harganya 50 ribu, narkoba saja yang harga ya jutaan bisa sangat laris di Indonesia. Hahaha, masuk akal juga sih. Jadi isu rokok yang berhamburan di pelbagai media sosial itu bagi saya sangat tidak penting dan sangat tidak menggangu. Lagi pula rokok itu tidak berbahaya jika dibandingkan dengan asap kenalpot yamaha king dan knalpot vespa, coba saja hirup kedua asap tersebut lalu bandingkan sendiri, tentu asap rokok akan lebih manusiawi dibandingkan dengan asap knalpot. So, jangan rewel kalau ada berita seperti itu lagi. It is about tranding topick.

Disqus Comments