Skip to main content

follow us

Sebelum membaca tulisan remeh ini, ada baiknya memahami penjelasan saya terkait kata "dungu", menurut KBBI, kata dungu berarti sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh. Kedunguan berarti kebodohan; kebebalan. Guru (dalam pengertian penyempitan makna) merupakan seorang yang bertugas mendidik di lingkungan sekolah. Dan guru dungu adalah, pendidik dilingkungan sekolah yang tidak memahami anak didiknya, tidak memahami berarti dungu.

Jadi syarat utama guru disebut dungu (secara otomatis dalam artikel ini) adalah guru (pendidik) yang tidak memahami anak didiknya. Jika guru memahami anak didiknya, ia tidak disebut dungu. Paham?

Benjamin Bloom dkk pada tahun 1956 mencetuskan konsep pengelompokan (taksonomi) yang mengupas tuntas tentang tujuan pendidikan, dalam konsep tersebut mereka membagi tujuan pendidikan menjadi tiga tujuan pendidikan, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik. Konsep ini dinamakan Taksonomi Bloom.

Tujuan Kognitif lebih menekankan pada aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Lebih singkatnya, titik tekan tujuan pendidikan ini pada persoalan pikiran, otak.

Tujuan Afektif  lebih melibatkan hati, berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

Sedangkan tujuan Psikomotorik merupakan tujuan pendidikan yang titik tekannya lebih pada aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dll. Dalam hal ini lebih banyak menilai gerak tubuh dari anak didik.

Indonesia, memiliki konsep yang mirip dengan Taknonomi Bloom, hanya saja beda istilah, namun tetap menggambarkan pola yang sama dengan konsepnya Bloom, yaitu konsep yang dimunculkan oleh Ki Hajar Dewantoro, yakni: cipta, rasa, dan karsa.


Setidaknya lembaga pendidikan memahami dan menerapkan taksonomi ini supaya dapat membuat keseimbangan pada anak didiknya. Meski, kendati banyak para pendidik memahami taksonomi ini (karena ini menjadi mata kuliah pertama di jurusan pendidikan) penerapannya masih belum seimbang. Seperti contohnya, lebih menekankan ranah kognitif ketimbang yang lain.

Jamak terjadi sekolah-sekolah yang ada di sekitar kita dipandang bagus jika mampu menghasilkan anak didik berprestasi seperti misalnya anak didik mampu menghafal pelajaran, anak didik pintar matematika, anak didik menang olimpiade atau contoh-contoh lainnya.

Meski prestasi dari ranah kognitif itu penting, namun jika tidak seimbang dengan afektif dan psikomotorik, bisa menjadikan generasi penerus yang kurang memahami kondisi sosial. Semisal, orang pintar (IQ) belum tentu bisa diterima oleh masyarakat jika ia tidak tahu diri, ia sombong dan jika ia merasa menang sendiri.

Sedangkan orang yang sopan, perkataannya baik, mudah memaafkan dan bisa di ajak kerjasama, jauh lebih mudah diterima oleh masyarakat. Orang pintar namun malas, tidak dibutuhkan oleh dunia kerja. Tapi orang rajin meski tidak terlalu pintar (pada umumnya) lebih mudah diterima kerja.

Sekolah Biar Pintar?

Salah satu hal yang saya tidak sepakat adalah, terkait anggapan bahwa sekolah supaya memiliki IQ pintar. Sekolah bukan bengkel otak yang mengubah anak didik menjadi cerdas secara IQ. Menurut saya, jika memang sekolah dianggap sebagai bengkel otak, para praktisi pendidikannya (guru) harus jauh lebih cakap dalam berpikir. Misal berpikir cakap bagaimana memilah antara pengabdian dan mencari keuntungan.

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini memiliki karakteristik berbeda, potensi berbeda dan psikologis berbeda. Perbedaan ini tidak bisa semerta-merta digeneralisir dalam kurikulum yang menyamaratakan anak didik, karena sekali lagi, setiap orang berbeda, bahkan dua anak yang lahir dari satu rahim, memiliki sifat berbeda.

Adalah hal umum jika sekolah mampu mendidik anak hingga berprestasi, misalnya nilai matematikanya bagus, sehingga memenangkan perlombaan ranah kognitif (olimpiade matematika), namun yang menjadi pertanyaan, seberapa banyak yang bisa seperti itu. Dalam satu kelas, mungkin hanya satu atau dua orang.

Kemudian atas prestasi tersebut tidak mungkin dijadikan kebanggaan sekolah atas prestasi satu dua anak didik yang pintar. Jika berpikir lebih komprehensif, seharusnya, semua anak didik pintar, menurut potensi dan kecerdasannya masing-masing. Bukan satu atau dua anak didik yang pintar lalu otomatis menjadikan seluruh anak didik menjadi pintar, karena ini merupakan pengakuan dan kebanggaan palsu.

Sayangnya, lebih banyak sekolah di sekitar kita, menerapkan proses pencarian siswa yang memiliki nilai layak (IQ bagus). Yang sebenarnya, sebelum ia dididik di sekolah tersebut, ia sudah pintar. Lembaga Sekolah tinggal memoles sedikit untuk kemudian dijadikan branding sekolah tersebut.

Sekolah-sekolah favorit lazim menerapkan hal demikian. Intinya, "jika nilai kamu tidak cukup ya tidak usah masuk sekolah sini, cari saja yang lain". Kebanggaan dalam proses pendidikan, dinilai dari ia bisa masuk ke sekolah favorit karena nilainya mencukupi. Ini kebanggaan macam apa.

Tidak Ada Murid Bodoh!

Salah seorang murid Bloom, bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Ia mengubah sedikit taksonomi gurunya dan menambahkan kategori baru berupa Creating. Menurutnya, puncak tujuan pendidikan paling tinggi adalah berkreasi sedangkan tujuan paling rendah adalah mengingat.

Kebanyakan orang, mengartikan kata bodoh sebagai keterbelakangan daya pikir seseorang, sedangkan saya, mengartikan kata bodoh sebagai sebuah kesalahan penilaian orang, kepada orang lain. Bodoh itu bukan identitas, melainkan kesepakatan. Misal, seluruh orang menyepakati, jika ada orang yang menjawab pertanyaan 1 + 1 = 3 adalah orang bodoh. Tapi orang tidak sepakat jika ada orang yang tidak bisa bermain musik, dikatakan sebagai orang bodoh. 

Padahal, kecerdasan manusia tidak hanya ditentukan oleh logika. Logika hanyalah salah satu dari 8 kecerdasan lainnya. Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School Of Education, Harvad University, Amerika Serikat, secara gamblang memilah kecerdasan manusia menjadi 8 bagian, ini dinamakan Multiple Intelligences.
  1. kecerdasan bahasa, 
  2. kecerdasan matematika dan logika, 
  3. kecerdasan spasial, 
  4. kecerdasan musik, 
  5. kecerdasan kinestetik,
  6. kecerdasan interpersonal, 
  7. kecerdasan intrapersonal, dan 
  8. kecerdasan naturalis.
Masing-masing kecerdasan memiliki cara olah sendiri, ia tidak bisa digeneralisir. Ia hanya bisa dipahami oleh pendidik yang mengerti hal tersebut. Seseorang yang tidak cepat tanggap pelajaran perkalian, belum tentu dia bodoh, mungkin saja ia cerdas dalam musik, cerdas menggambar dll. Jika yang diolah masih seputaran kecerdasan logika, anak tersebut kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Maka untuk mencari potensi tersebut, adalah kewajiban lembaga pendidikan. Karena merupakan lembaga yang seharusnya mampu mengaktivasi potensi anak didik. Lembaga pendidikan bukan lembaga yang berwenang menjudge (menghakimi) anak didik.

Menurut Lorin Anderson, tujuan pendidikan yang lebih mengutamakan menghafal (mengingat) dan memahami, merupakan tujuan pendidikan level rendah. Gambar di bawah ini setidaknya memberikan gambaran lebih jelas, terkait apa yang ia maksud.


Pertanyaannya adalah, apakah lembaga pendidikan yang seperti itu ada di sekitar kita? Atau lebih banyak lembaga pendidikan yang merujuk pada cara-cara pragmatis dalam mendidik, ia ada bukan karena untuk mendidik, tapi untuk mencari keuntungan bagi para pendidiknya? Na'udzubillahi mindzalik.

ARTIKEL KEREN LAINNYA:

HELP ME, BRO: Konten yang ada di blog ini asli karya Mas Trigus. Tidak diperkenankan mengambil isi konten tanpa izin. Traktir saya kopi melalui: Paypal atau Pulsa.
Buka Komentar