Indonesia vs Myanmar, Lifestyle Baru Para Pemain Sepak Bola Asia

Baru saja terjadi, Timnas Indonesia U-19 garapan Indra Syafri Sukses Bungkam Myanmar pada selasa, 05 September 2017 20:30.

Tim nasional Indonesia U-19 berhasil mengalahkan Myanmar dalam laga pembuka Grup B Piala AFF U-19, Selasa 5 September malam WIB.

Indonesia berhasil mencetak gol pada menit ke-72 melalui sundulan maut Egy Maulana Vikri. Dia mendapatkan bola manis yang terpantul pas dihadapanya, hasilnya jebreeeeet. Skor berubah menjadi 1-1.

Pada menit ke-93 lagi-lagi Egy berhasil menyarangkan bola ke gawang myanmar sehingga menambah skor indonesia menjadi 2-1. Hingga wasit meniup peluit tanda waktu habis, Timnas Indonesia U-19 layak untuk mendapatkan predikat pemenang dalam pertandingan Myanmar vs Indonesia.

Kemenangan ini juga membuktikan bahwa Timnas Indonesia semakin matang dalam olahraga sepakbola, terlepas dari konflik di Myanmar terkait isu genosida kaum rohingnya yang mendapat kecaman dari Indonesia, eh.

Setidaknya pertandingan malam ini dapat dijadikan sebagai obat penghilang stres masyarakat Indonesia atas kekalahan Timnas Indonesia pada ajang sea game melawan Malaysia. Kekecewaan yang menambah poin rasa ketidakpuasan atas perlakuan Malaysia sebagai tuan rumah sea game 2017.

Dari dua pertandingan yang saya saksikan ini, yaitu Indonesia vs Malaysia dan Indonesia vs Myanmar ini, ada beberapa hal yang sempat memacu adrenalin saya untuk megumpati pemain sepakbola asia, kecuali Indonesia. Sepertinya para pemain sepakbola asia mulai rajin jatuh tersungkur di menit-menit akhir pertandingan.

Kebiasaan jatuh ini semakin intens terjadi saat mereka mendapatkan posisi skor aman. Mungkin mereka lelah karena berlari selama 1 jam lebih, tapi mboknya diperhatikan, pemain-pemain profesional kelas dunia hampit tidak pernah melakukan hal itu.

Saat Indonesia melawan Malaysia pada ajang sea game penuh kontroversi di Malaysia kemarin, setelah Malaysia berhasil menjebol pertahanan Indonesia hingga menorehkan skor 1-0, intensitas penyakit kram mereka semakin menjadi-jadi. Permainan yang cukup ketat ketika masih sama-sama 0 menjadi permainan yang serba jeda. Tampak sekali lapangan hijau sepakbola menjadi ajang pesakitan bagi tim yang unggul.

Pemandangan ini jelas tidak tampak pada pemain Indonesia, baik pemain garapan Om Indra Syafri maupun gorengan Luis Milla. Sampai peluit ditiup wasit tanda waktu habis, mereka tetap berlari kencang, mengejar ketertinggalan atau mempertahankan posisi unggul.

Malam ini juga banyak sekali waktu yang dijeda oleh wasit lantaran pemain-pemain Myanmar harus dinaikkan "keranda" karena kakinya kram. Bahkan komentator penginisiasi kata "jeder, jebret" pun sempat mengatakan jika kebiasan mengulur waktu model kaki kram ini sudah menjadi lifestyle.

Tapi saya sendiri sangat bangga kepada Timnas Indonesia yang tidak menunjukkan kelelahan dan keletihan yang mengakibatkan sering jatuh. Setidaknya itu adalah bukti bahwa mereka telah dilatih untuk terus berlari, mengincar gawang lawang dan mempertahankan keamanan gawang sendiri. Kalau sudah begini masyarakat Indonesia semakin yakin bahwa Timnas sepakbola Indonesia sudah mendekati mental-mental juara. Garuda didadaku.

You Might Also Like: